Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 14 Juni 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
47.885 622 43.496 1.089
sumber: corona.sumbarprov.go.id


Eksistensi Belajar Daring Masa Pandemi Sebagai Suplemen

Sabtu, 10 April 2021 | 00:25 WIB Last Updated 2021-04-09T17:35:04Z

Oleh: Mutia Faizah Apriani


Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Dunia pendidikan pun ikut mendapat imbas dari pandemi ini. Proses pembelajaran yang awalnya dilakukan secara tatap muka diganti menjadi pembelajaran daring, sebagaimana yang tertuang dalam Surat Mendikbud Nomor 46962/MPK.A/HK/2020. Kebijakan ini diambil pemerintah guna menekan angka penyebaran Covid-19 di masyarakat.


Pembelajaran daring merupakan salah satu bentuk strategi pembelajaran digital yang memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran digital ini menjadi solusi tepat yang membantu proses pembelajaran tetap terlaksana dengan baik pada masa pandemi serta melatih penguasaan teknologi peserta didik dan guru.


Jika di awal masa pandemi, Mendikbud Nadiem Makarin mengumumkan pelaksanaan pembelajaran daring 100 persen, maka sejak bulan Januari 2021 beberapa daerah seperti Sumatera Barat telah membuka kembali kesempatan belajar tatap muka, namun dengan jam tatap muka yang terbatas dan dikombinasikan dengan pembelajaran daring.


Bahkan saat ini pemerintah kembali mencanangkan pelaksanaan pembelajaran tatap muka yang dimulai Juli 2021.


Lalu apakah pembelajaran digital harus dihapuskan? Apakah pembelajaran digital sudah tidak berguna lagi?


Jawabannya adalah tergantung pada keputusan pemerintah dan guru sebagai aktor utama dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah.


Sebenarnya pembelajaran digital tidak harus dihapuskan secara keseluruhan namun tetap dimanfaatkan sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi guru dan peserta didik.


Menurut Munir (2017) dalam bukunya yang berjudul “Pembelajaran Digital” menyatakan bahwa pembelajaran digital memiliki tiga fungsi. Fungsi pertama yaitu sebagai suplemen (tambahan), artinya peserta didik diberi kebebasan untuk menerapkan pembelajaran digital atau tidak, namun jika dilaksanakan maka menambah pengetahuan dan wawasan peserta didik itu sendiri.


Sedangkan fungsi kedua, pembelajaran digital sebagai komplemen (pelengkap) artinya pembelajaran digital dapat melengkapi dan memperkuat materi pelajaran yang diajarkan di sekolah seperti menampilkan video terkait materi yang tidak dapat ditampilkan di kelas.


Sementara itu, fungsi terakhir pembelajaran digital adalah sebagai substitusi atau alternatif proses pembelajaran yang disesuaikan dengan waktu dan aktivitas pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran digital dengan pembelajaran tatap muka atau sepenuhnya menerpakan pembelajaran digital.


Berdasarkan ketiga fungsi tersebut, dapat diketahui bahwa pembelajaran digital memiliki eksistensi yang tinggi baik pada masa pandemi, new normal mapun dalam pembelajaran tatap muka yang dicanangkan di semester depan.


Saat masa pandemi, pembelajaran digital berfungsi sebagai substitusi atau alternatif utama pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Sedangkan di masa new normal, pembelajaran digital memiliki fungsi sebagai komplemen yang melengkapi pembelajaran tatap muka karena pembelajaran tatap muka hanya dilakukan 50 persen dan pembelajaran digital 50 persen.


Sementara itu, pembelajaran tatap muka di semester depan seperti yang dicanangkan pemerintah, menempatkan pembelajaran digital memiliki fungsi sebagai suplemen yang menambah wawasan dan pengetahuan peserta didik setelah belajar tatap muka di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran digital sangat berguna dan tidak perlu dihapuskan demi terlaksananya proses pembelajaran yang menyenangkan.


Penulis Mahasiswa Magister Pendidikan Fisika UNP


(***)


loading...

Iklan Kiri Kanan





×
Berita Terbaru Update