Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 17 Juni 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
48.441 628 44.295 1.108
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Pandemi, Laba BUMN pun Terjun Bebas

Jumat, 04 Juni 2021 | 14:00 WIB Last Updated 2021-06-04T07:00:00Z
Menteri BUMN Erick Thohir.


JAKARTA, MJNews.id - Kinerja BUMN terpukul karena dampak pandemi Covid-19. Hal ini terlihat dari laba bersih BUMN yang turun tajam.


Menteri BUMN Erick Thohir menyebut, laba bersih BUMN tahun 2019 sebesar Rp 124 triliun. Kemudian, laba tersebut turun menjadi Rp 28 triliun.


“Sebagai catatan saja, kalau kita lihat dari konsolidasi awal karena ini belum diaudit bahwa jelas memang pandemi ini sangat terdampak juga dengan BUMN, yang tadinya kita punya net profit, tapi ini tentu ada net profit bukan langsung dibagi tapi dipakai lagi buat BUMN lain, itu yang tadinya Rp 124 triliun di tahun 2019 di tahun ini mungkin konsolidasi hanya Rp 28 triliun,” katanya dalam rapat kerja dengan Komisi VI, Kamis 3 Juni 2021.


Kemudian, pendapatan BUMN juga mengalami penurunan tajam. “Revenue turun dari Rp 1.600 triliun menjadi Rp 1.200 triliun,” tambahnya.


Dia menuturkan, angka tersebut akan lebih nyata jika terkonsolidasi semua dalam buku dan diaudit. Erick mengatakan, pada tahun ini untuk pertama kalinya mempunyai buku Kementerian BUMN secara konsolidasi.


“Kira-kira bulan September kita bisa persentasikan anggota dewan untuk konsolidasi buku yang sudah dirapikan,” katanya.


Menurutnya, konsolidasi ini penting untuk memperbaiki kinerja perusahaan pelat merah. Hal ini seperti halnya dilakukan pada PLN dan Telkom.


“Karena itu salah satunya kenapa kita ingin project management office supaya data base BUMN bisa menjadi satu, kita bisa melihat pembukuan ataupun keperluan capex-capex (capital expenditure/belanja modal) lain yang tidak diperlukan untuk di-cut seperti apa yang kita lakukan di PLN ataupun di Telkom. Kalau kita lihat Telkom sendiri profitabilitas naik itu bagaimana capex kita tetap tekan,” katanya, seperti diwartakan detikcom.


Sementara, saat sebelum pandemi, Menteri BUMN Erick Thohir justru optimis menargetkan kenaikan laba BUMN dari Rp180 triliun menjadi sekitar Rp300 triliun hingga 2024. Erick menyatakan akan berusaha mengejar target meski kondisi sulit.


“Ya, kita berharap di tahun 2024 laba bersih ini bisa Rp 300 triliunan. Kita berusaha, tidak mudah karena kondisinya, tapi kita tingkatkan hampir double,” ujarnya di Komisi VI DPR Jakarta, Februari 2020 lalu.


Selain itu, Erick menargetkan kontribusi BUMN ke pendapatan negara naik 50% di tahun 2024.


“Lalu juga kontribusi kepada negara di mana selain dividen, pajak, yang namanya royalti dan lain-lain yang sekarang itu Rp 400 triliunan kita coba tingkatkan Rp700 triliun lebih. Ini yang ujungnya ingin capai,” tutupnya.


Tambah Anggaran

Sedangkan saat rapat dengan Komisi VI DPR Kamis kemarin, Menteri BUMN Erick Thohir mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp33,34 miliar tahun depan. Sesuai keputusan bersama Menteri Keuangan dan Menterian PPN, pagu indikatif Kementerian BUMN tahun 2022 sebesar Rp208,2 miliar.


Erick menjelaskan, pagu indikatif Kementerian BUMN tahun 2022 mengalami penurunan dibanding alokasi tahun ini sebesar Rp 244,8 miliar. Dia bilang, anggaran kementerian terus mengalami penurunan sejak 2020.


“Adapun kalau lihat tahun ini Rp 208,2 miliar ini dibagi menjadi 2 program. Satu program dukungan Rp152,9 miliar dan program pengembangan dan pengawasan Rp 55,3 miliar,” katanya.


Erick mengatakan, tambahan anggaran Rp 33,34 miliar ini di antaranya untuk penggantian lift barang sebesar Rp 2 miliar.


“Memang sebagai catatan terbesar, memang gedung yang sekarang kami tempati sudah cukup tua, karena itu memang kita mengusulkan ada tambahan perbaikan di gedung, satu untuk lift barang sebesar Rp 2 miliar,” katanya.


Kemudian, anggaran tersebut digunakan untuk pemakaian panel surya atap gedung sebesar Rp 6 miliar. Hal ini sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).


“Sesuai arahan Bapak Presiden mengurangi efek rumah kaca dan Permen ESDM Nomor 16 Tahun 2019,” katanya.


Anggaran itu digunakan untuk implementasi smart building yang memakan anggaran sekitar Rp14,1 miliar.


“Yang lainnya untuk smart building yaitu Rp14,1 miliar, bagaimana kita implementasikan ya udah building menjadi otomation di situ ada control energy management dan pengembangan sistem integrasi peningkatan IoT. Kita mau air bersih semua dijadikan satu sistem. Lainnya Rp 8,2 miliar adalah pembangunan aplikasi project management office dan portofolio management,” kata Erick Thohir.


(***)

loading...

Iklan Kiri Kanan





×
Berita Terbaru Update