Kerugian Garuda Indonesia Membengkak Jadi Rp 12,8 Triliun
×

Adsense

Adsense Mobile

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 26 September 2021


Positif Kasus Aktif Sembuh Meninggal
89.140 1.401 85.625 2.114
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Kerugian Garuda Indonesia Membengkak Jadi Rp 12,8 Triliun

Rabu, 01 September 2021 | 17:30 WIB Last Updated 2021-09-01T11:20:30Z

Garuda Indonesia

JAKARTA, MJNews.ID - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) semakin kesulitan untuk keluar dari kerugian. Bahkan rugi bersih BUMN ini bertambah besar di semester I-2021 ini.

Melansir laporan keuangan perusahaan lewat keterbukaan informasi, Selasa 31 Agustus 2021, GIAA di periode 6 bulan pertama 2021 mengalami rugi bersih US$ 898,65 juta. Jika dirupiahkan kerugian tersebut mencapai Rp 12,85 triliun (kurs Rp 14.300).

Rugi bersih itu lebih besar 26% dari torehan kerugian di semester I-2020 sebesar US$ 712,72 juta.

Bengkaknya rugi Garuda Indonesia juga disebabkan anjloknya pendapatan usaha perusahaan dari US$ 917,28 juta di semester I-2020 menjadi Rp 696,8 juta.

Penurunan pendapatan paling besar dari penerbangan berjadwal yakni turun dari US$ 750,25 juta menjadi US$ 556,53 juta. Meskipun jumlah beban usaha Garuda Indonesia turun dari US$ 1,64 miliar menjadi US$ 1,38 miliar.

Total aset perusahaan juga mengalami penurunan dari posisi akhir 2020 sebesar US$ 10,78 miliar menjadi US$ 10,11 miliar di akhir Juni 2021.

Total liabilitas Garuda Indonesia juga malah meningkat dari US$ 12,73 miliar di akhir 2020 menjadi US$ 12,9 miliar di akhir Juni 2021.
 
Sebelumnya diberitakan, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk melakukan penutupan (likuidasi) satu cucu usaha yang berada di bawah PT GMF Aero Asia (GMFI) Tbk. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari efisiensi untuk menjaga kinerja keuangan perseroan.

Satu cucu usaha yang ditutup itu adalah PT Garuda Energi Logistik Komersial (GELK). Itu merupakan usaha di bidang perdagangan suku cadang dan mesin pesawat udara, sewa guna usaha suku cadang dan mesin pesawat udara, perdagangan umum, penyediaan energi listrik, distribusi bahan bakar minyak (BBM), serta pengelolaan limbah.

"Sejak 17 Juni 2020 GELK telah menghentikan kegiatan operasional sebagai persiapan proses pelaksanaan likuidasi dan pembubaran GELK," demikian tertulis dalam Laporan Keuangan Konsolidasian GMFI 31 Desember 2020 dan 2019, kemarin.

Padahal GELK baru didirikan pada 4 Februari 2019. GMFI selaku induk usaha mempertimbangkan kinerja GELK baik finansial maupun operasional, yang dianggap masih sangat tergantung kepadanya.

"Perseroan mempertimbangkan adanya langkah-langkah efisiensi guna menjaga performa kinerja Keuangan Garuda Indonesia Group dan Perseroan," kata manajemen GMFI menjelaskan alasan likuidasi GELK.

Penutupan atau likuidasi perusahaan tersebut juga merupakan pelaksanaan kebijakan Kementerian BUMN, yakni tentang Penataan Anak Perusahaan atau Perusahaan Patungan di Lingkungan BUMN sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri BUMN Nomor SK-315/MBU/12/2019.

Dengan penutupan cucu usaha Garuda Indonesia itu, kegiatan yang selama ini dilakukan GELK seperti pengadaan suku cadang dan mesin pesawat dilakukan oleh unit di internal GMFI. Sebagian besar utang GELK kepada pihak lain diambil alih oleh GMFI dan selebihnya dinegosiasikan oleh GELK sendiri dengan pihak kreditur.

"Perseroan diperkirakan akan mengambil sebagian dari utang GELK (>60%), menyesuaikan dengan hasil negosiasi GELK dengan kreditur. Sebagai informasi, negosiasi antara GELK dan kreditur masih berlangsung hingga saat ini," ujar manajemen GMFI.

Karena Pandemi
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengakui perusahaannya memang telah terdampak pandemi Covid-19. Mengingat pergerakkan bisnisnya mengandalkan mobilitas masyarakat dalam bepergian dengan pesawat.

"Tidak dapat dipungkiri bahwa pemberlakuan pembatasan mobilitas masyarakat seiring melonjaknya kasus Covid-19 di Tanah Air telah berdampak signifikan terhadap keberlangsungan usaha jasa transportasi udara, tidak terkecuali bagi kami di Garuda Indonesia yang secara bisnis fundamental mengandalkan mobilitas masyarakat," kata dia dalam keterangannya, Selasa 31 Agustus 2021.

Dia mengungkap, perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar US$ 696,8 juta atau turun 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Pendapatan usaha semester I-2021 tersebut dikontribusikan oleh pendapatan penerbangan berjadwal sebesar US$ 556,5 juta, penerbangan tidak berjadwal US$ 41,6 juta dan pendapatan lainnya US$ 98,6 juta," ungkapnya.

Kemudian, beban usaha pada semester I-2021 tercatat turun 15,9% dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu yakni dari US$ 1,6 miliar menjadi US$ 1,3 miliar.

"Penurunan beban usaha perseroan juga turut ditunjang oleh berbagai langkah strategis efisiensi yang tengah ditempuh di antaranya melalui langkah renegosiasi sewa pesawat hingga restrukturisasi jaringan penerbangan melalui penyesuaian frekuensi rute-rute penerbangan," tuturnya.

Namun seiring dengan pelonggaran dalam Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 di sejumlah wilayah di Indonesia, Irfan optimis penerbangan dalam negeri akan berangsur pulih seperti periode sebelum penerapan kebijakan PPKM.

"Adapun jumlah penumpang Garuda Indonesia saat ini telah menunjukkan adanya tren peningkatan positif dimana rata-rata jumlah trafik penumpang harian berhasil meningkat hingga lebih dari 50% dibandingkan pada saat periode penerapan PPKM level 4 beberapa waktu lalu," terangnya.

"Dengan adanya peningkatan aktivitas masyarakat, Garuda Indonesia akan terus mengoptimalkan aksesibilitas layanan penerbangan melalui penambahan frekuensi dan rute sesuai dengan permintaan sebagai bagian dari upaya kami dalam mendukung mobilitas masyarakat Indonesia, khususnya pengguna jasa transportasi udara," tambah Irfan.

Irfan mengungkap pihaknya akan terus membuat strategi untuk memulihkan bisnis perusahaan.

(***)
loading...

Iklan Kiri Kanan



Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update