Sumbangan Rp 2 Triliun tak Berwujud, Anak Akidi Tio Diperiksa Polisi
×

Adsense

Adsense Mobile

Adsense

Sumbangan Rp 2 Triliun tak Berwujud, Anak Akidi Tio Diperiksa Polisi

Selasa, 03 Agustus 2021 | 10:00 WIB Last Updated 2021-08-03T03:00:00Z


Dana sumbangan fantastis Rp 2 triliun diserahterimakan secara simbolis kepada Kapolda Sumatera Selatan
Dana sumbangan fantastis Rp 2 triliun diserahterimakan secara simbolis kepada Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Eko Indra Heri pada Senin (26/7) lalu di Ruang Rekonfu Polda Sumsel. (ist)

Jakarta, MJNews.ID - Polisi memeriksa anak Akidi Tio, Heriyanti, terkait sumbangan Rp 2 triliun yang hingga sekarang tidak juga ada wujudnya. Polisi ingin memastikan sumbangan sebanyak itu benar atau ada kendala dan lain sebagainya.

Kasus ini bermula ketika keluarga Akidi Tio mempublikasikan hibah dana Rp 2 triliun untuk penanganan Corona. Sumbangan tersebut diberikan oleh keluarga Akidi Tio yang mengklaim diri sebagai pengusaha dari Aceh.

Dana fantastis tersebut diserahterimakan secara simbolis kepada Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) Irjen Eko Indra Heri pada Senin (26/7) lalu di Ruang Rekonfu Polda Sumsel.

Dalam kegiatan itu, hadir pula Gubernur Sumsel Herman Deru dan Danrem Garuda Dempo (Gapo) Brigjen TNI Jauhari Agus Suraji, Kadinkes Provinsi Sumsel Lesty Nurainy, serta para pejabat utama Polda Sumsel lainnya.

Heriyanti dijerat pasal penghinaan kebangsaan. “Status tersangka, inisial H sudah kita amankan di Polda. Sekarang penyidik sedang menyelidiki motif, karena akan kita kenakan dengan undang-undang nomor 1 tahun 1946, pasal 15 dan 16,” ujar Dirintelkam Polda Sumsel, Kombes Ratno Kuncoro, Senin 2 Agustus 2021.

Hal itu disampaikan dalam konferensi pers bersama Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, di Palembang. Ratno menyebut aksi Heriyanti membuat kegaduhan. “Karena membuat kegaduhan,” tuturnya.

Berikut pasal yang dimaksud:

Pasal 15
Barang siapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga, bahwa kabar demikian akan atau mudah dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya dua tahun.

Pasal 16
Barang siapa terhadap bendera kebangsaan Indonesia dengan sengaja menjalankan suatu perbuatan yang dapat menimbulkan perasaan penghinaan kebangsaan, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya satu tahun enam bulan.

Ratno mengatakan kasus ini berawal dari dua tim yang dibentuk oleh Kapolda Sumsel, Irjen Eko Indra Heri, setelah menerima sumbangan secara simbolis pada Senin (26/7). Salah satu tim itu punya tugas mengusut asal usul duit Rp 2 triliun itu.

“Bapak Kapolda membentuk dua tim. Satu tim untuk menyelidiki kebenaran atau asal-usul komitmen yang akan diberikan. Tim kedua adalah untuk mengelola supaya jangan sampai terjadi polemik terhadap sumbangan tersebut yang jumlahnya memang semua menyatakan jumlhanya fantastis, Rp 2 triliun,” ucapnya yang dikutip detikcom.

Sebagaimana diketahui, Heriyanti bersama dokter keluarga Akidi Tio, Hardi menyerahkan bantuan Rp 2 triliun secara simbolis atas nama keluarga Akidi Tio ke Polda Sumsel. Bantuan itu diterima oleh Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri.

Pemberian dana hibah triliunan itu disaksikan Gubernur Sumsel Herman Deru dan Dandrem Garuda Dempo (Gapo) Brigjen TNI Jauhari Agus. Penyerahan dana diserahkan keluarga Tio kepada Kapolda Sumsel Irjen Eko untuk penanggulangan Covid-19. Terutama kepada warga yang terdampak PPKM, yang saat ini tengah diberlakukan, Senin (26/7).

Namun, berselang seminggu, putri Akidi Tio, Heriyanti menyandang status tersangka terkait bantuan ini.

Belum Tuntas Dikirim
Bantuan bernilai fantastis tersebut diketahui belum tuntas dikirim. Dana belum selesai dikirimkan karena membutuhkan proses panjang.

Menurut Hardi, dana bantuan itu awalnya mau diberikan melalui cek. Namun, rencana itu batal karena nominalnya terlalu besar dan butuh pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Tadinya mau dikasih cek, karena besar ya mungkin ditransfer. Prosedur tidak bisa begitu saja, harus tahu OJK juga, transfer ke tim nanti,” klaimnya.

Dia mengaku sempat menyarankan ke keluarga Akidi Tio agar bantuan diberikan berupa peralatan medis. Namun, karena alasan kesibukan, bantuan akhirnya diberikan dalam bentuk uang. “Saya bilang, lebih baik ini dalam bentuk innatura (barang). Tapi mereka pengusaha-pengusaha sibuk semua, jadi pengin beres saja, ya,” katanya.

Akidi Tio disebut bekerja di bidang usaha perkebunan dan bangunan. Hal itu masih disampaikan oleh dokter Hardi Dermawan.

“Pengusaha bangunan, traso. Ada usaha perkebunan juga, tapi itu urusan keluarga. Ini hanya kedekatan saya sama keluarga pasien,” ujar dokter Hardi saat wawancara dengan wartawan, Selasa (27/7).

Hardi mengaku kenal Akidi sejak puluhan tahun lalu. Akidi wafat pada 2009 dan dimakamkan di Palembang. “Saya hubungan hanya antara dokter sama pasien saja. Tak ada hubungan lain, bisnis juga tidak ada, murni pasien dan dokternya yang sudah puluhan tahun kenal,” katanya.
Hardi mengatakan ada salah satu anak Akidi yang ikut memberikan bantuan ke Kapolda, Senin (26/7) kemarin. Ia adalah Erianti, yang datang mewakili keluarga.

“Almarhum ini ada anak tujuh orang, yang ikut kemarin Erianti. Uang diberikan untuk pengendalian Covid-19 dan kesehatan karena keluarga prihatin melihat ini,” kata Hardi.

Bantah Jadi Tersangka
Polda Sumsel beda pernyataan terkait status anak Akidi Tio, Heriyanti, soal sumbangan Rp 2 triliun. Humas Polda Sumsel kini membantah Heriyanti sudah jadi tersangka.

“Statusnya saat ini masih proses pemeriksaan,” kata Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Supriadi, di Mapolda Sumsel, Senin 2 Agustus.

Wartawan mengkonfirmasi kembali pernyataan Dirintel Polda Sumsel, Kombes Ratno Kuncoro, yang menyebut Heriyanti sudah menjadi tersangka. Kombes Supriadi membantah. 
“Belum,” jawab Supriadi.

Ia juga membantah Heriyanti ditangkap, melainkan diundang. “Pada hari ini Ibu Heriyanti kita undang ke Polda bukan kita tangkap, kita tidak menangkap. Kita mengundang untuk memberikan klarifikasi terkait rencana penyerahan dana Rp 2 T,” kata Kombes Supriadi.

Supriadi menjelaskan Heriyanti diperiksa Dirkrimum. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat kalau tidak ada kendala, bisa diselesaikan pemeriksaannya. Kita undang ke Polda Sumsel, ini masih dalam proses pemeriksaan,” imbuhnya.

(***)
loading...

Iklan Kiri Kanan



Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update