Notification

×

Adsense2

Adsense3

Info Perkembangan Virus Corona

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 19 Juni 2021


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
48.817 603 44.887 1.120
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Realisasi Vaksin yang Rendah Ganggu Pemulihan Ekonomi Nasional

Kamis, 03 Juni 2021 | 16:00 WIB Last Updated 2021-06-03T09:00:00Z
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

JAKARTA, MJNews.id - Ekonomi nasional masih dibayangi krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19. Rendahnya realisasi vaksinasi dan terjadinya kenaikan kasus pasca libur Lebaran dikhawatirkan mengganggu pemulihan yang baru terjadi.


Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022 bersama Komisi XI DPR RI, Rabu 2 Juni 2021.


“Di satu sisi confidence ada indikator pemulihan. Di sisi lain kita melihat secara cukup realistik kondisi 2022 yang akan dipengaruhi oleh kondisi vaksinasi dan Covid yang punya korelasi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi,” katanya.


Sri Mulyani menjelaskan, saat ini vaksinasi baru berlangsung 300 ribu per hari. Dibanding sebelum Lebaran ada peningkatan, tetapi masih jauh dari target 1 juta per hari untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) tahun depan.


“Ini berarti kalau kita bicara 2022, kalau ini tidak terkejar akan terjadi dampak karena berarti Covid masih akan terjadi elemen yang menentukan juga,” tuturnya, seperti diwartakan detikfinance.


Dari sisi laju pertumbuhan kasus baru Covid-19, Sri Mulyani menyebut beberapa daerah menunjukkan tambahan kasus yang cukup besar pasca libur Lebaran 2021. 


“Sekarang di 5.797 kasus harian. Wisma Atlet keterisiannya dari 15% terendah yaitu bulan Mei awal, sekarang sudah 33,6%, harus kita betul-betul waspadai. Juga di beberapa daerah terutama di Sumatera dan Kalimantan kenaikannya cukup pesat, kita lihat Riau kasus hariannya itu kurvanya tajam sekali. Aceh, Sumbar, Kalimantan Barat juga menunjukkan kenaikan,” bebernya.


“Kalau tidak nanti bisa terjadi kondisi seperti Maret lalu, dimana harus pengetatan lagi dan akan mempengaruhi kegiatan ekonomi dan proyeksi ekonomi,” tambahnya.


Sebelumnya, Pimpinan Rapat Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Said Abdullah mengungkapkan optimisnya dimana fase krisis ekonomi terburuk bagi Indonesia saat ini sudah lewat. Dia menyebut, fase tersebut telah terjadi pada kuartal II-2020 yang realisasinya minus 5,32%.


Saat ini, dikatakan Said, realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah berada pada tren menuju zona positif. Di mana pada kuartal I-2021 realisasinya minus 0,74%.


“Pertumbuhan ekonomi nasional terus menunjukkan tren perbaikan dari waktu ke waktu. Bahkan pertumbuhan ekonomi di triwulan I tahun 2021 sudah mendekati angka positif, walaupun masih mengalami kontraksi sebesar -0,74%,” kata Said dalam rapat kerja bersama pemerintah, Senin 31 Mei 2021.


Selain dari sisi tren pertumbuhan ekonomi, Said mengungkapkan beberapa indikator yang membuat ekonomi dalam tren perbaikan juga terlihat dari indeks keyakinan konsumen, indeks ekspektasi konsumen, dan purchasing managers index (PMI) pada April 2021 yang sudah mencapai angka 54,6.


Begitu pula dengan aktivitas perdagangan global juga mencapai level tertinggi sejak Agustus 2019. Sedangkan harga komoditas global terus menunjukkan tren kenaikan, bahkan telah lebih tinggi dari level sebelum pandemi.


“Perkembangan positif tersebut menunjukkan adanya sinyal kuat, terjadi perbaikan pada sisi ekonomi dan bisnis, seiring dengan meningkatnya permintaan baru, termasuk dari luar negeri,” ujarnya.


(*/dtc)

loading...

Iklan Kiri Kanan





×
Berita Terbaru Update