Terdakwa Dugaan Korupsi di Masjid Raya Sumbar Diperiksa

Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Data Covid-19 Sumatera Barat Berita Selengkapnya >

Update 24 Februari 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
28.837 214 27.119 642
sumber: corona.sumbarprov.go.id

loading...

Terdakwa Dugaan Korupsi di Masjid Raya Sumbar Diperiksa

Jumat, 15 Januari 2021 | 23:33 WIB Last Updated 2021-01-15T20:31:24Z

Usai diperiksa sebagai terdakwa, bendahara Masjid Raya dan bendahara lainnya, diborgol pengawal tahanan Kejati Sumbar di Pengadilan Tipikor Padang, Jumat (15/1/2021). (adi hazwar)

 

mjnews.id - Kasus dugaan korupsi di Masjid Raya Sumbar terdakwa Yenalzi Rinto, masuk agenda pemeriksaan terdakwa, Jumat (15/1/2021) di Pengadilan Tipikor Padang.


Jaksa Penuntut Umum (JPU) Basril G, Yulius Kaesar dan lrisa Nadeja dari Kejati Sumbar mencecar terdakwa dengan pertanyaan begitu juga majelis hakim yang dipimpin Yose Ana Rosalinda dibantu hakim anggota l, Mhd. Takdir dan hakim anggota ll, Zaleka Hutagalung. Bahkan Penasihat Hukum (PH) terdakwa, Riefia Nadra cs sempat menanyakan kepada terdakwa, kemana saja uang tersebut digunakan.


Terdakwa Rinto sebagai bendahara pengeluaran pembantu pada Biro Bina Sosial dari Januari 2010 hingga 31 April 2019 juga selaku bendahara Masjid Raya perode 2014 - 2019 juga selaku bendahara unit pengumpul zakat (UPZ) Tuah Sakato 2014 - 2019 dan selaku pemegang kas Panitia Hari Besar lslam 2014- 2019. “Ada dana tambal sulam karena sebagai bendahara dana APBD terjadi kebocoran,” kata Rinto.


Diakui terdakwa, dana infaq Masjid Raya dihitungnya paling tinggi pejahat Rp20.000 sedang pecahan Rp50.000 dan Rp100.000 disimpan di tempat tertentu. Uang tadi yang kecil-kecil disetor ke Bank Nagari cabang pembantu kantor gubernur dan uang besar dikumpulkan dulu sekali tiga bulan disetor ke bank, kata terdakwa pada awalnya.


Ditanya soal keterangan saksi Gusnidawati dan Teguh Willy Satria, ibu dan anak yang menerima sekitar Rp300 juta, dikatakan terdakwa untuk membayar utang.


“Tidak mungkin, utang apa pula saudara dengan saksi,” kata hakim ketua Yose Ana Rosalinda.


“Apa alasan terdakwa sewaktu mendaftar CMS di Bank Nagari untuk dana APBD memakai single user bukan multy users?” tanya JPU Yulius Kaesar.


Supaya lebih mudah dana tersebut, dan tidak bisa dikontrol. Ternyata dari fakta sidang terungkap infaq Masjid Raya sudah diselewengkan terdakwa sejak tahun 2013. Dilaporkan Rp 6 juta lebih fakta rekening koran Rp431 ribu. 2014 dilaporkan Rp83 juta lebih fakta rekening Ro4,4 juta. 2015 dilaporkan Rp61 ,5 juta lebih fakta rekening koran Rp500 ribu, 2016 dilaporkan Rp345 juta fakta rekening koran Rp108 juta. 2017 dilaporkan Rp883 juta lebih, fakta rekening koran Rp87.100 dan banyak lain perbedaan.


Dikatakan terdakwa dirinya hanya mempunyai rumah kecil KPR dan mempunyai seorang istri yang tidak bekerja dan 4 orang anak.


Namun dari perhitungan keuangan negara sebesar Rp1,754 miliar. “Uang sebesar itu untuk apa? Biasa laki-laki kalau udah banyak uang untuk perempuan,” kata hakim ketua Yose Ana Rosalinda.


Sidang ditunda Senin (25/1/2021) mendatang dengan agenda pembacaan tuntutan.


(adi)

×
Berita Terbaru Update