Teror Bom Makassar di Mata KPAI, Banyak Info tak Layak Dikonsumsi Anak

Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 19 April 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
34.226 365 31.834 747
sumber: corona.sumbarprov.go.id


Teror Bom Makassar di Mata KPAI, Banyak Info tak Layak Dikonsumsi Anak

Minggu, 28 Maret 2021 | 17:25 WIB Last Updated 2021-03-28T19:54:07Z
Jasra Putra.

 

MJNews.id - Kasus bom bunuh diri yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Minggu 28 Maret 2021, membawa pilu bagi bangsa Indonesia. Dalam kondisi seperti itu, banyak informasi yang tidak layak dikonsumsi anak.

 

"Bom bunuh diri yang meledak di Makassar mem bawa pilu bangsa Indonesia, tentunya berbagai informasi yang masif dan bersileweran akan dibaca anak-anak, yang mengundang mereka bereaksi melalui berbagai pernyataan di media sosialnya," ujar Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra, kemarin, dalam pernyataan persnya, Minggu 28 Maret 2021.


Untuk itu, sebutnya, penting orang tua menghindari menyebarkan informasi yang tidak layak dikonsumsi anak, termasuk perdebatan tiada ujung di arena publik, yang dikhawatirkan membawa anak dalam perlakuan salah dan mengancam jiwanya seperti dalam saling persekusi, kekerasan gender berbasis online, bahkan menjadi berhadapan hukum.


Tren saat ini, menurut kepala Divisi Pengawasan, Monitoring, dan Evaluasi KPAi itu, orang tua sebagai yang terdekat anak sangat penting mendampingi dan menghadirkan diskusi itu di dalam ruang keluarga.


"Anak-anak mempunyai lebih dari satu akun di media sosialnya. Bayangkan bila semua akun itu mengundang reaksi anak. Untuk itu sejak dini Un dang-Undang Perlindungan Anak mengingatkan, bahwa dalam situasi seperti ini, anak-anak tidak boleh dibiarkan tanpa perlindungan jiwa dalam Pasal 76H," jelasnya.


Dikatakan, seharusnya anak-anak mendapatkan informasi yang layak, yang menempatkan mereka dalam tumbuh kembang yang maksimal. Membangun edukasi yang lebih dominan pada kepekaan nilai-nilai kemanusiaan. Karena, imbuhnya, kebutuhan mereka yang besar dalam tumbuh kembangnya menpra syaratkan kondisi dorongan dan intervensi yang bertujuan baik. Jangan sampai kebutuhan besar itu, tegasnya, dipenuhi reaksi yang berujung mengancam jiwanya.


Jasra menyebut, seringkali peredaran foto, video, pernyataan, yang tidak layak masif beredar di media sosial, bahkan berita tersebut diproduksi lagi, dengan tidak sesuai realita. AKhirnya, kata dia, menjadikan anak-anak lebih bertumbuh ke arah penyebaran kebencian ke orang lain, bahkan ke teman-temannya sendiri yang ikut menyikapinya.


"Jangan sampai, anak-anak di iring dalam konflik tak berkesudahan. Yang berakibat buruk. Untuk itu berbagai pihak seperti keluarga, sekolah, tempat-tempat pembelajaran di masyarakat, rumah ibadah punya tugas menjelaskan kembali secara baik dalam kegiatannya, seperti mengajak anak-anak bersikap tenang, mendoakan para korban, mengajarkan nilai-nilai yang dipegang bangsa Indonesia dalam hidup bersama, seperti yang terkandung pada nilai-nilai keragaman Pancasila, bahwa pemerintah kita sedang bekerja dan mengungkap peristiwa. Agar mereka teredukasi dan belajar merespon peristiwa dengan lebih baik," jelasnya.


Tokoh muda asal Pasaman Barat itu menegaskan, penting juga anak-anak mengenalkan kata maaf dalam berbagai peristiwa yang mengundang emosi. Karena, sebut dia, bila dibiarkan akan menjadi reaksi yang berlebihan dan tidak pada tempatnya, apalagi di media sosial, yang bisa menyebabkan terlibat pembicaraan yang cenderung menyesatkan dan dapat merugikan jiwanya.


(mus)


loading...



×
Berita Terbaru Update