Gus Muhaimin: Kritik Harus Jadi Nilai Tambah, Bukan Ancaman
×

Adsense

Adsense Mobile

Gus Muhaimin: Kritik Harus Jadi Nilai Tambah, Bukan Ancaman

Jumat, 05 Agustus 2022 | 19.33 WIB Last Updated 2022-08-05T12:33:20Z

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

JAKARTA, Mjnews.id - Kebebasan berbicara dan berekspresi kerap kali dinilai kebablasan seiring berkembangnya dunia media belakangan ini yang begitu dahsyat, terutama media digital yang nyaris tanpa batas. 

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin) mengatakan bahwa kemajuan teknologi digital telah membuat perubahan dramatis dalam semua aspek, termasuk relasi negara atau pemerintah dengan stakeholder dunia media. Media di era digital ini, terutama media-media mainstream harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada. 

”Pemerintah di satu sisi juga harus mengerti betul bahwa berbagai perkembangan digital ini harus punya benefit (keuntungan) buat rakyat secara langsung. Pembatasan-pembatasan harus diubah menjadi kolaborasi bagi kemajuan teknologi digital,” ujar Gus Muhaimin dalam perintahan 10 Tahun Forum Pemred bertajuk ”Memajukan Pers Menyatukan Bangsa” di Jakarta, Jumat (5/8/2022). 

Gus Muhaimin menyukuri karena kebebasan pers yang merupakan buah dari Reformasi bisa terjaga hingga saat ini. Kedepan, kebebasan ini harus terus menjadi prioritas utama karena disana ada hak asasi manusia untuk memberikan jaminan bukan hanya bagi setiap individu untuk bebas merdeka, tetapi juga kepada media untuk bebas menyampaikan berbagai informasi yang berkembang. 

”Pemerintah hendaknya atau siapun kepemimpinan ini harus bisa melihat kritik atau oposisi sebagai nilai tambah, bukan nilai ancaman sehingga kritik tetap dibutuhkan. Tanpa kritik kita akan mudah salah jalan,” tuturnya. 

Disisi lain, kebebasan masyarakat atau media juga dibatasi oleh kekebasan manusia yang lain. Karena itu, undang-undang tetap diperlukan untuk mengatur agar kebebasan, terutama dalam mengatur hal-hal mengenai isu-isu SARA (suku, ras dan agama) bisa tetap terjaga. Jangan sampai kekebasan yang ada justru mengganggu pesatuan dan kesatuan bangsa. 

”Jadi semua harus berkolaborasi. Tidak harus mentang-mentang pemerintah, mentang-mentang masyarakat, mentang-mentang dunia media atau mentang-mentang pemred (pemimpin redaksi) juga tidak bisa, mentang-mentang presiden juga tidak bisa. Semua harus dalam satu keseimbangan, equilibrium untuk menjaga kebebasan itu tetap terjaga,” katanya. 

Menurut Gus Muhaimin, bangsa ini akan maju kalau kebebasan berekspresi atau menyampaikan pendapat juga terus terjaga sampai kapanpun. ”Demokrasi ekonomi jalan, demokrasi politik jalan, dan demokrasi sosial berlangsung dengan sangat baik,” pungkas Gus Muhaimin.

(*/eki)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan



×
Berita Terbaru Update