Kemenangan Tanpa Kibaran Bendera Merah Putih
×

Adsense

Adsense Mobile

Kemenangan Tanpa Kibaran Bendera Merah Putih

Rabu, 27 Oktober 2021 | 06:00 WIB Last Updated 2021-10-27T07:21:20Z


Indonesia juara Piala Thomas 2020
Indonesia juara Piala Thomas 2020, (ist)

Oleh: Muhammad Luthfi Aziz

Mjnews.id - Masih segar dalam ingatan kita Piala Thomas dan Uber Cup yang digelar di Ceres Arena Aarhus, Denmark pada 9-17 Oktober 2021. Ini merupakan event yang diundur, seharusnya dilaksanakan pada tahun 2020 karena pandemi covid-19.

Piala Thomas tahun ini merupakan yang ke-31 sedangkan Piala Uber yang ke-28. Kejuaraan Bulutangkis International ini diselenggarakan 2 tahun sekali yang diikuti oleh negara yang tergabung dalam Asosiasi Federasi Bulutangkis Dunia (BWF).

Indonesia keluar sebagai juara Piala Thomas 2020 setelah di final mengalahkan China dengan skor 3-0, Minggu (17/10/2021).

Perjuangan putra bangsa yang begitu gigih sejak babak penyisihan sampai mencapai babak final kita patut mengacungkan jempol untuk mereka. Mereka dengan perjuangannya untuk membawa harum bangsa di kancah dunia merupakan sebuah partisipasi mereka dalam mengisi kemerdekaan bangsa kita dengan sesuai bidang yang ditekuni.

Pencapaian tim putra Thomas Indonesia merupakan penantian yang panjang, setelah 19 tahun menanti akhirnya kembali membawa Piala Thomas ke pangkuan Ibu Pertiwi di mana terakhir Indonesia menjadi juara pada tahun 2002 di Guangzhou, China yang juga mengalahkan tim tuan rumah.

Indonesia bangga dan haru menjadi juara, kenapa?

Karena Bulutangkis cabang olahraga sejak dahulu andalan buat bangsa Indonsia untuk event olahraga di kancah dunia tanpa mengecilkan olahraga yang lainnya. Disamping hal tersebut cabang olahraga Bulutangkis merupakan olahraga yang sudah menjadi darah daging bagi olahraga keseharian masyarakat bangsa Indonesia. 

Suatu kebanggaan buat sang juara, ketika berdiri di atas podium disematkan sebuah medali ke leher dan berdiri tegak lalu dikibarkan bendera bagi negara diiringi lagu kebangsaan negara yang berhasil menjadi juara 1.

Tentunya sang juara merasa bangga sampai ada yang menitikkan air mata. Karena apa?

Karena mungkin dalam benak sang juara menunjukkan ini “Aku Putra Bangsa”. Betapa bangganya sang juara membawa harum bangsanya.

Namun pencapaian yang telah dinantikan setelah 19 tahun dahaga akan juara, momen ketika para pemain dan official berdiri di podium setelah pemberian pengalungan medali dan pemberian bunga oleh panitia penyelenggara, lalu lagu Indonesia Raya dikumandangkan di Ceres Arena.

Akan tetapi, terasa ada yang kurang dalam penobatan juara tersebut, ada apa?

Ini karena tidak diperkenankannya bendera Sang Merah Putih untuk dikibarkan.

Bangga menjadi juara namun sedih tidak bisa Sang Merah Putih berkibar, tidak bisa membusungkan dada menunjukan “Ini Kita Bangsa Indonesia”, karena apa?

Bendera merah putih adalah sebuah simbol jati diri bangsa Indonesia. Sedih akan hal itu bisa terjadi karena kurang bermakna yang seharusnya sang merah putih sebuah perjuangan yang telah dicapai oleh pemain dan official.

Di antara sekian tokoh banyak yang berkomentar dengan tidak bisanya bendera merah putih berkibar dalam penobatan Juara Piala Thomas 2020.

Legenda Bulutangkis Taufik Hidayat lewat video yang ia unggah di akun instragram pribadinya @taufikhidayatofficial. Dalam video tersebut Taufik hidayat berkomentar : “Selamat piala Thomas cup kembali ke Indonesia… terima kasih atas kerja kerasnya team Bulutangkis Indonesia. Tapi ada yang aneh Bendera Merah Putih gak ada? Di ganti dengan bendera PBSI…,”

“Ada apa denga LADI dan pemerintah kita? Khususnya Menpora KONI dan KOI? Kerjamu selama ini ngapain aja? Bikin malu Negara Indonesia…,” lanjutnya.

Mantan pemain ganda putra nasional Candra Wijaya dijkutip dari Antara, Minggu(17/10) berkomentar : “Ironis, pada saat merayakan kemenangan Thomas Cup, Merah Putih tidak bisa berkibar, memalukan”.

Masih banyak pengguna media sosial Twiter dan Instagram merespons dengan berbagai cuitan mengenal hal ini.

Bendera Merah Putih kebanggaan bangsa Indonesia itu dilarang berkibar seiring adanya sanksi dari Badan Anti Doping Dunia (WADA). Sanksi ini dijatuhkan karena Indonesia gagal memberikan sampel tes doping pada 2020 dan 2021 sehingga bendera Kebangsaan Merah Putih dilarang berkibar pada podium olahraga. 

Ironis memang akan terjadinya hal tersebut. Namun ada pepatah mengatakan nasi sudah menjadi bubur, artinya apa hendak dikata sudah terjadi.

Momen olahraga Piala Thomas ini hendaklah menjadi suatu pembelajaran bagi pihak yang terkait dengan olahraga terutama Menpora dan lembaga keolahragaan seperti KONI, KOI dan LADI. Kita semua harus bekerjasama satu sama lainnya dan bekerja keras untuk memajukan olahraga di negara yang kita cintai di Indonesia. Kalau kita bekerja keras dan bekerja sama dengan baik tidak mustahil akan menghasilkan yang baik pula terutama olahraga yang salah satu bagian yang bisa kita jadikan nilai jual di mata dunia untuk mengharumkan dan membanggakan nama Indonesia.

Masyarakat Indonesia akan turut bangga dan haru meskipun tidak turut andil dalam event tersebut, kebanggaan ketika Merah Putih berkibar merupakan kebanggaan kita sebagai masyarakat Indonesia, haru melihat pemain yang membawa nama Indonesia karena demi bangsa dan negara mereka pertaruhkan jiwa dan raga.

(***)

Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas Padang
loading...

Iklan Kiri Kanan



Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update