Ridwan Hisjam: Energi Fosil Masih Digunakan Masyarakat, RETINA Masih Sulit
×

Adsense

Adsense Mobile

Ridwan Hisjam: Energi Fosil Masih Digunakan Masyarakat, RETINA Masih Sulit

Senin, 22 November 2021 | 21:26 WIB Last Updated 2021-11-22T14:26:29Z


Ridwan Hisjam
Anggota Komisi VII DPR RI, Ridwan Hisjam.

Purworejo, MJNews.id - Masyarakat Indonesia masih belum bisa meninggalkan energi fosil seperti minyak bumi atau batu bara dalam mendukung aktivitasnya meskipun energi terbarukan sudah bisa menggantikannya.

Hal ini disoroti Anggota Komisi VII DPR RI, Ridwan Hisjam yang dipaparkan dalam acara simposium hukum sebagai upaya melakukan akselerasi pengembangan energi terbarukan.

Revolusi energi terbarukan (RETINA) di Indonesia masih sulit dilakukan, padahal energi terbarukan sangat penting guna memenuhi kebutuhan energi masyarakat yang semakin besar.

Energi terbarukan sebagai solusi alternatif ketahanan energi nasional yang diadakan Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Indonesia.

Ridwan Hisjam menilai, wacana untuk mengembangkan energi terbarukan sejak tahun 2005 dengan diterbitkannya Perpres Nomor 6 tentang kebijakan energi nasional kemudian diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2014 tentang kebijakan energi nasional.

Anggota komisi VII yang juga menjadi Politisi Partai Golkar Ridwan Hisjam mengatakan, dalam rangka menunjang pembangunan yang berkelanjutan perlu di dorong pemanfaatan energi yang bersih dan ramah lingkungan yaitu energi terbarukan.

"Hal ini guna menjamin generasi mendatang memperoleh kondisi lingkungan hidup yang lebih baik dari kondisi saat ini.dan ini menjadi tanggung jawab kita bersama tuturnya kepada para wartawan, Senin 22 November 2021, di Jakarta.

"Untuk melakukan pengembangan energi terbarukan membutuhkan tambahan energi 14.087 MW guna untuk mencapai target 23 persen pada tahun 2025 atau memerlukan investasi sebesar 34 milliar USA untuk proyek proyek energi terbarukan," jelasnya.

Ridwan Hisjam menegaskan perlunya upaya sistematis, terstruktur dan terus menerus guna pengembangan energi terbarukan, mengingat bauran energi terbarukan saat ini masih sekitar 8 persen.

"Secara keseluruhan dan 12 persen untuk pembangkit dan masih jauh dari target 23 persen di tahun 2025 padahal sisa waktu kurang dari 4 tahun," paparnya.

Payung hukum yang kokoh dalam pengembangan energi terbarukan adalah Undang-Undang. Dengan adanya Undang-Undang yang merupakan konsensus semua pemangku kepentingan dan dapat memacu kita semua untuk serius terlibat di dalam akselerasi pengembangan energi terbarukan.

"Industri solar panel Photovoltaic, tekhnologi baterai listrik, inverter, energi turbin dan lain-lain wajib kita kuasai dan harus berani stop impor produk energi terbarukan dari luar negeri (asing) kecuali untuk dilakukan Amati Tiru dan Modifikasi (ATM)," jelasnya.

Lebih lanjut Ridwan Hisjam menyampaikan perlunya membangun kerjasama dengan negara negara yang mempunyai kemampuan tehnologi maju energi terbarukan baik skala regional maupun global serta lembaga lembaga international yang concern terhadap pengembangan energi terbarukan.

"Sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, berkualitas dan handal dalam mengimplementasikan pengembangan energi terbarukan merupakan kunci utama dari keberhasilan revolusi energi terbarukan Indonesia," pungkasnya.

(fix)
loading...

Iklan Kiri Kanan



Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update