Respon Positif Pidato Ketua DPR, Semua Akan Puan pada Waktunya
×

Adsense

Adsense Mobile

Respon Positif Pidato Ketua DPR, Semua Akan Puan pada Waktunya

Kamis, 18 Agustus 2022 | 11.00 WIB Last Updated 2022-08-18T07:33:45Z

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Puan Maharani
Ketua DPR RI, Puan Maharani. (f/dpd)

JAKARTA, Mjnews.id - Persepsi publik negatif terhadap Puan Maharani akhirnya terbantahkan setelah Ketua DPR RI tersebut menunjukkan kepiawaiannya menyampaikan gagasan kebangsaan saat berpidato dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Sidang I DPR RI Tahun Sidang 2022 - 2023 di Gedung Parlemen, Selasa 16 Agustus 2022.

Pidato yang berisi sejumlah gagasan cemerlang Puan itu mendapatkan respon positif berbagai pengamat politik, tak terkecuali juga pengusaha hingga warga di dunia maya (netizen).

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai, isi pidato yang kental dengan kebangsaan membuat Puan layak ditempatkan sebagai tokoh bangsa.

"Tema kebangsaan cukup kental dalam pidato itu, dan inilah sebenarnya yang diperlukan sebuah negara, yakni ide dan komitmen besar, Puan membalikkan penafsiran sebagian orang soal kepantasannya sebagai capres, dari pidato itu cukup jelas Puan berada di posisi yang layak memimpin bangsa ke depan, tentu melalui alur demokrasi," ujar Dedi, dikutip Kamis, 18 Agustus 2022. 

Senada, Pengamat Komunikasi Politik, Ari Junaedi juga menyatakan, pidato cucu Bung Karno itu komprehensif membahas seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia di usia Kemerdekaan 77 tahun. Dia menilai, pidato tersebut sebagai visi Puan dalam membangun negeri yang lebih baik.

“Terlepas apakah Puan akan ikut dalam kontestasi Pilpres 2024 atau tidak, pidato Puan sangat menarik diperhatikan karena membahas banyak aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, yang menurut saya lebih seperti visi Puan untuk membangun Indonesia ke depan,” kata Junaedi.

Bahkan, pakar Komunikasi Politik dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Silvanus Alvin menilai, isi pidato Puan itu futuristik, karena dapat dimaknai sebagai manifesto untuk Indonesia masa kini dan masa depan.

Dalam pidatonya itu, Puan berbicara pentingnya menjaga ideologi Pancasila untuk terus memandu Indonesia. Perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu juga mengajak para pemangku kepentingan untuk membangun generasi muda menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul.

Puan juga menyinggung berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia yang perlu ditanggulangi dengan berbagai kemampuan dan kekuatan bangsa, termasuk semangat gotong royong. Alvin mengatakan, Puan memiliki pandangan ke depan untuk membuat Indonesia semakin lebih maju.

"Ada pandangan futuristik, di mana Puan bisa melihat hambatan kemajuan bangsa dan kesempatan serta peluang Indonesia untuk menuju masa keemasan,” tegasnya.

Pengamat politik lainnya, Adib Miftahul bahkan menyamakan Puan mampu menyampaikan gagasan sebagaimana sang ibunya, Megawati Soekarno Putri saat usia muda. Puan begitu menguasai konteks persoalan kebangsaan, tantangan serta menawarkan solusi.

"Jika dibandingkan dengan pidato-pidato Puan sebelumnya, pidato saat ini yang paling bagus. Saya melihat ada karakter tegas," ujarnya.

Ketegasan Puan tersebut, lanjutnya, dengan menyampaikan pesan secara lugas, penggunaan diksi yang baik, serta narasi yang tidak bertele-tele, sehingga audiens mampu menangkap pesan yang ingin disampaikan cucu Presiden Soekarno itu dengan mudah.

"Inilah karakter Puan yang selama ini belum terkomunikasikan ke publik. Dia memiliki kecerdasan dan ketegasan," imbuhnya.

Bahkan Adib menyamakan pidato Puan tersebut dengan pidato-pidato Megawati Soekarno Putri, sang ibu Puan, pada masa mudanya.

"Puan melalui pidatonya menyampaikan pesan bahwa pemimpin perempuan mampu bersikap tegas, hampir mirip dengan pidato Ibu Mega waktu muda," kata Adib.

Sementara pengamat Komunikasi Politik dari Telkom University Bandung, Catur Nugroho menilai, melalui pidatonya itu, Puan telah merepsentasikan diri sebagai seorang tokoh yang mampu menyampaikan ke publik persoalan dan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.

"Pidato tersebut menjadi semacam manifesto politik Puan Maharani yang berbobot," ujarnya.

Menurut Catur, pidato Puan tersebut menjadi pembuktian bahwa pandangan miring terhadap Puan selama ini terbantahkan.

"Puan juga mampu menunjukkan visinya sebagai seorang pemimpin yang mampu memahami persoalan Bangsa Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang," katanya.

Tak hanya pengamat, pujian untuk Puan juga datang dari kalangan pengusaha, salah satunya Peter Gonta.

"Orang boleh mengatakan apa saja tentang Puan Maharani, tetapi hari ini Puan Maharani menunjukkan kedewasaan dan auranya sebagai pemimpin. Yang suka boleh suka, tapi yang tidak suka harus jujur. Pidato, intonasi dan cara menyampaikan pesannya luar biasa," tulis pria yang juga mantan Duta Besar RI untuk Polandia tersebut melalui akun media sosial Instagramnya. 

Sementara, pakar komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menilai, Puan memiliki kemampuan komunikasi egaliter terhadap semua pihak serta intonasi suara kerakyatan.

Emrus mengatakan, dari awal hingga akhir pidato, Puan menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang pemimpin yang egaliter.

"Coba lihat lambang non verbalnya, dia perlakukan (Megawati) sama (dengan tokoh lainnya). Jadi tidak karena ibunya, lalu lambang verbalnya memberikan suatu simbol lebih spesial, tidak. Nah ini menunjukkan bahwa Puan Maharani punya kemampuan komunikasi egaliter, semua sama-sama dia hormati," tegasnya.

Kemudian dari sisi suara dan tekanannya (intonasi), menurut Emrus, Puan memiliki suara dan tekanan kerakyatan, tidak seperti tokoh-tokoh lain yang diatur sedemikian rupa. "Dia tetap sebagai Puan Maharani yang tetap jadi dirinya dari sudut komunikasi, sekalipun itu pidato di sidang DPR," katanya.

Dengan beragam penilaian positif tersebut, Puan Maharani membuktikan bahwa dirinya sosok seorang pemimpin yang memiliki kualitas serta kemampuan yang selama ini belum diketahui publik. Kini, Puan layak mendapatkan tempat terhormat di hati rakyat sebagaimana tercermin dari beragama komentar positif netizen.

Seorang warganet, dalam akun Instagramnya @anis_anastasiaperwitasari mengakui sempat memandang sebelah mata. Namun, perspektif tersebut langsung ia buang setelah melihat dan menyaksikan Puan dalam kesempatan langsung.

“Saya dulu memandang sebelah mata, karena (jangan-jangan) backgroundnya sebagai cucu Soekarno, sehingga diangkat-angkat. Tapi pernah lihat pas di TV dalam satu wawancara, ternyata pemikirannya bagus dan pintar,” tulis Anis.

Pujian lain juga datang dari pemilik akun @kangsil2. Selain kharisma saat berpidato, gaya berbusana Puan yang menonjolkan pakaian daerah dan khas Indonesia juga menuai pujian.

“Saya selalu melihat beliau (Puan Maharani) secara tidak langsung acap kali mempromosikan khas-khas daerah seperti kuliner, kerajinan, dan bahkan kebaya Kutubaru yang dikenakannya. Menurut saya keren,” katanya.

(*/eki)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan



×
Berita Terbaru Update