Inovasi Baru! Ketika Sampah Menjadi Produk Industri
×

Adsense

Adsense Mobile

Inovasi Baru! Ketika Sampah Menjadi Produk Industri

Selasa, 26 Oktober 2021 | 03:30 WIB Last Updated 2021-10-25T20:30:00Z



sampah

Oleh: Ridho Alifra Donsky

Mjnews.id - Sampah hingga saat ini masih menjadi polemik yang ramai diperbincangkan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa total produksi sampah nasional pada tahun 2020 saja mencapai 67,8 juta ton. Sehingga tak heran, Indonesia menjadi negara dengan peringkat kedua sebagai penyumbang sampah terbesar di dunia setelah China.

Dengan jumlah tersebut, terdapat 14 persen sampah plastik yang mendominasi dari seluruh sampah di Indonesia. Dan ini bisa saja terjadi peningkatan dalam jumlah penggunaannya karena mulai berkembangnya teknologi digital, munculnya berbagai macam industri dan meningkatnya populasi penduduk dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data penelitian Jambeck (2015), menunjukkan bahwasanya terdapat 8 juta ton sampah plastik berakhir di lautan Indonesia. Tentunya apabila tidak dikelola dengan baik sampah ini akan membawa dampak buruk terhadap ekosistem di lautan karna partikel yang terkandung didalamnya sangat berbahaya jika dimakan tanpa sengaja oleh biota laut.

Sampah plastik yang termasuk sampah jenis anorganik sangat sulit untuk didegradasi (non-biodegradable) bahkan alam pun sulit untuk mendegradasi sampah jenis ini, dibutuhkan 100-500 tahun agar dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna.

Dikutip dari The Asean Post, apabila pengelolaan sampah plastik ini tidak dapat ditangani, maka para ahli memprediksi bahwa tahun 2025 akan terjadi peningkatan jumlah sampah plastik hingga sepuluh kali lipat.

Ini merupakan sebuah persoalan yang serius apabila tidak kunjung untuk dicarikan solusinya. Karena kenyataannya polemik sampah plastik ini masih menjadi hal yang dilematis dalam hal penanganannya. Jika dibuang sembarangan akan sulit terurai, jika dibakar begitu saja akan mengeluarkan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan.

Sejauh ini solusi yang diberikan hanya berupa daur ulang saja, namun apakah itu cukup untuk mengatasi permasalahan jumlah sampah di Indonesia?

Jika kita bandingkan dengan produksi jumlah sampah plastik yang tiap tahunnya terus bertambah, maka diperlukannya suatu langkah yang solutif dalam mengimbangi jumlah tersebut. Namun, realitanya dalam hal mendaur ulang sampah plastik ini, peran masyarakat masih sangatlah minim. Sejauh ini, produk yang dihasilkan hanya berupa produk dan jasa kreatif, namun dari segi jumlah sampah yang digunakan tidak dapat menutupi pengurangan sampah plastik yang ada di Indonesia secara signifikan.

Dalam menangani permasalahan sampah plastik secara menyeluruh perlu adanya alternatif pengelolaan. Menurut Penulis, salah satu cara yang paling tepat untuk mengurangi jumlah sampah plastik di indonesia ialah memanfaatkan sampah plastik menjadi beton ringan. Beton ringan adalah beton yang mengandung agregat ringan dan memiliki keunikan tersendiri berupa kerapatannya yang lebih ringan daripada beton pada umumnya. (Purwanto, 2011).

Dikutip dari penelitian Henry Miller (2009), bahwa produksi beton ringan menggunakan sampah plastik hitam sebagai bahan alternatif dalam pembuatan beton ringan atau beton polimer. Dipastikan juga bahwasanya produksi beton ringan ini tanpa efek yang merugikan karena juga menggunakan penambahan bahan lain. Selain itu, penggunaan limbah lain seperti Styrofoam juga dijadikan sebagai bahan alternatif dalam pembuatan beton ringan ini.

Beton ringan memiliki standar mutu yang tinggi pasalnya memiliki kelebihan yang lebih baik dibandingkan dengan beton konvensional. Kelebihannya berupa mudah dibentuk, daya tahan yang kuat, ramah lingkungan, bobot yang ringan dan tentunya lebih ekonomis dibandingkan beton konvensional. Dengan kelebihan yang ditawarkan, beton ringan mampu menjadi solusi alternatif dalam kemudahan proses konstruksi pembangunan.

Dengan adanya inovasi ini permintaan pasar akan beton ringan semakin meningkat dan secara tidak langsung, juga akan berpengaruh terhadap pengurangan sampah plastik karena dijadikan sebagai bahan baku. Alhasil, sampah yang selama ini yang tidak terpakai dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai produk industri yang berkualitas dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Di Indonesia sendiri, penggunaan beton ringan ini masih kurang populer terutama di daerah selain kota-kota besar karena mereka masih terpaku menggunakan bahan konvensional seperti batu bata atau batako yang sudah mentradisi. Maka dari itu, perlu adanya distribusi secara menyeluruh hingga ke penjuru wilayah Indonesia agar mudah ditemukan di pasaran. Dan ini membuka peluang baru bagi sampah plastik dapat terkelola dengan baik dengan dijadikan sebagai produk industri yang bernilai jual di pasaran.

Menurut Penulis, perlu adanya peran pemerintah dalam memfasilitasi industri produksi beton ringan ini untuk terus berkembang. Karena, bukan tanpa alasan bahwa dengan tumbuh dan berkembangnya industri beton ringan, di masa depan berpotensi dapat mengatasi persoalan pengelolaan limbah sampah plastik ini yang kian hari terus bertambah.

Memang masalah ini terdengar sangat besar. Namun, apabila masing-masing kita bergerak dan mengambil peran aktif masing-masing, masalah ini pasti akan teratasi.

Sumber: 
Rommel, E. (2013). Pembuatan Beton Ringan Dari Aggregat Buatan Berbahan Plastik. Jurnal Gamma, 9(1).

(***)

Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andala Padang

Iklan Kiri Kanan

Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update