Dampingi Wapres Sholat Id, Sultan: Lebaran Harus Jadi Momentum Rekonsiliasi Nasional
×

Adsense

Adsense Mobile

Dampingi Wapres Sholat Id, Sultan: Lebaran Harus Jadi Momentum Rekonsiliasi Nasional

Senin, 02 Mei 2022 | 21:53 WIB Last Updated 2022-05-02T14:53:18Z


loading...

JAKARTA, Mjnews.id - Wakil ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan B Najamudin pagi tadi Senin (02/05/2022) mendampingi Wakil Presiden K.H. Prof. Ma'ruf Amin melaksanakan Sholat Idul Fitri di Masjid Istiqlal Jakarta bersama beberapa pejabat tinggi negara lainnya. 

Selesai melaksanakan shalat Idul Fitri, Wapres dengan ditemani Sultan mencoba menyapa ribuan umat Islam yang hadir dengan melambaikan tangan ke arah jamaah sholat idul Fitri yang memadati ruangan sholat utama.

"Kita patut bersyukur, kesempatan puasa Ramadhan dan lebaran kali ini Umat Islam Indonesia sudah bisa melaksanakannya secara normal. Pandemi Covid-19 yang sedang berada pada jalur menuju pemulihan harus kita maksimalkan sebagai titik balik pertumbuhan dan penguatan ekonomi serta rekonsiliasi sosial bangsa", ungkap Senator muda asal Bengkulu itu saat dimintai keterangan di kompleks masjid Istiqlal Jakarta. 

Rekonsiliasi dan Recovery, kata Sultan,  merupakan dua kata kunci yang harus menjadi tumpuan perubahan dan kemajuan bangsa. Puasa Ramadhan mengajarkan kita untuk sejenak memulihkan sistem metabolisme badani dan emosional atau rohaniyah kita dalam memperbaharui suasana sistem kehidupan sosial bangsa.

"Oleh karena itu, seperti isi khotbah khotib sholat idul Fitri tadi, kami mengajak semua elemen bangsa untuk memaknai momentum idul fitri 1443 Hijriah ini dengan sebuah komitmen persatuan dan semangat gotong-royong dalam memulihkan kembali peradaban bangsa. Dengan harapan agar agenda-agenda pembangunan ekonomi nasional selalu diarahkan untuk mewujudkan keadilan sosial dan pemerataan ekonomi", tegasnya.

Selanjutnya, mantan wakil Gubernur Bengkulu itu mendorong agar semua elit politik bangsa untuk tidak perlu lagi menghembuskan wacana dan isu-isu politik yang tidak perlu. Demokrasi konstitusional ini harus kita jaga dengan narasi politik yang konstruktif dan solutif, atau kita hanya akan mendapatkan kegaduhan demi kegaduhan di ruang publik tanpa kemajuan dan kesejahteraan yang berarti dari demokrasi yang kita banggakan ini.

(rls/dpd)

Iklan Kiri Kanan



Iklan Adsense

×
Berita Terbaru Update