Yuka Snack, Biar Juragan Kembang-kempis Asal Karyawan tak Menangis
×

Adsense

Adsense Mobile

Adsense

Yuka Snack, Biar Juragan Kembang-kempis Asal Karyawan tak Menangis

Sabtu, 14 Agustus 2021 | 01:30 WIB Last Updated 2021-08-13T18:54:33Z


Yuka Snack
Yuka Snack.

MAGELANG, MJNews.ID - Akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai, hampir semua para pelaku UMKM mengalami dampaknya. Bahkan tak jarang yang mengalami gulung tikar alias bangkrut.

Begitu juga yang dialami oleh pengusaha kripik tahu yang satu ini. Namanya Karyadi (47). Karyadi adalah pemilik "Yuka Snack" yang memproduksi berbagai macam kripik olahan dari tahu, sehingga kripiknya lebih dikenal dengan nama kripik tahu yuka. 

Bagi orang Magelang, kripik tahu yuka tidaklah asing lagi. Di samping karena pemiliknya yang murah senyum tapi juga karena kripik tahu yuka ini rasanya bikin ketagihan. Adapun macam-macam jenis kripik yang dihasilkan adalah kripik tahu belah, kripik tahu mono dan pilus tahu dengan kemasan yang berbeda-beda pula.

Kripik tahu yuka ini sangat pas buat oleh-oleh ataupun untuk jamuan tamu jika kita mempunyai hajatan. Untuk cemilan tiap hari pun sangatlah tidak membosankan.

Mengawali usahanya dari tahun 2004, yang semula hanya dikerjakan secara kecil-kecilan hingga sekarang sudah sampai besar dengan dibantu karyawan sebanyak 55 orang. 

Ditemui di tempat usahanya, Jum'at 13 Agustus 2021, di Tidar Campur RT. 004 RW. 001 Kelurahan Tidar Selatan, Kecamatan Tidar Selatan, Kota Magelang, Jawa Tengah, Karyadi mengatakan bahwa kripik tahunya itu pasarannya sudah sampai ke beberapa kota diantaranya Magelang, Cirebon, Bandung, Jakarta, Metro Lampung, dan bahkan sudah sampai ke Luar Negeri yaitu Korea. Tapi untuk Korea, saat ini berhenti karena adanya pandemi Covid 19.

Disampaikan juga bahwa dulu sebelum adanya pandemi Covid-19, dalam sehari bisa menghabiskan kedelai 700-750 kg, tapi sekarang paling-paling hanya bisa menghabiskan 350 kg kedelai, itupun tidak setiap hari seperti dulu.

Jadi dengan adanya pandemi Covid 19 ini produksi berkurang hingga separo lebih. Padahal harga bahan baku seperti kedelai dan minyak juga naik. Bahkan untuk biaya operasional kadang Karyadi nombok.

Namun demikian Karyadi tidak berkeinginan untuk mengurangi karyawannya, karena Karyadi merasa kasihan kalau sampai dirumahkan.

"Meskipun saya "kembang-kempis", yang penting karyawan tidak menangis" kata Karyadi mengakhiri.

(YK)
loading...

Iklan Kiri Kanan



Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update