Bulog: 106.000 Ton Beras Impor Terancam Busuk

Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 17 April 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
33.933 375 31.678 741
sumber: corona.sumbarprov.go.id


Bulog: 106.000 Ton Beras Impor Terancam Busuk

Jumat, 26 Maret 2021 | 07:02 WIB Last Updated 2021-03-27T12:58:20Z
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso.

MJNews.id - Rencana impor 1 juta ton beras yang disampaikan oleh Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi masih menjadi pembahasan panas di muka publik. Rencana itu bahkan tak didukung oleh Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas), yang meyakini produksi dalam negeri cukup memenuhi kebutuhan beras masyarakat.


Impor beras pernah dilakukan pada tahun 2018 sebanyak 1,8 juta ton. Namun, stok beras impor itu tak kunjung habis sampai sekarang dan sudah turun mutu. Bahkan, ada 200.000 ton beras impor tahun 2018 yang masih tersisa sampai saat ini, dan dari angka tersebut ada 106.000 ton yang terancam rusak atau membusuk.


“Sisa dari beras impor kurang lebih 200.000 ton, ini ada potensi rusak itu 106.000 ton beras impor. Kalau dari dalam negeri itu aman,” kata Buwas dalam webinar PDIP, Kamis 25 Maret 2021.


Buwas pun menceritakan lagi bagaimana pengalaman impor beras 1,8 juta ton yang pada akhirnya sulit disalurkan, hingga terancam membusuk.


Ia mengatakan, impor beras kala itu dikarenakan cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum Bulog hanya 600.000 ton. Sementara Bulog punya tugas menyalurkan bantuan sosial (Bansos) beras sejahtera (Rastra) sebanyak 2,6 juta ton per tahun. “Nah, akibatnya sisanya yang ada CBP 600.00 ton karena penyerapan Bulog saat itu, hanya sebesar itu, maka waktu itu diperintahkan untuk impor,” terang Buwas seperti dikutip detikFinance.


Sayangnya, pada tahun 2019 pemerintah menghentikan program Bansos Rastra menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Dalam program BPNT, Bulog tak lagi menjadi pemasok utama. Akibatnya, beras yang diimpor sulit tersalurkan dan menumpuk di gudang Bulog.


“Dengan Rastra hilang, sudah tidak lagi menggunakan CBP, Bulog kehilangan pasar. Sementara, jumlah yang ada di Bulog tetap besar,” ungkap Buwas.


Pada saat kualitas beras impor masih baik pun menurut Buwas penyalurannya sulit. Pasalnya, jenis beras impor tak sesuai dengan jenis beras yang biasa dikonsumsi mayoritas masyarakat Indonesia.


“Dalam sisa yang ada, beras di Bulog dengan 1,8 juta ton ini bermasalah impornya. Kenapa bermasalah? Berasnya tidak jelek, bagus. Persoalannya 1, jenis beras yang diimpor kebanyakan jenisnya pera. Pera itu tidak mayoritas dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia,” tutur dia.


Oleh karena itu, beras impor tersebut pun harus disalurkan dengan cara dicampur dengan beras produksi Tanah Air. “Bulog ketika menyalurkan dalam kegiatan apapun harus dicampur dengan beras dalam negeri. Paling tidak perbandingannya 1:1 agar bisa diterima masyarakat kita,” pungkasnya.


Tak Punya Gudang Khusus

Setidaknya ada 4 penyebab utama beras impor 2018 turun mutu, kemudian terancam ‘busuk’. Penyebab utama ialah Bulog tak memiliki fasilitas penyimpan beras khusus. Selama ini, cadangan beras pemerintah (CBP) disimpan Bulog di dalam gudang yang juga digunakan untuk bahan pangan lainnya.


“Yang ada saat ini penyimpanan beras di gudang bulog itu tidak spesialis gudang untuk beras. Sehingga itu mempercepat kerusakan daripada beras. Karena sebenarnya beras itu harus disimpan dalam silo dengan temperatur yang stabil. Tidak ada beras dalam waktu disimpan di karung, terus disimpan dalam gudang yang biasa. Tidak ada ventilasinya, tidak ada standarnya, tidak bisa. Ini permasalahannya,” ungkap Budi Waseso.


Ia mengatakan, penyimpanan beras yang menggunakan teknologi cocoon-lah yang bisa menyimpan beras dalam waktu lama, sehingga mutunya tak berkurang. Namun, biaya membuat fasilitas itu sangat tinggi.


Faktor kedua adalah sulitnya Bulog menyalurkan beras impor karena pemerintah menghentikan program bantuan sosial (Bansos) beras sejahtera (Rastra) pada tahun 2019. Padahal, Bulog adalah pemasok utama program tersebut, dengan kapasitas penyaluran sebanyak 2,6 juta ton per tahun.


Tak hanya itu, beras impor tersebut juga kurang cocok dengan mayoritas selera masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, beras impor tersebut pun harus disalurkan dengan cara dicampur dengan beras produksi Tanah Air.


“Beras 1,8 juta ton ini bermasalah impornya. Kenapa bermasalah? Berasnya tidak jelek, bagus. Persoalannya 1, jenis beras yang diimpor kebanyakan jenisnya pera. Pera itu tidak mayoritas dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia,” tutur dia.


Kondisi tersebut menyebabkan beras impor menganggur lama di gudang Bulog, sehingga mutunya turun. “Beras itu berupa bahan makanan. Bahan mati aja seperti kursi besi itu ada nilai turunnya apalagi ini pangan. Dan itu sudah ada peraturan begitu kita menyimpan beras 4 bulan itu bisa dinyatakan turun mutunya. Kenapa turun? Salah satunya selain itu memang secara alamiah,” ujar pria yang akrab disapa Buwas tersebut.


Lantaran cadangan beras bulog sulit keluar dan hanya tersimpan di gudang dengan kualitas seadanya, membuat beras di gudang Bulog rawan turun mutu. “Terus kenapa beras rusak? Bagaimana tidak rusak, beras itu sudah menahun ada di Bulog dengan kondisi gudang yang sangat sederhana, ya pasti rusak. Kecuali kita menggunakan teknologi cocoon. Kalau pakai teknologi itu, kita simpan 3 tahun, beras itu tidak mungkin rusak. Persoalannya satu, biayanya tinggi, tidak mungkin kita lakukan,” imbuhnya.


Saat ini, pihaknya sedang membuat sistem penyimpanan baru. Namun, bukan untuk beras, melainkan dalam bentuk gabah. Nantinya, Bulog baru akan menggiling gabah menjadi beras ketika akan didistribusikan ke masyarakat.


“Oleh sebab itu, kita sedang bangun gudang yang memenuhi standar untuk menyimpan beras. Jadi saya akan menyerap gabah, lalu kita lewatkan dryer, kita simpan di silo. Sebelum kita pakai itu ada di silo, yang ada temperaturnya. Sehingga mau disimpan 3 tahun sekali pun gabah itu tidak akan berubah kualitasnya,” tandas Buwas.


(*/dtc)


loading...



×
Berita Terbaru Update