Kota Padang Alami Deflasi

Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 19 April 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
34.226 365 31.834 747
sumber: corona.sumbarprov.go.id


Kota Padang Alami Deflasi

Kamis, 11 Maret 2021 | 21:00 WIB Last Updated 2021-03-11T14:00:02Z

MJNews.id - Secara spasial, pada Februari 2021, Kota Padang mengalami deflasi sebesar -0,42% (mtm) menurun dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 0,10% (mtm).


Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat, Wahyu Purnama A dalam pernyataan tertulis merujuk Berita Resmi Statistik yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, belum lama ini.


Realisasi inflasi Kota Padang itu, terang dia, menjadikannya sebagai kota dengan nilai deflasi terdalam ke-11 dari total 20 Kabupaten/Kota di Sumatera yang mengalami deflasi serta menjadi peringkat ke-13 dari 34 Kabupaten/Kota yang mengalami deflasi di Indonesia.

 

Sejalan dengan Kota Padang, sebagaimana dilansir valora.co.id, Kota Bukittinggi pada Februari 2021 juga tercatat deflasi sebesar -0,11% (mtm) lebih rendah dibandingkan realisasi bulan Januari 2021 yang mencatat inflasi 0,30% (mtm). Realisasi inflasi Kota Bukittinggi menjadikannya sebagai kota dengan tingkat deflasi terdalam ke-17 dari 20 Kabupaten/Kota deflasi di Sumatera, serta peringkat ke-26 dari 34 Kabupaten/Kota yang mengalami deflasi di Indonesia.


Secara tahunan inflasi Februari 2021 tercatat sebesar 1,45% (yoy), menurun jika dibandingkan dengan realisasi Januari 2021 yang sebesar 1,63% (yoy). Sementara itu, secara tahun berjalan sampai dengan Februari 2021, Sumatera Barat tercatat deflasi sebesar -0,26% (ytd) atau lebih rendah dibandingkan realisasi Januari 2021 yang inflasi sebesar 0,12% (ytd).


"Inflasi tahun berjalan hingga Februari 2021 juga lebih rendah dibanding inflasi tahun berjalan sampai dengan Februari 2020 yang sebesar 0,40% (ytd)," ungkap Wahyu.


Deflasi Provinsi Sumatera Barat pada Februari 2021 terutama disumbang oleh deflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil sebesar -0,40% (mtm). Deflasi pada kelompok ini disebabkan oleh penurunan harga komoditas cabai merah, ikan gembolo/ikan aso-aso, telur ayam ras dan petai dengan andil deflasi masing-masing sebesar -0,29%; -0,04%; -0,04%; -0,03 (mtm).


Penurunan harga komoditas cabai merah terutama didorong oleh mulai normalnya permintaan masyarakat dibandingkan periode akhir tahun 2020 dan awal tahun 2021 yang cenderung tinggi. Pasokan yang melimpah dari hasil panen lokal pada sentra produksi di Kabupaten Agam, Solok, Limapuluh Kota, Solok Selatan dan Pesisir Selatan juga turut mendorong penurunan harga yang cukup signifikan pada Februari 2021 dibandingkan bulan sebelumnya.


Komoditas telur ayam ras mencatat deflasi yang disebabkan oleh melimpahnya pasokan di masyarakat. Sementara itu penurunan harga ikan gembolo/ikan aso-aso dan petai sendiri didukung oleh kecukupan pasokan di masyarakat dan permintaan yang tercatat stabil.


Kelompok lain yang turut menyumbang deflasi yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil deflasi sebesar -0,03% (mtm). Deflasi pada kelompok ini terutama didorong oleh penurunan harga komoditas emas perhiasan dengan andil sebesar -0,04% (mtm).


Penurunan harga emas perhiasan sejalan dengan harga komoditas emas global yang mengalami tren penurunan harga di tengah sentimen positif terhadap vaksinasi di beberapa negara sehingga turut mendorong optimisme investor pada pemulihan ekonomi global.


Deflasi pada Februari 2021 lebih lanjut tertahan oleh inflasi pada kelompok transportasi dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lainnya dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,03% (mtm) dan 0,02% (mtm).


Inflasi pada kelompok transportasi didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara oleh maskapai dengan andil sebesar 0,03% (mtm) akibat belum diputuskannya oleh Pemerintah mengenai kelanjutan pemberian subsidi pembebasan tarif pelayanan jasa penumpang pesawat udara (PJP2U) untuk maskapai pada tahun 2021.


Sementara itu kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lainnya mengalami inflasi yang disumbang oleh kenaikan biaya kontrak rumah dengan andil 0,02% (mtm). Kenaikan biaya kontrak rumah disebabkan oleh perbaikan pada harga properti residensial.


(***)


loading...



×
Berita Terbaru Update