Alianse BEM Sumbar Gelar Aksi di Depan Kantor Gubernur, Ini Tuntutan Mereka
×

Adsense

Adsense Mobile

Adsense

Alianse BEM Sumbar Gelar Aksi di Depan Kantor Gubernur, Ini Tuntutan Mereka

Sabtu, 25 September 2021 | 03:30 WIB Last Updated 2021-09-24T21:10:48Z


Alianse BEM Sumbar Gelar Aksi di Depan Kantor Gubernur
Alianse BEM Sumbar Gelar Aksi di Depan Kantor Gubernur, Jumat 24 September 2021. (desrian eristha)

PADANG, MJNews.ID - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumbar, menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Sumbar, Jumat 24 September 2021.
 
Dalam aksi tersebut juga ikut petani dari Pasaman Barat dan Agam. Petani menyampaikan aspirasinya terkait dengan penguasaan lahan oleh perusahaan.

Dalam aksi ini mahasiswa menuntut kesejahteraan petani. Mereka meminta komitmen pemerintah dalam mensejahterakan petani.

Selain itu, mahasiswa juga menuntut pemerintah agar menghentikan laju alih fungsi lahan pertanian. Karena makin hari lahan pertanian makin banyak berubah menjadi pemukiman.

Kemudian, tuntaskan penyelesaian konflik agraria dan pentingnya pembangunan pertanian berkelanjutan. Lalu, mendesak membangun food estatate hulu hingga hilir. Mahasiswa meminta resolusi tersebut ditandatanganioleh gubernur.

“Kami meminta pemerintah Provinsi Sumbar meningkatan kesejahteraan pertanian,” sebut Koordinasi Lapangan Aksi, Reza Kusuma.

Hingga pukul 17.30 WIB, mahasiswa masih bertahan di depan kantor Gubernur Sumbar. Mahasiswa menuntut bertemu dengan gubernur atau wakil Gubernur Sumbar agar bisa menerima aspirasi mereka langsung.

Tampak mahasiswa juga berupaya masuk pekarangan kantor gubernur dengan mendorong pagar yang dijaga ketat petugas.

Untuk menerima aspirasi, perwakilan 15 orang diterima oleh Kepala Kesbangpol Sumbar, Jefrinal Arifin. Nampak juga Kepala Dinas Pertanian Sumbar, Syafrizal.

Dalam kesempatan itu, Jefrinal Arifin menyebutkan dirinya siap menerima aspirasi mahasiswa dan petani. Untuk perwakilan dapat menyampasikan aspirasi dengan tertib.

“Saya sampaikan, Gubernur Mahyeldi sangat ingin bertemu dengan adik-adik mahasiswa dan petani. Karena ada tugas ke Jakarta, maka Gubernur dan Wakil Gubernur tidak bisa hadir di sini,” sebut Jefrinal.

Untuk itu, Jefrinal mengatakan terkait dengan komitmen Pemprov Sumbar dalam meningkatkan kesejahteraan petani, Pemprov Sumbar menjadikan sektor pertanian program unggulan.

Kepala Dinas Pertanian Sumbar, Syafrizal menjelaskan, Pemprov Sumbar sangat komit untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Pemprov memiliki program berkelanjutan dengan pertanian organik.

“Yakinlah adik-adik mahasiswa, Pemprov Sumbar sangat berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Pemprov Sumbar punya banyak program untuk memperhatikan petani,” ujarnya.

Program itu, di antaranya, dengan memberikan bantuan bibit pada petani. Memberikan bantuan alat pertanian (alsintan). Termasuk menambah lahan pertanian dengan pembukaan lahan baru.

“Kita sama-sama berniat memajukan petani. Meningkatan pendapatan mereka,” ujarnya.

Setidaknya, ada sembilan tuntutan mahasiswa Aliansi BEM Sumbar, di antaranya, meminta Pemprov Sumbar meningkatkan pelayanan jaminan pasca panen dan kapasitas petani.
Pemprov Sumbar untuk percepatan penyelesaian konflik agraria dan penguatan kebijakan agraria di Sumbar. Serta menegakkan hak azazi petani dan masyarakat adat.

Kemudian menuntut pemerintah untuk menghentikan kriminalisasi petani. Pemerintah untuk laksanakan kebijakan pembangunan pertanian berkelanjutan.
Menuntut pemerintah untuk meningkatkan akses petani terhadap informasi dan teknologi. Menuntut pemerintah untuk meningkatkan tata kelola pemerintah yang kolaboratif dan sinergi, baik pemerintahan kabupaten/kota. Lalu, menanggulangi permasalahan kematian ikan dan pembangunan tambak di pesisir pantai.

Selanjutnya mendesak pemerintah untuk membuat resolusi dan memperbaiki tata kelola pertanian di Sumbar. Mendesak pemerintah untuk membuat peraturan alih fungsi lahan pertanian.

Kemudian, menuntut pemerintah dengan memperhatikan dampak negatif program food estate dari hulu hingga hilir.

Mahasiswa membubarkan diri setelah pukul 18.00 WIB. Sesuai dengan waktu yang dibolehkan Undang-undang dalam menggelar aksi.

(yse/eds)
loading...

Iklan Kiri Kanan



Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update