Hadiri Coinfest Asia, Jerry Sambuaga: Kemendag Dukung Aset Kripto Indonesia Berdaya Saing
×

Adsense

Adsense Mobile

Hadiri Coinfest Asia, Jerry Sambuaga: Kemendag Dukung Aset Kripto Indonesia Berdaya Saing

Jumat, 26 Agustus 2022 | 02.00 WIB Last Updated 2022-08-27T14:12:09Z

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Jerry Sambuaga
Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga. (f/kemendag)

Bali, Mjnews.id - Di tengah semakin meningkatnya aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga berharap, semakin banyak aset kripto asal Indonesia hadir di pasar aset kripto. Dengan begitu, aset kripto dalam negeri semakin berdaya saing dan diminati pasar internasional.

Hal ini disampaikan Wamendag Jerry dalam acara Coinfest Asia yang diselenggarakan di Bali, Kamis 25 Agustus 2022.

Turut hadir dalam acara ini Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Muhammad Neil El Himam dan Plt. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Didid Noordiatmoko.

“Kementerian Perdagangan sangat mendukung perusahaan dan pelaku usaha dalam dan juga luar negeri untuk masuk di pasar aset kripto Indonesia yang terus berkembang ini. Terlebih, mengingat perdagangan aset kripto sangat bermanfaat bagi perkembangan perekonomian nasional,” ujar Wamendag.

Wamendag menjelaskan, Bappebti telah menerbitkan Peraturan Bappebti (Perba) Nomor 11 Tahun 2022 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto. 

Peraturan ini merupakan pembaruan sekaligus mencabut Perba Nomor 7 Tahun 2020. Pada Perba Nomor 7 Tahun 2020, terdapat 229 jenis aset kripto yang dapat diperdagangkan. Kemudian, dengan diterbitkannya Perba Nomor 11 Tahun 2022, maka jumlah tersebutmeningkat menjadi 383 jenis.

“Dari 383 jenis tersebut, ada sepuluh aset kripto yang berasal dari Indonesia. Ini merupakan langkah awal yang sangat baik dan patut diapresiasi. Semoga, nantinya akan lebih banyak lagi aset kripto asal Indonesia yang tergabung di dalamnya,” ungkap Wamendag.

Berdasarkan Gross Merchandise Value (GMV), nilai ekonomi digital Indonesia pada 2021 adalah sebesar USD 70 miliar dan berada di posisi pertama di antara negara-negara kawasan Asia Tenggara. Pada 2021, nilai transaksi perdagangan aset kripto di Indonesia tercatat sebesar Rp859,4 triliun. Sedangkan, pada 2022, hingga Juli tercatat sebesar Rp232,4 triliun.

Hal tersebut menjadi indikasi bahwa ekonomi digital di Indonesia dapat menjadi suatu katalis bagi perkembangan perekonomian nasional. Tentunya, dengan tetap memperhatikan aspek hukum yang berlaku di Indonesia.

“Ke depan, perlu dibentuk suatu sinergi dan kerja sama yang berkelanjutan antara Kementerian Perdagangan sebagai regulator, pelaku usaha, serta seluruh pemangku kepentingan demi terciptanya ekosistem perdagangan digital yang solid. Dengan begitu, perdagangan fisik aset kripto nantinya dapat memberikan dampak yang lebih optimal bagi masyarakat dan ekonomi nasional,” pungkas Wamendag.

(Eki)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan



×
Berita Terbaru Update