Arab Saudi Larang 20 Negara, Ibadah Umrah Tertunda Lagi

Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Data Covid-19 Sumatera Barat Berita Selengkapnya >

Update 24 Februari 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
28.837 214 27.119 642
sumber: corona.sumbarprov.go.id

loading...

Arab Saudi Larang 20 Negara, Ibadah Umrah Tertunda Lagi

Kamis, 04 Februari 2021 | 02:04 WIB Last Updated 2021-02-03T19:27:36Z
Suasana ibadah di Masjidil Haram.

 

MJNews.id - Pemerintah Arab Saudi resmi melarang warga negara dari 20 negara, termasuk Indonesia, masuk ke wilayahnya sejak 3 Februari 2021. Hal ini menyusul belum selesainya pandemi dan adanya varian baru Covid-19. Kontan, puluhan ribu calon jemaah umrah di Tanah Air tertunda keberangkatannya ke Tanah Suci.


Serikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) menyebut, ada sekitar 46 ribu sampai 50 ribu jamaah umrah asal tanah air yang tercatat di Departemen Agama. Seluruh jamaah ini dipastikan tidak dapat melaksanakan ibadah umrah lantaran adanya larangan masuk ke wilayah Arab Saudi. Lantas bagaimana dengan nasib uang umrah para jemaah?


Ketua Umum Sapuhi, Syam Resfiadi memohon para jemaah tidak mengambil atau menarik kembali uang umrah yang sudah masuk ke perusahaan penyelenggara umrah dan haji.


“Kepada pihak terkait, memang mohon biaya yang bisa dikembalikan ya sebaiknya ditahan agar tidak menjadi hangus, namun juga pihak langsung yang merasakan langsung dalam hal ini jemaah umrah mohon tidak meminta pengembalian uang,” kata Syam, seperti diwartakan detikcom, Rabu (3/2/2021).


Syam meminta kepada seluruh jamaah umrah agar memilih tetap melanjutkan ibadah umrah dengan jadwal di kemudian hari. Intinya, para jemaah sebaiknya tetap menunggu kebijakan yang diterapkan pemerintah Arab Saudi hingga selesai.


Menurut Syam, proses penarikan dana umrah pun akan memberatkan para penyelenggara umrah lantaran sudah ada yang menggunakannya untuk proses administrasi hingga pembayaran transportasi dan beberapa fasilitas seperti penginapan di lokasi ibadah umrah.


“Sekali lagi untuk jemaah tidak mengambil uang untuk dikembalikan, kita tunda saja mungkin sampai setelah Lebaran, setelah puasa, mungkin setelah haji, sehingga bisa dirasakan bersama dampaknya,” jelasnya.


Meski begitu, Syam mengungkapkan kebijakan mengenai pengembalian uang umrah jamaah kembali lagi ke masing-masing kebijakan perusahaan atau penyelenggara umrah. Di perusahaan yang dipimpinnya, Syam mengaku masih memberikan proses pengembalian uang umrah kepada jamaah.


Dia memperkirakan sekitar 25% jamaah umrah total yang menggunakan dari PT Patuna Mekar Jaya atau Patuna Umroh dan Haji Travel ini sudah meminta proses pengembalian.


“Jadi kebijakan masing-masing perusahaan bagaimana kita bisa mengatur itu dan memberikan pengertian kepada konsumen, agar mengerti kondisi dan menyusahkan satu sama lain,” ungkapnya.


Prihatin, Tapi Mendukung

Sementara, Kepala Bidang Umrah Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Zaky Zakaria, menyebutkan, larangan masuk Arab Saudi bagi Indonesia kontan mengundang keprihatinan. Seperti pelarangan umroh 2021 sebelumnya, aturan kali ini juga terkait Covid-19.


“Kemungkinan akibat peningkatan Covid-19 yang meningkat tajam di Indonesia. Saya sangat prihatin dengan pengumuman ini, padahal Penyelenggara Umrah atau PPIU sedang semangat semangatnya promosi program umroh,” kata Zaky.


Dalam catatan Zaky, penundaan pertama umroh 2021 terjadi pada 27 Februari 2020 ketika awal serangan pandemi Covid-19. Artinya, hampir setahun bidang usaha umroh jatuh bangun menghadapi efek pandemi. Zaky berharap ada perhatian dari pemerintah supaya tidak terjadi penutupan usaha, PHK, dan efek domino lainnya.


“Kami berharap pemerintah Indonesia memberikan perhatian ke bidang usaha umrah, haji, dan wisata ini untuk membantu dengan berbagai cara agar tidak terjadi dampak buruk pada pegawai, penyelenggara umroh, dan bidang terkait lainnya,” ucapnya.


Meski prihatin dan berisiko mengalami dampak buruk akibat larangan masuk Arab Saudi bagi Indonesia, Zaky mengatakan tetap mendukung keputusan tersebut. Dia berharap aturan ini berdampak baik bagi semua orang, sehingga perjalanan umrah bisa kembali dibuka.


Seperti diketahui, sebanyak 20 negara yang dilarang masuk ke Arab Saudi adalah Argentina, Uni Emirat Arab, Jerman, Amerika Serikat, Indonesia, Irlandia, Italia, Pakistan, Brasil, Portugis, Inggris, Turki, Afrika Selatan, Kerajaan Swedia, Konfederasi Swiss, Perancis, Lebanon, Mesir, India, dan Jepang.


Sebelum penetapan larangan masuk Arab Saudi bagi Indonesia, umrah 2021 sempat boleh diberangkatkan pada 4 Januari 2021. Perjalanan umrah tertunda pada 21 Desember 2020 saat ditemukan jenis baru virus corona yang dikhawatirkan berdampak buruk pada penyebaran Covid-19 di Arab Saudi.


Larangan Penerbangan

Sebelumnya, Kerajaan Arab Saudi mengumumkan larangan penerbangan internasional dari Indonesia dan 19 negara lainnya. Penutupan ini dilakukan karena adanya temuan varian baru virus corona yang lebih menular.


Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi mengumumkan penutupan penerbangan secara efektif berlaku mulai Rabu (3/2/2021) pukul 9 malam waktu setempat.


Mengutip AFP, dari pemberitaan CNNIndonesia.com, pengumuman itu muncul setelah Menteri Kesehatan Saudi Tawfiq al-Rabiah pada Minggu (31/1) memperingatkan bahwa mutasi baru virus corona kemungkinan akan berimbas pada pemberlakuan pembatasan jika warga dan penduduk tidak mematuhi protokol kesehatan.


Kendati demikian, diplomat dan pekerja kesehatan yang berasal dari negara-negara di atas akan tetap diperbolehkan masuk sesuai dengan tindakan pencegahan yang berlaku.


Sejak pandemi corona ditemukan, bukan pertama kali bagi Arab Saudi menutup sementara penerbangan dari luar negeri. Tahun lalu, Saudi memutuskan untuk menghentikan ibadah umrah dan haji karena pandemi corona.


Setelah sempat dibuka untuk jemaah dalam jumlah terbatas, Saudi kembali melarang penerbangan internasional pada pertengahan Desember lalu. Keputusan itu dibuat setelah muncul kasus infeksi virus corona jenis baru yang lebih cepat menular di Inggris dan sejumlah negara Eropa.


Arab Saudi menjadi negara dengan kasus tertinggi di Timur Tengah dengan laporan lebih dari 368 ribu kasus Covid-19 dengan kematian hampir 6.400 jiwa. Saudi telah mulai kampanye vaksinasi corona pada 17 Desember setelah menerima pengiriman vaksin dari Pfizer-BioNTech.


(*/dtc)

×
Berita Terbaru Update