Perjuangan Mohammad Natsir
×

Adsense

Adsense Mobile

Perjuangan Mohammad Natsir

Senin, 01 Agustus 2022 | 00.00 WIB Last Updated 2022-08-01T08:29:43Z

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Titik Dermasih

Oleh: Titik Dermasih

Mjnews.id - Mohammad Natsir adalah salah satu tokoh  politik, agama, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi dan salah satu tokoh islam termuka diIndonesia.

Mohammad Natsir dilahirkan di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada 17 Juli 1908 dari pasangan suami isteri Sutan Saripado dan Khadijah. Pada waktu kecilnya Mohammad Natsir tinggal dirumah Sutan Rajo Ameh, seorang saudagar kopi yang terkenal di daerahnya. Dimana rumah yang ditepati natsir tersebut dibelah menjadi dua bagian yakni di bagian pertama rumah yang tinggal adalah pemilik rumah tersebut sedangkan di bagian kedua Natsir dan keluarganya, dimana natsir ini mempunyai 3 saudara kandung yang bernama Yukinan, Rubiah, dan Yohanusun. Ayah mohammad natsir bertugas sebagai pengawai pemerintahan di Alahan Panjang dan kakeknya adalah seorang ulama.

Mohammad Natsir memulai pendidikan di sekolah rakyat Maninjau selama dua tahun hingga dua tahun dan kemudian pindah ke sekolah Hollandsch-inlandshe school (HIS) Adabiyah di Padang. Setelah beberapa bulan kemudian dia pindah lagi ke Solok dan dititipkan di rumah seorang saudagar yang bernama Haji Musa. Selain belajar, keseharian Mohammad Natsir ia juga belajar ilmu agama Islam di Madrasah Diniyah.

Pendidikan dan Perjalanan Karir Mohammad Natsir
Pada tahun 1923 natsir melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) kemudian ikut bergabung dalam perhimpunan-perhimpunan pemuda seperti Pandu National Islamietische Pavinderij dan Jong islamieten Bond. Setelah lulus dari Mulo, lalu Natsir pindah ke Bandung untuk menambah ilmunya lagi di Algemeene Middlelbare School (AMS) dan tamat pada tahun 1930.

Mohammad Natsir banyak bergaul dengan para tokoh-tokoh Islam, seperti Agus Salim dan selama pertengahan tahun 1930- an ia dan Agus Salim saling bertukar pikiran tentang hubungan Islam dan Negara pemerintahan Indonesia di masa depan yang dipimpin oleh Soekarno. Pada tahun 1938 ia tergabung dalam partai Islam Indonesia dan diangkat sebagai pimpinan untunk cabang di Bandung dari tahun 1940 sampai 1942.

Selain menjabat sebagai pimpinan Partai Islam Indonesia, Natsir juga bekerja sebagai Kepala Biro Pendidikan di Bandung sampai tahun 1945. Dan pada masa kekuasaan Jepang dia juga bergabung dalam Majelis A’la Indonesia yang mana berubah nama menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi dan diangkat salah satu menjadi ketua dari tahun 1945 hingga bubarnya Masyumi.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Mohammad Natsir pun menjadi anggota komite Nasional Indonesia Pusat. Sebelum Menjabat menjadi perdana menteri penerangan. Pada tanggal 3 April 1950 ia mengajukan mosi integral Natsir dalam sidang pleno parlemen, Muhammad Hatta sebagai wakil presiden yang mendorong semua pihak untuk berjuang secara tertib.

Merasa terbantu dengan adanya mosi ini, mosi ini memulihkan kebutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sebelumnya berbentuk serikat, sehingga Mohammad Natsir diangkat menjadi Perdana Menteri oleh Presiden Soekarno pada Agustus 1950. Natsir mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri pada tanggal 26 April 1951 karena adanya masalah perselisihan paham dengan Presiden Soekarno pada saat itu.

Penyebab dari perselisihan paham ini karena Presiden Soekarno menganut paham Nasionalisme yang mana mengkriktik islam sebagai ideology seraya memuji sekularisasi yang dilakukan Mustafa Kemal Ataturk di kesultanan Utsmaniyah, sedangkan natsir menyayangkan hancurnya kesultanan Utsmaniyah dengan menunjukkan akibat-akibat negative sekularisasi. Selain itu, Natsir juga memberikan kritikan terhadap Presiden Soekarno bahwa dia kurang memperhatikan kesejahteraan di luar pulau jawa.

Selama masa era demokrasi terpimpin di Indonesia, ia juga terlibat dalam pertentangan terhadap pemerintahan Indonesia yang semakin otoriter dan ikut bergabung dengan pemerintah Revolusioner Republik Indonesia setelah meninggalkan pulau jawa. PPRI yang menuntut adanya otonomi daerah yang lebih luas disalahartikan oleh Soekarno sebagai pemberontakan. Akibatnya Natsir ditangkap dan dipenjara di Malang dari tahun 1962 sampai 1964 dan dibebaskan pada masa Orde Baru pada 26 Juli 1966.

Setelah ia dibebaskan dari penjara, Natsir kembali melibatkan dirinya dalam organisasi-organisasi Islam seperti Majelis Ta’sisi Rabith Alam Islami dan Majelis Ala Al-Alami lil Masjid yang berpusat di Mekkah, pusat Studi Islam Oxford (Oxford Centre For Islamic Studies) di Inggris dan liga Muslim Se-dunia (World Muslim Congress) di Karachi, Pakistan.

Di era orde baru, ia membentuk yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan ia juga mengkritisi kebijakan pemerintah, seperti ketika ia menandatangani petisi 50 pada tanggal 5 mei 1980 yang menyebabkan ia dilarang pergi ke luar negeri.

Pada masa-masa awal orde baru, ia berjasa mengirimkan nota kepada Tuan Abdul Rahman dalam rangka mencairkan hubungan dengan Malayasia, selain itu ia juga menghubungi pemerintah Kuwait agar dapat menanam modal di Indonesia dan meyakinkan Pemerintah Jepang tentang kesungguhan Pemerintahan Orde Baru membangun ekonomi.

Mohammad Natsir wafat pada 6 Februari 1993 pada umur 84 tahun.

Penghormatan yang Diberikan kepada Mohammad Natsir
Dunia islam mengakui Mohammad Natsir sebagai pahlawanan yang melintasi batas bangsa dan Negara. Bruce Lawrence menyebutkan bahwa Natsir merupakan politisi yang menonjol mendukung pembaruan islam. Pada tahun 1957, natsir juga menerima bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) dari raja Tunisia. Pada tahun 1980 Natsir juga dianugerahi penghargaan Faisal Award dari Raja Fahd Arab Saudi melalui Yayasan Raja Faisal di Riyadh, Arab Saudi. Selain itu ia juga memperoleh gelar Doktor kehormatan di bidang Politik Islam Libanon pada tahun 1967. 

Pada tahun 19991 ia juga memperoleh dua gelar kehormatan yaitu di bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Dalam bidang pemikiran Islam dari Sains Malaysia. Banyak lagi penghargaan yang dihadiahkan untuk Mohammad Natsir ini, terutama dalam memperjuangkan agama islam sehingga pada 10 November tepat setelah 15 tahun kematiannya, Mohammad Natsir dinyatakan sebagai Pahlawanan Nasional Indonesia.

Penulis, Mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas Mohammad Natsir

(***)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan



×
Berita Terbaru Update