Situs Kebudayaan Kota Sawahlunto, Kekayaan Sumbar dan Unesco

Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 6 Maret 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
29.646 247 27.982 654
sumber: corona.sumbarprov.go.id

loading...

Situs Kebudayaan Kota Sawahlunto, Kekayaan Sumbar dan Unesco

Senin, 22 Februari 2021 | 00:05 WIB Last Updated 2021-02-21T23:09:36Z
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Sawahlunto, Halomoan.

Oleh: Obral Caniago


MJNews.id - Kota Sawahlunto kaya dengan daerah tujuan wisata (DTW) objek yang menawan dan unik. Bahkan di dunia internasional pun, tak ada kota yang punya beberapa situs kebudayaan seperti Kota Sawahlunto.


Sedari dulu, situs kebudayaan di kota penghasil komoditi batu bara ini dari zaman kolonial Belanda dapat menunjang sektor pariwisata lainnya. Di negara lain tak punya objek wisata serupa dengan Kota Sawahlunto. Belum lama ini sejumlah objek wisata tambang di kota arang ini bahkan telah dinobatkan oleh Unesco sebagai objek wisata kebudayaan warisan dunia.


Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Sawahlunto, Halomoan saat dijumpai di ruang kerjanya, Rabu (17/2/2021).


Lanjutnya, karena pandemi Covid-19 kegiatan yang mengarah kepada situs kebudayaan selama tahun 2020 nyaris tak ada kegiatan yang berarti.


"Kecenderungan kegiatan dinas kebudayaan lebih banyak melibatkan masyarakat Kota Sawahlunto termasuk melibatkan orang luar dari Kota Sawahlunto seperti iven-iven," katanya. 


Kota arang ini pada tempo doeloenya merupakan daerah kolonial yang mengeruk kekayaan sumber daya alam dari dalam perut bumi emas hitam, komoditi batu bara yang dibutuhkan oleh segenap di berbagai negara di benua eropa.


Namun, kolonial Belanda mengeksploitasi batu bara bukanlah cara bim salabim semata. Tetapi Belanda banyak mengorbankan waktu. 3,5 abad lamanya sesuai sejarah yang sekarang peninggalan kaum penjajah itu diwarisi oleh anak negeri. Sehingga sekarang beberapa situs itu telah dinyatakan sebagai situs kebudayaan warisan dunia oleh Unesco. 


Menurut Halomoan mengatakan, diantaranya situs kebudayaan ini merupakan segenap bekas lobang tambang Basyuro dan gudang rangsum serta beberapa jumlah bangunan gedung sekarang terus dipelihara dan ditempati oleh Pemko Sawahlunto seperti rumah Dinas Walikota. 


Bukan hanya itu saja yang dibangun oleh Belanda. Bahkan ratusan kilometer panjang jalan buat pengangkut batu bara dengan lokomotif kereta api untuk sampai ke Pelabuhan Hemahaven, sekarang bernama Pelabuhan Telukbayur. 


Banyak kisah cinta, duka, merana dan bahkan menyakitkan karena membangun segenap situs kebudayaan ini. Banyak korban nyawa ulah kerja paksa anak negeri oleh kolonial Belanda. Dengan air mata dan darah lah penjajah membangun negeri ini. 


Kini, sejumlah situs kebudayaan itu, ada yang termasuk dalam kewenangan Propinsi Sumatera Barat (Sumbar), telah menjadi pengayaan untuk tetap dipelihara, dibenahi, dan dipromosikan ke seantero dunia pariwisata. Kita tidak boleh mengabaikannya jika Sumbar memang menjadikan sektor wisata dan situs kebudayaan sebagai pemasukan non sumber daya alam.


Sejak tambang batu bara tanah dalam tak beroperasi lagi, kereta api tak lagi meraung mengangkut benda hitam batu bara ke pelabuhan Hemahaven, inilah kekayaan yang patut secepatnya dibenahi, semoga mengarah ke sektor wisata.


Jalan kereta api selalu menanti sentuhan pemimpin negeri. Kekayaan infrastruktur jalan dan kereta api perlu dihidupkan kembali. 


Peninggalan kolonial telah kita rampas buat kekayaan anak negeri yang hanya tinggal untuk membenahi. 


Apalagi semua ruas jalan kereta api yang ada di dalam propinsi Sumbar bisa terkoneksi pula dengan pelabuhan udara bandara internasional Minangkabau. Maka uang akan mengalir melimpah ruah dari para pelancong wisatawan mancanegara (Wisman) dan lokal.


Kendala yang menghantui para pelancong tak ada jalur kereta api menuju ke pelabuhan udara dari semua daerah tujuan wisata (DTW).


Problema kemacetan lalulintas bagi perusahaan travel agency menjadi perhitungan matang untuk membawa pelancong yang datang. 


Jalan darat guna menghandle tourisme dengan menggunakan bus pariwisata sering bikin kecewa para Wisman dan perusahaan travel agency.


Betapa tidak, mau ke Kota Bukittinggi harus siap mental menghadapi kemacetan lalu lintas karena tak ada jalan alternatif yang bisa dilewati menggunakan jalur kereta api.


Sedangkan semua jalur jalan kereta api peninggalan Belanda hanya sedikit saja menyambung untuk sinergi dan terkoneksi dengan bandara BIM. Baik dari arah Pariaman, Kayu Tanam, dan Indarung, Telukbayur, Kota Sawahlunto, Padangpanjang, dan sepanjang jalan kereta api yang membentang di kawasan danau dalam Propinsi Sumbar (Danau Singkarak).


Harta peninggalan penjajahan akan dapat menjadi sumber harta kekayaan jika dipoles dan dipromosikan. Jika memang sektor wisata mau dijadikan sumber pamasukan andalan. 


Bikinlah gerbong kereta api dengan tembus pandang selebar badan gerbong. Sehingga pelancong bisa selfi dari atas kereta api saat ia melihat indahnya dan seronoknya kecantikan alam negeri kita ini. 


Seindah surga pun sektor pariwisata di Sumbar, jika tak didukung dengan infrastruktur cepat, tepat waktu, tentu kekayaan alam wisata ini seperti mimpi jika ingin memiliki intan dan permata.


Coba ingat, sudah tiga situs kebudayaan di Sumbar dinobatkan Unesco sebagai warisan kebudayaan dunia. Diantaranya, situs kebudayaan warisan dunia jalan kereta api Kayu Tanam, Taman Hutan TNKS Wilayah 2 Sumbar, dan situs kebudayaan warisan dunia peninggalan kelonial Belanda di Kota Sawahlunto. 


Alam wisata Mandeh Resort di Kabupaten Pessisir Selatan, indahnya bagaikan cantiknya seperti Honololu ke 2.


Namun sekaya apa pun alam wisata di masing daerah kabupaten dan kota di Sumbar tak digarap dengan penuh kecintaan, guna menarik minat bagi pelancong, maka sektor wisata akan menjadi kata pemanis bibir saat berorasi di depan audiens. 


Karena nyaris setiap daerah kota dan kabupaten di propinsi menyimpan pengayaan sebagai daerah tujuan wisata. Sebut saja Batusangkar dengan situs kebudayaan rumah gadang Istano Rajo. 


Masih banyak lagi, takkan habis-habisnya sebagai bahan tulisan untuk melukiskan alam Sumbar yang sedari dulu telah dikabarkan dari goresan tulisan yang terbuat dari batu kalam. 


Rang Minang Sumbar, yang ramah dengan pengunjung, sopan bertutur, santun bersapa tegur, juga sebagai pengayaan pendukung sektor wisata. 


Drama kehidupan anak negeri sawah ladang milik petani dengan hamparan yang terbentang luas bagaikan menyapa. 


Eloknya sungai membelah kota, dan danau yang berhawa sejuk, serta pinggir pantai untuk tempat berjuntai sambil bersantai. Sumbar sungguh kaya dengan alam wisatanya.


(***)

×
Berita Terbaru Update