Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 6 Mei 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
38.261 476 34.945 834
sumber: corona.sumbarprov.go.id


Waduh! 3 Juta Orang Nekat Curi Start Mudik dari Jakarta

Kamis, 15 April 2021 | 03:45 WIB Last Updated 2021-04-15T12:02:47Z
Juru bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati.

MJNews.id - Mudik sudah dilarang, namun tak sedikit masyarakat nekat untuk curi start melakukan mudik ke kampung halaman. Kementerian Perhubungan mencatat setidaknya akan ada 3 juta orang yang tetap nekat mudik meski sudah dilarang.


Juru bicara Kemenhub Adita Irawati menyatakan jumlah itu merupakan para pemudik yang berangkat dari daerah Jakarta dan sekitarnya, alias Jabodetabek.


“Kalau dari hasil survei Litbang Kemenhub, dari Jabodetabek itu ada sekitar 3 jutaan orang yang masih memilih mudik meskipun dilarang,” ujar Adita, Rabu 14 April 2021, seperti dilansir detikcom.


Data itu diambil dari survei Litbang Kemenhub tentang persepsi masyarakat terhadap pergerakan perjalanan pada masa Idul Fitri yang dilaksanakan pada bulan Maret 2021


Sementara itu, secara total estimasi jumlah masyarakat yang nekat mudik secara nasional meski sudah dilarang berjumlah 27,6 juta orang. Tujuan mudik paling banyak adalah menuju Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.


Memang untuk saat-saat ini mudik belum dilarang, berpergian ke luar kota pun sah-saja. Namun, Adita menegaskan masyarakat harus tetap mematuhi protokol kesehatan yang tercantum dalam SE Satgas Covid-19 no. 12 tahun 2021.


Dia juga mengatakan Kemenhub sudah mengimbau kepada para operator transportasi untuk tetap meningkatkan pengawasan protokol kesehatan selama masa larangan mudik belum berlaku. Hal ini dilakukan agar meminimalisir penyebaran virus Corona dari para pemudik yang curi start.


Khusus di transportasi darat, Adita menjelaskan pihaknya akan meningkatkan tes acak Covid-19 pada titik-titik keberangkatan dan juga rest area. “Di transportasi darat juga ditingkatkan random testing di titik-titik keberangkatan dan rest area,” ujar Adita dkutip detikcom.


Adita juga meminta pemerintah daerah untuk mengoptimalkan posko Satgas Covid-19 untuk melakukan pengawasan dan pengendalian lalu lintas keluar masuk masyarakat. “Pemerintah daerah, hingga lurah, dan kepala desa harus melakukan pengawasan dan sekaligus pencegahan dan pengendalian,” ujar Adita.


Sementara itu, Polda Metro Jaya sendiri sudah mulai mengetatkan pengawasan di beberapa jalur keluar masuk Jakarta. Setidaknya penyekatan sudah mulai dilakukan di 16 jalur tikus untuk keluar masuk Jakarta. “Datanya sekitar 16 titik di wilayah DKI Jakarta dan penyangga,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo.


Penyekatan di jalur tikus mudik dilakukan oleh aparat Polda Metro Jaya dan Polres-Polres. Beberapa titik jalur tikus di antaranya adalah Pebayuran, Karawang, jembatan ke arah Tanjung Pura, Karawang. “Kemudian Cibarusah yang ke arah Cianjur, kemudian ruas-ruas jalur lain yang menuju ke arah dari Tangerang menuju ke Banten,” jelas Sambodo. 


Setengah Hati

Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga, dr Windu Purnomo menyebut kebijakan pemerintah melarang mudik setengah hati. “Prinsipnya, larangan mudik dan sebagainya itu, setengah hati semua. Contohnya pelarangan mudik hanya 6-17 Mei. Orang mudik ya utamanya pekerja informal ya sebelum tanggal 6 Mei sudah mudik, bahkan ada pimpinan daerah yang malah menyarankan mudik aja sebelum 6 Mei. Ini artinya kita gak sungguh-sungguh,” ujar Windu, Rabu 14 April 2021.


Bukan tanpa alasan Windu menyebut pemerintah setengah hati. Menurutnya, pada momen Ramadhan kali ini, pemerintah justru banyak memberi kelonggaran. Di antaranya dibolehkan shalat tarawih, buka puasa bersama. “Tahun lalu Ramadhan kasus harian 400-600, sekarang 4.000-6.000. Tapi lebih ketat tahun lalu, sekarang 10 kali lipat lebih banyak malah dilonggarkan, jadi ya setengah hati,” ungkapnya.


Lebih lanjut, Windu juga menyoroti keputusan pemerintah membolehkan mudik di wilayah aglomerasi. “Di wilayah aglomerasi bisa jalan ke sana ke mari, misalnya Surabaya-Mojokerto. Lalu orang toron, Surabaya-Bangkalan. Itu kan pergerakan. Virus gak membedakan, emang virus gak nyebar kalau perjalanan Surabaya ke Bangkalan? Terus aman gitu? lalu Jakarta-Surabaya menulari gitu? ya gak. Virus itu dibawa orang. Karena dekat, gak nular, gak gitu virus, bisa nyebar kemana saja,” tegasnya.


“Sekarang relaksasi, mudik lokal lah, bioskop buka, tarawih boleh, buka puasa (bersama). Pemerintah harusnya melihat tren dunia saat ini yang kritis. Banyak kasus, negaranya COVID-19 turun, lengah dan naik. Semua karena pimpinan nasional, bagaimana sangat menentukan, lihat Brazil, India,” sambungnya.


Windu melihat, penurunan kasus di Indonesia masih semu. Karena, kondisi Indonesia saat ini masih sama dengan bulan Desember tahun lalu. “Saran saya, lihatlah perkembangan dunia, sense of crisis ini harus ada di pimpinan kita. Banyak contoh, India, kasus turun, lengah, lalu melonjak. Kita puncak Januari minggu ke-3, sekarang memang menurun, namun ini semua masih semu,” tegasnya.


Windu menambahkan, bila pemerintah masih setengah hati, keputusan kembali di masyarakat. Apakah tetap merasa euforia atau waspada dengan risiko munculnya gelombang ke-2. “Lihatlah tren dunia. Takutnya, nanti kita menghadapi gelombang ke-2 yang lebih berat,” tandasnya.


(*/dtc)


loading...



×
Berita Terbaru Update