Rp 3 Triliun Terbakar Sia-sia untuk Rokok

Dilarang Merokok
Ilustrasi. Dilarang Merokok.

PADANG, Mjnews.id – Rokok bagi Udin sudah menjadi bagian dalam hidup. Ia lebih rela menahan perut lapar, daripada tidak merokok setiap hari. Setiap mendapat gaji dari pekerjaannya, uang untuk rokok sudah ia sisihkan terlebih dahulu, sebelum diberikan pada istri di rumah.

Ia tidak ingin teledor ataupun khilaf, karena kalau uang sudah sampai di tangan sang istri, alamat tak akan dapat ia minta kembali. “Bagi saya rokok teman saat sepi, saat dingin, dan saat suntuk. Susah bagi saya untuk tidak merokok,” katanya.

ADVERTISEMENT

1672718317 zd2LclJzIi3V8sEfHHWPFagJbbGo8jsG

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam satu hari kalau ia berhemat, ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok. Namun jika tidak lagi berhemat alias sedang banyak uang, ia bisa menghabiskan dua bungkus perhari. “Jika satu bungkusnya Rp15.000, berarti paling banyak saya menghabiskan uang Rp30.000 per hari,” ujarnya.

Ia mengaku sadar jika apa yang ia lakukan hanya menambah penyakit, mubazir, dan menyusahkan orang lain. Zaman sekarang, satu bungkus rokoknya bisa untuk membeli beras. “Saya sudah coba berhenti, namun ketika berkumpul dengan teman kambuh lagi,” katanya.

Sementara Acin yang sudah mengalami sesak nafas, masih betah juga untuk merokok. Padahal dokter sudah mewanti-wantinya, jika ingin cepat sembuh. Tapi dasar tak bisa ditahan, ia tetap merokok. “Kata dokter, kalau saya tidak berhenti merokok bisa-bisa saya tak sembuh sampai mati,” ujarnya.

Baca Juga  Pemkab Tanah Datar Gelar Workshop Pengembangan Usaha Kopi

Awalnya ia takut, namun kemudian balik lagi bebalnya kumat. Pikirannya mengatakan, kalau mau mati pasti mati juga. “Ya sudahlah, kalau memang harus mati dengan cara ini, pasrah saya,” tuturnya.

Dalam sehari ia mengaku bisa juga menghabiskan uang Rp30.000. Paling sedikit ia menghabiskan uang Rp15.000 per hari untuk membeli rokok. Ia pun tak mau ambil pusing dengan uang yang telah ia keluarkan dari awal merokok sampai sekarang.

Terlihat sederhana, setiap perokok menghabiskan Rp30 ribu setiap hari untuk membeli rokok. Rokok dihisap menjadi asap, berakhir sebagai abu dan tinggal sebagai penyakit di badan. Tahukah Anda, bila dihitung dengan jumlah perokok di Sumbar, beban ekonomi itu sangatlah besar.

Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar, lebih dari 1,2 juta orang merokok di daerah ini. Dengan angka itu, Sumbar termasuk nomor enam terbesar di Indonesia.

Baca Juga  DWP Provinsi Sumbar Salurkan Bantuan Korban Gempa

Bila dirata-ratakan satu hari setiap orang menghabiskan sebungkus rokok dengan harga Rp8 ribu, maka uang yang terbakar adalah Rp9,7 miliar lebih per hari. Kalau dibulatkan setahun, berarti Rp3,5 triliun. Angka itu tak ada artinya bila dibandingkan dengan biaya jaminan kesehatan di Sumbar setiap tahun yang hanya mencapai 341 miliar. Bayangkan, kalau uang rokok yang terbakar itu digunakan sebagai biaya jaminan kesehatan, entah berapa rumah sakit, Puskesmes, dan asuransi kesehatan yang bisa dinikmati masyarakat.

Beban ekonomi yang besar bagi perokok belum seberapa dibandingkan dampak kesehatan. Jutaan perokok berpotensi menjadi penderita berbagai penyakit akibat merokok. Perawatan kesehatan bagi penderita penyakit akibat merokok ini menjadi beban ekonomi tersendiri. Pemerintah daerah di Sumbar selalu rutin mengalokasikan ratusan miliar lewat APBD untuk anggaran kesehatan. Belum lagi beban biaya kesehatan yang ditanggung perokok sendiri. Dampak itu belum seberapa bila dibandingkan dengan angka kematian akibat merokok.

Di Sumbar, sampai September 2016, data berapa korban meninggal akibat merokok belum ada. Namun, secara nasional 427.948 orang meninggal akibat merokok. Artinya, 1.172 orang mati setiap hari karena rokok.