LPSK Minta Polres Jaksel Segera Hentikan Penyidikan Kasus Dugaan Tersangkakan Korban Pengeroyokan

Syahrial Martanto W dalam webinar
Syahrial Martanto W dalam webinar dengan tema, ”Polemik Penegakan Hukum di Indonesia: Dari Korban Jadi Tersangka, Ada Apa dengan Penegakan Hukum di Polres Jakarta Selatan?” pada Jumat (10/6/2022). (f/ist)

JAKARTA, Mjnews.id – Tenaga Ahli Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Syahrial Martanto W meminta pihak Polres Jakarta Selatan (Jaksel) agar segera menghentikan penyidikan kasus dugaan mentersangkakan dan menahan korban kasus pengeyorokan dan pembacokan dengan korban Klaudius Rahmat, Yohanes Frederiko Efan Kora dan Krisostomus Aidin Darman. 

“Dari kronologi kasus ini, ketiga korban tidak bersalah. Saya minta pihak Polres segera keluarkan Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3),” kata Syahrial Martanto W dalam webinar dengan tema, ”Polemik Penegakan Hukum di Indonesia: Dari Korban Jadi Tersangka, Ada Apa dengan Penegakan Hukum di Polres Jakarta Selatan?” pada Jumat (10/6/2022).

ADVERTISEMENT

1672718317 zd2LclJzIi3V8sEfHHWPFagJbbGo8jsG

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ikut sebagai pembicara lain dalam diskusi yang diselenggarakan Serikat Pemuda NTT itu adalah Wakil Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, Kompol Sujarwo; Koordinator Pelayanan Pengaduan Komnas HAM, Endang Sri Melani; Kuasa Hukum tiga korban, Siprianus Edi Hardum, S.H., M.H., Hipatios Wirawan, S.H., dan Dominikus Darus, S.H.

Syahrial Martanto W meminta kuasa hukum tiga korban di atas agar segera melaporkan kasus tersebut ke Divisi Propam Polri, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Komnas HAM dan LPSK. Selain itu, ia meminta agar kuasa hukum tiga korban segera meminta Polda Metro Jaya untuk segera menggelar kasus ini secara khusus. “Banyak kasus yang proses hukum diduga bermasalah maka diminta digelar secara khusus,” katanya.

Baca Juga  Uang Hasil Korupsi Eks Dirut Anak Usaha Jackpro Disita Polisi Sekitar Rp 157 Miliar

Ia menegaskan, kasus sama yang sering terjadi. “Saya meminta kepada kuasa hukum korban agar ganti kepada Polres Jakarta Selatan,” kata dia. 

Kompol Sujarwo mengatakan, pihak apreasiasi dengan diskusi tersebut. “Ini sebagai koreksi bagi kami dalam menegakkan hukum,” kata Sujarwo yang enggan membahas lebih jauh serta enggan menjawab pertanyaan peserta dalam kasus ini.

Sementara Endang Sri Melani mengatakan, kasus tetsebut patut diduga kuat telah terjadi kriminalisasi terhadap tiga korban. Hal ini terjadi karena patut diduga tidak profesionalnya penyidik.

Melani, demikian panggilan perempuan cantik berjilbab ini, juga meminta agar penyidikan kasus ini dihentikan. Melani juga salut kepada para kuasa hukum yang telah mengambil langkah hukum praperadilan terhadap kasus ini. 

Melani menegaskan, kalau gugatan praperadilan ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, maka Komnas HAM siap memberikan pendapat hukum di pengadilan nanti. “Kami siap kawal kasus ini pengadilan, dan siap memberikan pendapat hukum,” kata dia. 

Baca Juga  Pimti Kemenkumham DKI Apresiasi Kesiapan Layanan Kunjungan Tatap Muka di Lapas Cipinang

Sementara Siprianus Edi Hardum mengatakan, posita kasus ini adala pada Jumat (29/4/2022) Polres Jaksel menangkap Klaudius Rahmat, Yohanes Frederiko Efan Kora dan Krisostomus Aidin Darman di Jl. Holtikultura No. 01 / 40 RT 007 RW 006, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Mereka ditangkap tanpa memperlihatkan surat tugas dan tidak disertai surat perintah penangkapan yang mencantumkan identitas tersangka dan menyebutkan alasan penangkapan serta uraian singkat perkara yang disangkakan dan tempat ia diperiksa.

Mereka ditangkap berdasarkan laporan dari Muhammad Fahrudin kepada Polres Jaksel. Muhammad Fahrudin tidak berada di tempat kejadian perkara saat kejadian berlangsung sebagaimana terungkap dalam putusan Nomor 1075/Pid.B/2021/PN.Jkt.Sel tertanggal 10 Februari 2022.

Putusan Nomor 1075/Pid.B/2021/PN.Jkt.Sel tertanggal 10 Februari 2022 menjelaskan bahwa tiga orang di atas adalah korban pengeroyokan yang dilakukan enam orang pelaku itu yaitu Taufik Hidayat, Bambang Saputra, Lutfi Ammar Fahkri, Dhimas Yudha Arya Pratama, Agus Priyatna dan M Rizal. Keenam orang ini dinayatakan bersalah dan dihukum masing-masing satu tahun penjara.