Parlemen itu Harus Ribut, Jika Sepi Artinya Ada Persekongkolan
×

Adsense

Adsense

Info Covid-19 Sumatera Barat Selengkapnya >

Update 25 September 2021


Positif Kasus Aktif Sembuh Meninggal
89.110 1.501 85.502 2.107
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Parlemen itu Harus Ribut, Jika Sepi Artinya Ada Persekongkolan

Sabtu, 04 September 2021 | 18:00 WIB Last Updated 2021-09-04T11:00:00Z

Fahri Hamzah
Fahri Hamzah.

JAKARTA, MJNews.ID - Wakil Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah menyebutkan bahwa indikator suksesnya dinamika negara, adalah apabila rakyat merasa ada keributan di ruang sidang Parlemen. Sehingga rakyat tak harus mengisi ruang sidang ‘Parlemen Jalanan’.

“Jika kalian sepi, kami cemas karena artinya ada persekongkolan. Kalian sekongkol rakyat tawuran,” sebut Fahri dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Jumat 3 September 2021

Fahri pun bertanya, mengapa rakyat yang sudah nyoblos dan mengorbankan biaya pemilihan umum (Pemilu) trilyunan rupiah, lalu menggaji wakilnya yang kini duduk nyaman di Parlemen, masih harus kelimpungan bahkan menjadi korban?

“Mengapa rakyat tidak istirahat urus politik dan fokus cari kehidupan? Karena yang diberi amanah lalai dan sibuk pencitraan. Rakyat, harusnya sudah berhenti berpolitik dan gesek-gesekan setelah pemilu dan nyoblos. Tetapi sayangnya gesekan-gesekan tersebut masih terus terjadi sampai rakyat tidak bisa hidup tenang,” katanya.

Soal masih lalai dan sibuknya para wakil rakyat di Parlemen melakukan pencitraan, menurut mantan Wakil Ketua DPR RI ini ini, karena sistem perwakilan absen, kongresional yang tak dimengerti oleh parpol yang sudah duduk dapat fasilitas, gaji dan sekaligus imunitas atau kekebalan.

“Kita rakyat tidak harus bertengkar pasca pencoblosan. Politik seharusnya kembali normal setelah masa kampanye. Biar mereka, terutama yang menyebut diri partai oposisi yang bertengkar melawan eksekutif dan pendukungnya, bukan kita. Mereka enak berantem dapat duit, lah kita?” sendirnya lagi.

Diingatkan Fahri bahwa sistem demokrasi bekerja, membagi fase-fase jadwal pemilu dan masa tenang, dan anggota Dewan yang telah dipercaya mewakili rakyat lewat pemilu, digaji untuk bekerja dalam sistem itu.

“Disuruh berantem ya kalian berantem dong. Pakai semua fasilitas yang telah kami berikan. Jangan malah ajak kami keroyokan. Mana kerja kalian? Kami rakyat sebenarnya pengen nonton saja sesekali, malam-malam atau pagi-pagi, sebuah panggung politik yang seru dan mencerdaskan, juga menyehatkan kehidupan dan perekonomian,” katanya.

Tapi sayangnya, lanjut politisi ari Nusa Tenggara Barat (NTB) itu, semua diam, menyebut diri oposisi tapi ngomel tidak karuan. Akhirnya rakyat dipaksa ikut pertengkaran. Padahl dalam sejarah demokrasi, semakin seru panggung negara dan dinamika di antara cabang-cabang kekuasaan, rakyat hidupnya tambah senang.

“Lihat Taiwan, atau negara-negara tetangga yang mapan, Parlemen nya tawuran tapi rakyat makmur nggak ketulungan. Lah kita malah rakyat tawuran di pinggir jalan. Sudahlah, masa ginian aja nggak paham. Dan jangan sekali-kali nyalahin kami yang kasi jabatan dan gaji kalian. Kami kerja di luar sistem, jangan bilang kami ikutan, kami hanya rakyat penonton panggung kalian, tidak bisa apa-apa kecuali teriakan di pinggir gelanggang. Sekian!” tegas Fahri Hamzah. 

Menanggapi kritikan eks koleganua di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, Mardani Ali Sera mempersilahkan untuk terus mengkritik, yang pasti pihaknya akan terus mengawal pemerintah. "Monggo saja yang mau komen. Kita terus kawal pemerintah agar tidak korupsi," katanya.

Menurut Ketua DPP PKS ini, oposisi tidak harus marah atau bising, yang terpenting terus kritis dan konstruktif. "Fokus kita kerja jaga pemerintah agar bersih dan baik bagi rakyat. Nggak harus marah dan bising. PKS akan jadi oposisi yang kritis dan konstruktif," tuturnya.

(ery)
loading...

Iklan Kiri Kanan



Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update