Masyarakat, Teknologi, dan Informasi: Aspek yang Saling Terhubung di Masa Kini
×

Adsense

Adsense Mobile

Masyarakat, Teknologi, dan Informasi: Aspek yang Saling Terhubung di Masa Kini

Minggu, 31 Oktober 2021 | 06:00 WIB Last Updated 2021-10-30T23:00:00Z

loading...
ilustrasi teknologi informasi

Oleh: Nurfah 'Ain

Mjnews.id - Pada era industri digital telah memberikan banyak perubahan, baik dalam sektor kehidupan berupa sosial, adaptasi antarbudaya, laju ekonomi, hingga politik. Berbagai perubahan ini ditandai dengan hadirnya salah satu generasi, yang disebut dengan generasi milenial.

Menurut Foot dan Stoffman (2000), generasi milenial merupakan sebuah kelompok masyarakat yang memiliki tahun kelahiran berkisar antara tahun 1980 hingga tahun 1995. Kelompok ini selain memiliki sebutan sebagai kelompok masyarakat milenial, juga disebut sebagai Baby Boom Echo karena era ini hadir setelah generasi Baby Boomers yang lahir sekitar tahun 1946 hingga 1965.

Namun, terdapat beberapa pandangan lain yang memberikan definisi yang berbeda mengenai makna dari generasi milenial yang tidak selalu berkaitan dengan tahun kelahiran.

Menurut Gilleard, definisi dari generasi milenial juga berkaitan dengan aspek sejarah ataupun peristiwa yang terjadi pada saat yang dialaminya. Akibat dari pengaruh pengalaman yang pernah mereka alami, serta penggunaan teknologi digital yang semakin berkembang yang menyebabkan berbagai pengaruh atas nilai, sikap, hingga perilaku generasi milenial.

Belakangan, seluruh generasi milenial bahkan generasi sebelumnya seperti mendapatkan pengalaman yang tidak akan bisa terlupakan, benar, pengalaman dalam menghadapi dan bertahan di masa pandemi. Pengalaman berupa usaha untuk terus menahan diri untuk tetap menjaga jarak baik berupa beraktifitas di luar ruangan, berinteraksi secara langsung yang harus dibatasi, hingga adanya aturan untuk Work From Home (WFH).

Untuk bisa bertahan dalam situasi yang memaksakan agar bisa tetap melaksanakan pekerjaan dari rumah, tentu diperlukan berbagai fasilitas yang menunjang pekerjaan tersebut. Seperti halnya pekerja kantoran, mahasiswa, hingga siswa sekolah dasar. Semua kegiatan tersebut membutuhkan peralatan dan perlengkapan yang memadai seperti contohnya ketersediaan smartphone atau mungkin laptop untuk menunjang kegiatan WFH.

Pengaruh teknologi industri digital salah satunya kemajuan alat komunikasi pada era media baru telah berhasil memberikan kemudahan untuk menuju apapun yang diinginkan oleh penggunanya melalui percepatan internet, terutama pada masa pandemi, ketika seluruh aktivitas dibatasi, namun kebutuhan informasi tetap harus terpenuhi.

Informasi yang diperoleh pun beragam, mulai dari portal berita online hingga berasal dari media sosial sehingga setiap orang dengan bebas dapat mengakses internet, tidak terkecuali generasi milenial sehingga cenderung memiliki sikap manja atau seluruh kebutuhannya atas informasi terpenuhi dan memiliki rasa ingin mengetahui apa saja dengan cara yang instan atau mudah.

Bukti bahwa informasi yang ditawarkan oleh media dapat dimemanjakan dan memudahkan penggunanya memperoleh informasi yaitu dimulai dari salah satu situs seperti Youtube, dalam kurun waktu satu menit, terdapat 60 jam video baru yang diunggah pada media sosial tersebut.

Beralih pada aplikasi lain, seperti Twitter, tercatat setiap harinya setidaknya terdapat tiga juta tweets yang dicuitkan oleh tweeps (sebutan untuk orang yang menggunkan Twitter). Siapapun yang mengakses jenis media sosial ini tentu akan merasa termudahkan dengan suguhan informasi yang melimpah, bahkan jauh dari kriteria cukup untuk memenuhi kebutuhan informasi setiap harinya.

Namun, dari sekian banyak informasi yang dihidangkan setiap harinya kepada pengguna media sosial, tentu terdapat tantangan yang harus dikuasai oleh setiap orang yang menikmati akses kemudahan informasi tersebut.

Tantangan yang harus dilewati oleh setiap orang yang memperoleh informasi yakni kemampuan untuk menyaring informasi yang didapatkan. Karena faktanya, dalam padanan kata Kamus Besar Bahasa Indonesia, selain kata “informasi” juga terdapat padanan kata “disinformasi” yang bermakna informasi yang dengan sengaja dibuat secara salah dengan tujuan untuk membingungkan orang lain. Hingga hadir satu diantara kedua padanan kata tersebut yaitu “misinformasi” yang berarti informasi yang terindikasi salah, namun dalam proses pembuatan informasi tersebut dalam keadaan tidak sengaja. 

Berdasarkan informasi yang dikutip dari situs resmi Kemenkominfo, terdapat sekitar 800.000 situs yang dibuat secara sadar untuk menyebarkan informasi palsu, atau kerap disebut sebagai hoax. 

Sedangkan menurut data dari Katadata Insight Center (KIC) yang bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta SiBerkreasi, sekurang-kurangnya terdapat 30% hingga 60% orang di Indonesia terpapar informasi yang salah saat mengakses internet. Dan hanya sekitar 21% hingga 36% pengguna yang dapat mengenali bahwa informasi yang diperolehnya merupakan informasi hoax baik dalam bentuk berita politik, kesehatan, hingga mengenai agama.

Kondisi inilah yang mendorong para pengguna industri digital cenderung bersikap serba tahu akan segala sehingga mudah untuk komplain atau sering disebut dengan nyinyir. 

Berkaca dari beberapa fenomena yang telah terjadi di sekitar masyarakat baik berupa hadirnya generasi milenial, WFH, perubahan sikap akibat ketergantungan media sosial, percepatan akses informasi, hingga hadirnya disinformasi serta berbagai hoax yang beredar dalam kolom berita online.

Sikap yang selayaknya dihadirkan dalam keadaan ini tentu dapat dihadapi dengan bijak serta mencoba untuk mengoreksi ulang setiap infomasi yang diperoleh agar dapat menciptakan masyarakat yang melek akan literasi digital dalam bermedia sosial.

(***)

Penulis, Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas Padang

Iklan Kiri Kanan



Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update