Butuh Perhatian Pemkab Agam, Penyakit PMK sudah Sampai ke Nagari Gadut
×

Adsense

Adsense Mobile

Advertisement

Butuh Perhatian Pemkab Agam, Penyakit PMK sudah Sampai ke Nagari Gadut

Selasa, 21 Juni 2022 | 11.16 WIB Last Updated 2022-06-21T04:16:32Z

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Anggota Kelompok Peternak Barpu sedang menyuapi ternak
Anggota Kelompok Peternak Barpu sedang menyuapi ternak. (f/munasril)

BUKITTINGGI, MJNews.id - Sebanyak empas belas ekor ternak terdiri sebelas ekor kerbau dan tiga ekor sapi diduga mendapat Penyakit Mulut kuku (PMK). Ternak yang mengidap penyakit PMK tersebut adalah bantuan yang diberikan oleh pemerintah pusat yang diturunkan pada tahun 2015 kepada kelompok peternak Barpu, yang beralamat Jorong PGRM, Kenagarian Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam.

Menurut Ketua Kelompok Peternak Barpu, Dt. Palimo yang dihubungi MJNews.id mengatakan, adanya dugaan ternak kelompok Barpu mendapat penyakit PMK diketahui karena ternak, baik kerbau maupun sapi, sudah tidak mau makan rumput, ini terjadi sudah hampir satu minggu lamanya. Penyakit berawal dari satu ekor ternak yang sakit lalu penyakit tersebut menular ke ternak yang lain.

Penyakit PMK yang diidap oleh hewan sapi dan kerbau ini gejalanya yaitu berupa badannya tidak bergairah, panas, lemas, lidah yang pecah-pecah, dan banyak mengeluarkan air ludah yang berlendir, serta badan sapi dan kerbau mulai kurus. Sementara itu untuk makan, hewan ternak ini disuapi anggota kelompok dikarenakan hewan tersebut tidak memiliki nafsu makan dan susah menelan makanan. 

Sekarang ini kelompok Peternak Barpu tidak bisa lagi bekerja yang lain seperti ke sawah atau ke ladang, waktunya lebih terpusat untuk memberi makan ternak dan memberikan bermacam-macam obat tradisional.

“Ya. Habis bagaimana? Kalau tidak disuapi, kerbau tidak mau makan, sementara waktu kerja menjahit tidak bisa dikerjakan,” ujar ibu setengah baya, Darniati yang juga berprofesi sebagai penjahit bordir.

Adanya penyakit PMK yang menyerang ternak milik kelompok Barpu, menurut Dt. Palimo, sudah dilaporkan ke Dokter Hewan kecamatan dan sudah dilakukan penyuntikan satu kali. Tapi sangat disayangkan, sesudah itu tidak ada dilakukan pengontrolan secara kontiniu oleh Dokter Hewan, bagaimana perkembangan penyakit ternak, adakah perubahannya atau tidak, ini sangat saya sesalkan sekali," ujar Dt. Palimo.

Kelompok Barpu sangat berharap adanya perhatian yang lebih serius oleh pemerintah daerah dan juga dinas kehewanan yang terkait untuk menanggulangi wabah PMK ini. Karena penyakit ini, penularannya sangatlah cepat perkembangannya ke hewan ternak lainnya, serta akan banyaknya kerugian yang akan dialami oleh pemilik, bahkan sampai ratusan juta. 

(ril)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan



×
Berita Terbaru Update