Cyberbullying dan Kesehatan Mental
×

Adsense

Adsense Mobile

Cyberbullying dan Kesehatan Mental

Minggu, 31 Oktober 2021 | 04:00 WIB Last Updated 2021-10-30T21:00:00Z



Cyberbullying
Ilustrasi. (nusabali.com)

Oleh: Fathan Mubina

Mjnews.id - Kehadiran media sosial awalnya ditujukan untuk menjalin hubungan baru dengan orang-orang berada diluar jangkauan fisik kita. Selain itu, media sosial juga bertujuan untuk mempererat hubungan dengan teman-teman lama. Namun seiring berjalannya waktu, muncul kegunaan baru seperti sarana untuk menyampaikan pendapat ke ruang publik, mendirikan bisnis, membuka iklan, dan lain sebagainya.

Namun, tidak semua pengaruh dari media sosial itu baik. Seperti mudahnya akses untuk mendapatkan pornografi, perdagangan barang illegal, dan yang dapat memengaruhi kesehatan mental penggunanya yaitu cyberbullying.

Cyberbullying atau perundungan siber adalah ketika seseorang, biasanya berasal dari kalangan remaja, menindas atau melecehkan orang lain di ruang digital, khususnya media sosial yang dilakukan secara berulang kali. Perundungan siber yang umum terjadi adalah menyebarkan kebohongan atau menyebarkan hal-hal yang tidak senonoh mengenai korban, mengirim pesan atau ancaman yang dapat menyakiti perasaan korban melalui platform messaging.

Berbeda dari perundungan langsung yang dapat menyakiti korban secara fisik, perundungan siber ini dapat menyakiti korban secara mental.

Meskipun beberapa pelaku perundungan siber ini menggunakan alasan iseng-isengan sebagai penyebab mereka melakukan tindakan ini, ada beberapa penyebab lain kenapa hal ini terjadi. Ingin menjadi dominan adalah penyebab yang umum baik dalam perundungan langsung maupun siber. Sikap ini mereka terapkan dengan menganggap remeh orang lain dan merasa bahwa mereka memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari orang lain.

Selain itu, sebagian pelaku justru memiliki masalah dengan kepercayaan diri. Mereka yang sebenarnya memiliki permasalahan hidup yang berat, mengalihkan emosi mereka kepada orang lain. 
Adanya perasaan iri terhadap korban juga menjadi penyebab yang sering ditemukan. Dengan membuat korban menderita, mereka akan merasa puas. Penyebab lain yang menjadi masalah terbesar adalah dikarenakan mereka dulunya pernah menjadi korban. Sehingga mereka berusaha untuk melawan balik dengan menjadikan orang yang lebih lemah darinya sebagai korban. Hal ini justru akan membentuk suatu siklus yang tidak sehat dalam kehidupan sosial, khusunya remaja.

Kelompok yang rentan menjadi korban perundungan siber ini adalah remaja. Hal ini dikarenakan remaja merupakan individu yang sedang mengalami masa dimana ketegangan emosi sedang tinggi. Selain itu, perubahan yang sering dialami oleh kalangan remaja adalah perubahan sosial emosional, perubahan ini berkaitan dengan perubahan suasana hati seperti merasa cemas, stres, dan depresi. 
Dengan demikian, ketidakstabilan emosi ini menyebabkan remaja mudah mengalami perubahan suasana hati apabila menerima stimulus dari lingkungan yang mengganggu dan tidak dapat diselesaikan dengan benar.

Kesehatan mental merupakan kondisi seseorang untuk mengelola tekanan dalam hidupnya. Hal ini berkaitan dengan adanya beberapa karakteristik kesejahteraan psikologis, dan berpengaruh dalam hidup orang tersebut. Kesehatan mental ini dapat dilihat melalui dua dimensi yaitu positif dan negatif. Dimensi positif disebut dengan psychological well-being dan dimensi negatif disebut psychological distress.

Korban perundungan siber ditinjau dari dimensi negatif ini. Mereka cenderung menderita frustasi, gelisah, kelelahan, kehilangan harga diri, murung, hingga muncul pemikiran untuk bunuh diri. Namun, kondisi kesehatan mental korban tidak hanya berkaitan dengan psychological ditress tetapi juga berkaitan dengan psychological well-being. Artinya, persepsi perundungan siber ini bervariasi diantara korban. Contohnya, komentar yang tidak baik dapat dirasakan sebagai lelucon jika berasal dari seorang teman, namun jika komentar yang sama berasal dari orang asing akan terasa menyakitkan.

Sebagian besar reaksi korban perundungan siber ini berfokus kepada cara menanggapi pelaku. Hal yang umunya dilakukan korban adalah dengan berfokus untuk menyingkirkan hal-hal negatif dengan memblokir akun pelaku, mengabaikan pendapat, mengurangi penggunaan media sosial, atau menghapus konten.

Selain itu, korban juga dapat mencari seseorang yang dia percaya untuk menceritakan tentang masalah perundungan ini. Cara ini merupakan cara yang dapat dikatakan baik untuk menghadapi tindakan perundungan siber. Namun, sebagian ada yang langsung menghadapi pelaku. Cara ini terjadi ketika korban memiliki hubungan pribadi dengan pelaku.

(***)

Iklan Kiri Kanan



Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update