Polda Sumbar Catat Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Turun

Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 19 April 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
34.226 365 31.834 747
sumber: corona.sumbarprov.go.id


Polda Sumbar Catat Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Turun

Selasa, 09 Maret 2021 | 05:42 WIB Last Updated 2021-03-09T20:44:11Z
Kabid Humas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Satake Bayu.


MJNews.id - Polda Sumbar mencatat kasus kekerasan pada perempuan mengalami penurunan setiap dalam dua tahun terakhir.


Kabid Humas Polda Sumatera Barat Kombes Pol Satake Bayu, Senin (8/3/2021) mengatakan kasus kekerasan terjadi pada 2019 sebanyak 31 kasus dan pada 2020 ada 27 kasus kekerasan terhadap wanita.


Ia mengatakan pada 2019 dari 31 kasus terdiri dari pencabulan terhadap anak sebanyak sembilan kasus, pemerkosaan dua kasus, melarikan perempuan ada dua kasus, kekerasan fisik dalam keluarga satu kasus.


Kemudian kekerasan dalam rumah tangga dalam bentuk penelantaran enam kasus, perzinahan enam kasus dan tindak pidana penjualan orang ada dua kasus. "Total ada 15 kasus yang telah selesai, dua kasus SP2 lidik, 10 kasus status P-21, empat kasus lidik dan 14 kasus sidik," kata dia.


Sementara pada 2020 ada 27 kasus yang masuk terdiri dari pencabulan terhadap anak lima kasus, pemerkosaan satu kasus, melarikan perempuan satu kasus, dua kasus kekerasan fisik dalam rumah tangga dua kasus.


Kemudian kekerasan dalam rumah tangga dalam bentuk pelantaran empat kasus,perzinahan empat kasus penculikan satu kasus dan tindak pidana perdagangan orang sebanyak dua kasus. Total ada enam kasus yang selesai perkara, 13 kasus masih lidik, delapan kasus SP2 lidik dan dua kasus P-21.


"Kita berharap tentu kasus kekerasan ini tidak terjadi lagi dan kami melalui Bhabinkamtibmas selalu turun ke masyarakat memberikan sosialisasi dan mengantisipasi terjadinya kekerasan," kata dia.


Sementara Kanit PPA Polda Sumbar AKP Eva Yulianti mengatakan pemahaman masyarakat tentang adanya perlindungan terhadap hak-hak mereka belum banyak dipahami sehingga membuat terjadi kasus pelecehan.


Selain itu faktor sosialisasi ke masyarakat belum intens membuat mereka membiarkan saja jika terjadi kekerasan dan lainnya "Dalam menangani kasus kekerasan kita selalu melibatkan pihak terkait seperti akademisi dan psikolog sehingga dapat lebih baik," kata dia.


(gsp/eds)


loading...



×
Berita Terbaru Update