Mulai Hari Ini Ada Vaksinasi Individu Berbayar, Sekali Suntik Rp 439.570
×

Adsense

MGID

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 3 Agustus 2021


Positif Kasus Aktif Sembuh Meninggal
73.727 13.899 58.286 1.542
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Mulai Hari Ini Ada Vaksinasi Individu Berbayar, Sekali Suntik Rp 439.570

Senin, 12 Juli 2021 | 11:00 WIB Last Updated 2021-07-12T11:21:03Z

ilustrasi suntik vaksin

Jakarta, MJNews.ID - Mulai hari ini, Senin 12 Juli 2021, PT Kimia Farma Tbk membuka klinik vaksinasi individu secara resmi. Bagi yang ingin melakukan vaksinasi mandiri tersebut harus merogoh kocek Rp 439.570 untuk satu orang sekali vaksin.

Vaksinasi individu tersebut ditandai dengan soft launching Vaksinasi Gotong Royong (VGR) Individu selama dua hari pada Jumat dan Sabtu (9-10 Juli 2021) lalu. Langkah ini kemudian menuai kritikan sejumlah kalangan.

Wakil Menteri BUMN Pahala N. Mansyuri menyatakan, Vaksinasi Gotong Royong (VGR) Individu akan mempercepat pembentukan kekebalan komunal (herd immunity) sehingga pemulihan perekonomian nasional dapat berjalan lebih cepat.

“Pelayanan Vaksinasi Individu oleh Kimia Farma Group ini merupakan upaya untuk mengakselerasi penerapan Vaksinasi Gotong Royong dalam membantu program vaksinasi Indonesia untuk mencapai herd immunity secepat-cepatnya. Kimia Farma sebagai bagian dari Holding BUMN Farmasi berkomitmen untuk berkolaborasi dan bersinergi dengan seluruh pihak untuk mempercepat vaksinasi nasional baik melalui Vaksinasi Gotong Royong Perusahaan maupun Individu,” ujarnya saat meninjau pelaksanaan VGR Individu di Klinik Kimia Farma Senen, Jakarta Pusat, Sabtu 10 Juli 2021.

Vaksinasi Gotong Royong individu ini sejalan dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 19 Tahun 2021 tentang perubahan atas Permenkes No. 10/2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19.

Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, Verdi Budidarmo menjelaskan pada tahap awal program ini baru menyentuh 6 kota dengan 8 klinik. Namun secara perlahan KF akan memperluas jangkauan itu, termasuk ke pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar.

Tarif vaksin individu ini telah diatur sebelumnya dengan perkiraan biaya sebagai berikut:
Harga vaksin: Rp 321.660 per dosis
Harga jasa: Rp 117.910 per dosis

Total untuk satu dosis adalah Rp 439.570. Pemberian vaksin Covid-19 membutuhkan dua dosis, sehingga harga vaksin dan jasa menjadi Rp 879.140 per orang.

Vaksinasi gotong royong untuk individu menggunakan jenis vaksin yang berbeda dari vaksinasi program pemerintah.

“Sinopharm ya,” kata juru bicara vaksinasi Covid-19 Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi saat ditanyai merek vaksin yang digunakan untuk skema individu di Kimia Farma.

Tanggapan Wakil Rakyat
Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi BUMN, Mufti Anam, mengingatkan dua catatan penting terkait pelaksanaan vaksinasi gotong royong individu tersebut.

Pertama, BUMN Farmasi harus mampu menata fokus dengan baik karena pada saat bersamaan juga harus menunaikan tugas yang sangat penting, yaitu percepatan produksi dan distribusi vaksin program (vaksin gratis) serta obat-obatan terapi Covid-19.

Mufti menjelaskan, program vaksin individu ini pasti peminatnya cukup banyak, dan bisa menyegarkan cash flow BUMN Farmasi karena bayar langsung di tempat.

Dengan kuota awal di 8 gerai Kimia Farma, dan asumsi biaya sesuai ketentuan maksimal, maka ada uang masuk Rp 747 juta per hari. Belum lagi nanti kalau jaringan penyedia vaksin berbayar ini ditambah.

“Tentu itu cukup menggiurkan, namun saya minta jangan gara-gara vaksin individu ini kemudian BUMN Farmasi berkurang fokusnya untuk menyediakan vaksin program yang gratis dan obat-obatan terapi yang sangat dibutuhkan rakyat,” papar Mufti kepada media, Minggu 11 Juli 2021.

Hal tersebut, kata Mufti, penting untuk diingatkan karena jaringan Bio Farma maupun Kimia Farma punya tugas berat lain.

“Bio Farma produksi vaksin gratis. Kimia Farma memproduksi sebagian obat terapi dan distribusi obat terapi Covid-19 dari produsen lain, antara lain ivermectin, oseltamivir, remdesivir, favipirafir yang semuanya butuh fokus dan ketangkasan untuk segera terdistribusi dengan baik ke masyarakat dan merata,” jelasnya.

Catatan penting kedua, lanjut politisi PDI Perjuangan itu, adalah kewajiban Kimia Farma untuk menjaga standar etik tertinggi dalam program vaksinasi berbayar individu.

Mufti mengingatkan kasus alat tes antigen bekas yang dilakukan oknum Kimia Farma yang telah menghebohkan publik nasional. “Jangan sampai ada lagi pihak Kimia Farma yang bermain-main mengambil keuntungan dalam penyediaan vaksin individu ini,” ujarnya.

Mufti juga meminta agar ada standar etik pelayanan yang tidak melukai rasa keadilan di masyarakat. Khusus untuk vaksinasi gotong royong, Mufti meminta Kimia Farma jangan sampai melakukan layanan di rumah konsumen.

“Sesuai aturan, vaksinasi gotong royong harus di faskes. Kimia Farma jangan kemudian membuat inovasi marketing dengan model seperti homecare, rakyat akan marah kalau melihat ada vaksinasi di rumah-rumah orang kaya. Ini saya ingatkan betul,” ujarnya.

YLKI: Tidak etis
Sementara Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan program vaksinasi berbayar tidak etis dan harus ditolak. Apalagi itu dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

“Vaksin berbayar itu tidak etis di tengah pandemi yang sedang mengganas. oleh karena itu, vaksin berbayar harus ditolak,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu 11 Juli 2021.

Kebijakan itu dinilai hanya akan membuat masyarakat bingung dan malas untuk melakukan vaksinasi Covid-19. 
“Yang digratiskan saja masih banyak yang malas (tidak mau), apalagi vaksin berbayar dan juga membingungkan masyarakat, mengapa ada vaksin berbayar dan ada vaksin gratis. Dari sisi komunikasi publik sangat jelek,” tuturnya.

Vaksin berbayar juga dinilai bisa menimbulkan ketidakpercayaan kepada masyarakat. Bisa saja orang jadi berpandangan bahwa yang berbayar kualitasnya lebih baik dan yang gratis lebih buruk.

“Di banyak negara justru masyarakat yang mau divaksinasi Covid-19 diberikan hadiah oleh pemerintahnya. Ini dengan maksud agar makin banyak warga negaranya yang mau divaksin, bukan malah disuruh membayar,” imbuhnya.

Oleh karena itu, YLKI mendesak agar VGR (vaksin berbayar) untuk kategori individu dibatalkan. Kembalikan pada kebijakan semula, yang membayar adalah pihak perusahaan, bukan individual.

Bantah cari untung
PT Kimia Farma Tbk sendiri menepis jika perusahaan hanya cari untung dari pelaksanaan program vaksinasi gotong royong individu. Kimia Farma menyatakan, pada prinsipnya perusahaan mendukung program pemerintah.

Kemudian, untuk komponen sudah terbuka dan sudah dikaji lembaga independen. “Jadi pada prinsipnya kita ini mendukung, tidak ada untuk komersialisasi dan sebagainya, seperti yang disampaikan Pak Bambang tadi, semuanya sudah terbuka baik itu dari sisi komponen harga dan sebagainya dan sudah dilakukan review oleh lembaga independen,” kata Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno dalam konferensi pers, Minggu (11/7).

“Sehingga kami salah satu BUMN itu mendukung untuk percepatan dan untuk perluasan daripada vaksinasi gotong royong, sehingga bukan untuk melakukan komersialisasi,” tambahnya.

Sekretaris Perusahaan PT Bio Farma (Persero) Bambang Heriyanto mengatakan, harga vaksin telah diatur oleh pemerintah. Kemudian, struktur harganya pun sudah jelas.

Menurutnya, tidak ada yang ditutup-tutupi dari pelaksanaan vaksinasi gotong royong individu ini.

“Untuk harga, saya kira sudah ditetapkan dalam keputusan Menteri Kesehatan, harga sudah dilakukan juga atensi atau review dengan BPKP, strukturnya harganya sudah terbuka, dibuka dengan jelas. Jadi saya kira tidak ada yang ditutupi termasuk banyak isu margin berapa, di situ sudah ditetapkan dengan seluas-luasnya, seterbuka mungkin,” ungkapnya.

(***)
loading...

Iklan Kiri Kanan



Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update