Ini Tips Tembus Kerja di Lembaga Internasional: CV Harus Luar Biasa, Jangan Tanya Gaji

Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 19 April 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
34.226 365 31.834 747
sumber: corona.sumbarprov.go.id


Ini Tips Tembus Kerja di Lembaga Internasional: CV Harus Luar Biasa, Jangan Tanya Gaji

Sabtu, 27 Maret 2021 | 18:02 WIB Last Updated 2021-03-27T11:02:00Z
Ilustrasi. Ngelamar kerja di lembaga internasional. (pintek.id)

MJNews.id - Bekerja di lembaga internasional seperti Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) atau sebangsanya ternyata membutuhkan kandidat yang teliti, serta mengenal organisasi yang dilamarnya secara baik.


Hal itu terpapar saat webinar Diaspora Seminar: Kiat untuk Bisa Bekerja di Lembaga Internasional yang diadakan Diaspora Network Indonesia (IDN) Global pada Kamis 25 Maret 2021.


Para nara sumber webinar menggarisbawahi bagaimana peran curriculum vitae (CV) dan surat lamaran, hingga tips wawancara kerja agar bisa tembus bekerja di lembaga internasional.


Salah seorang nara sumber, Said Zaidansyah, Deputi Country Director Asian Development Bank (ADB) Indonesia mengatakan, rata-rata lembaga internasional tidak untuk pelamar “fresh graduate”, melainkan S1 dan S2 dengan pengalaman tertentu.


Menurut dia, latar belakang kampus pelamar tidak berpengaruh. Pelamar tidak harus jebolan kampus luar negeri yang bergengsi, bisa juga lulusan kampus dalam negeri, asal memiliki reputasi yang baik.


Director for Southeast Asia International Rice Research Institute (IRRI),Yurdi Yasmi, diaspora yang berkedudukan di Phnom Penh, Kamboja mengatakan jika ingin bekerja di lembaga internasional, pelamar harus menyodorkan surat lamaran yang luar biasa.


Apa saja syaratnya?


Biodata harus disesuaikan sedemikian rupa sehingga merespon kebutuhan posisi yang dilamar tersebut. Isi surat lamaran bercerita bila kita ini punya pengalaman yang tepat untuk posisi tersebut.


Jangan hanya meringkas apa yang sudah dilakukan, misal jangan hanya isi tahun ini bekerja di sini atau di sana, tapi tunjukkan apa pencapaian, misal sudah bekerja di lembaga apa selama berapa tahun dan sebagainya.


“Kita harus tunjukkan bahwa kita tahu betul lembaga itu, misal saya pernah diundang atau bekerja sama dengan seseorang di lembaga itu, dan sebagainya,” ucapnya.


Harus “zero mistake” tulisannya, sampai titik komanya pun, sebelum dikirim. “Jika masih ada kesalahan, menandakan Anda orang yang tidak teliti, tidak cocok berada di lembaga tersebut,” katanya.


Maya Juwita, Excecutive Director, Indonesia Business, Coalition for Women Empowerment (IBWCE) mengatakan, biasanya lembaga internasional saat posting lowongan pekerjaan itu memiliki “job title” yang panjang.


Dalam “job title” demikian menjadi kesempatan bagi pelamar untuk membacanya secara detail karena di situ dijelaskan pelamar seperti apa yang dibutuhkan, stakeholder-nya siapa saja dan lain-lain.


“Jika nanti dipanggil interview, itu bisa jadi persiapan juga. CV dan surat lamaran kerja yang dibuat harus di-customize berdasarkan kriteria yang dibutuhkan lembaga tersebut, seperti dalam job title,” ujar Maya.


Tips menghadapi wawancara kerja di lembaga internasional. Persiapkan diri dengan baik dan latihan, misal ngomong sendiri di handphone. Persiapan ini karena ada sejumlah pertanyaan yang bisa dipersiapkan jawabannya.


Kenali siapa saja yang akan interview sampai hasil karya mereka, refleksikan dalam proses interview. Jawab pertanyaan dengan singkat dan jelas, jangan bertele-tele, satu pertanyaan 1 menit saja jawabnya.


“Jangan sekali kali tanyakan salary/gaji, Anda harus selidiki dulu berapa kira-kira gaji untuk posisi tersebut di aneka lembaga internasional. Kalau Anda menanyakan gaji, berarti Anda tidak mengenal dengan baik lembaga tersebut,” kata dia.


Ajukan pertanyaan yang baik, jika diberi kesempatan untuk bertanya. Ucapkan terima kasih saat mengakhiri wawancara, serta kirim email ucapan terima kasih 2-3 hari kemudian.


Jika dalam wawancara ditanya soal berapa gaji yang diminta, Yurdi mengatakan ada tipsnya. Menurut dia, kita harus tahu dulu untuk posisi yang dilamar itu sudah ada standar gajinya.


“Kalau ditanya berapa gaji yang diminta, jangan keluar range-nya, misal kisaran gaji Rp 1-2 juta, jangan minta Rp 4 juta. Kita bisa bilang dari yang saya pelajari range di sini Rp 1-2 juta, saya sudah punya pengalaman selama sekian bulan di lembaga x, oleh karena itu saya boleh minta Rp 1,5 juta?” papar Yurdi.


Lebih lanjut ia menjelaskan apa yang dilihat HR dan pewawancara saat proses wawancara kerja.


Menurut Maya Juwita, kemampuan gunakan bahasa Inggris baik verbal dan tertulis sangat penting. Selain CV dan surat lamaran harus menggunakan bahasa Inggris dan tidak ada kesalahan apapun hingga titik koma, maka saat wawancara pun pelamar harus menjawab dengan tata bahasa yang baik.


“Kalau Inggris-nya beraksen tidak apa-apa karena semua orang di dunia tak ada yang sempurna, bahkan kita bisa tahu dia dari negara mana. Yang dimaksud proficiency itu dari tata bahasa, pemakaian bahasa yang baik. Ada anggapan orang Indonesia akan dimaafkan jika bahasa Inggris kurang karena bukan native, itu anggapan yang salah, sebab Inggris bahasa standar di semua lembaga internasional,” ucapnya.


(kcm)


loading...



×
Berita Terbaru Update