Menilik Keunikan Nagari Koto Kaciak Bonjol bersama Mahasiswa KKN-PPM Unand
×

Adsense

Adsense Mobile

Menilik Keunikan Nagari Koto Kaciak Bonjol bersama Mahasiswa KKN-PPM Unand

Selasa, 06 September 2022 | 16.30 WIB Last Updated 2022-09-06T11:19:19Z

Advertisement

Advertisement

Advertisement

KKN-PPM Unand di Nagari Koto Kaciak
Kelompok KKN-PPM Unand di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman. (f/dok pribadi)

PASAMAN, Mjnews.id - Kuliah Kerja Nyata - Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) merupakan salah satu agenda yang rutin dilakukan Universitas Andalas (Unand), Padang, dalam melakukan program pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat serta menjadi wahana penerapan ilmu dan teknologi di luar kampus.

Setiap tahunnya, Unand mengirimkan sekitar 5.000 mahasiswa yang disebar ke seluruh nagari yang ada di Sumatera Barat. Kegiatan KKN PPM dilaksanakan selama kurang lebih 40 hari. Saat ini, kegiatan KKN Unand dikelola oleh sebuah Unit Pengelola Teknis (UPT-KKN) yang berasal dari tenaga pengajar dan kependidikan yang memiliki jiwa pengabdian pada masyarakat. 

Untuk pertama kalinya pasca Covid-19, Unand kembali melaksanakan KKN PPM di Sumatera Barat. Setelah sebelumnya KKN dilaksanakan didomisili masing-masing mahasiswa, kini ada lebih dari 181 Nagari menjadi tempat KKN mahasiswa. Dari ujung Pesisir Selatan sampai ujung Kabupaten Dharmasraya, di tahun 2022 lebih dari 4.000 mahasiswa diturunkan ke daerah.

Menariknya, untuk KKN di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, hanya terdapat 1 kelompok KKN yang berjumlah 21 mahasiswa. Padahal, di kecamatan lain bisa terdiri sampai 3-5 kelompok KKN. Jumlah mahasiswa pun terbilang lebih sedikit jika dibandingkan dengan kelompok lain yang bisa berjumlah 28 orang.

Dalam setiap kelompok KKN, masing-masing akan mendapatkan satu dosen pembimbing lapangan (DPL) yang akan membimbing kelompok KKN dalam melaksanakan program kerja nantinya. "DPL kelompok KKN Nagari Koto Kaciak bernama Muhammad Ilhamdi Rusydi, seorang dosen dari Fakultas Teknik Elektro Universitas Andalas," kata Witriani, salah seorang mahasiswa KKN-PPM Unand, Selasa (06/09/2022).

Sedikit informasi, Bonjol adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Bonjol berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam dan Kabupaten Lubuk Sikaping. Uniknya, dari 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Pasaman, Kecamatan Bonjol lah yang nantinya akan dikembangkan secara serius sebagai pusat destinasi wisata Pasaman. Karena hanya di Bonjol terdapat titik nol derajat khatulistiwa atau garis equator sekaligus merupakan tanah kelahiran Tuanku Imam Bonjol, salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. 

Di equator, panggilan penduduk setempat untuk kawasan taman equator yang terdapat titik nol derajat, pengunjung akan disambut dengan sebuah gerbang bertuliskan “Anda Melintasi Khatulistiwa” beserta tugu equator berbentuk bangunan bulat besar berwarna biru muda yang menyerupai bola dunia.

Saat yang tepat untuk berwisata ke Bonjol adalah ketika matahari benar-benar berada di titik nol derajat atau titik kulminasi dimana bayang-bayang tubuh pada siang hari akan hilang dari permukaan tanah yang terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan 23-23 September setiap tahun.

Selagi melaksanakan program kerja yang telah disusun sedemikian rupa, mahasiswa KKN Koto Kaciak tak lupa untuk jalan-jalan ke tempat wisata yang ada di Kecamatan Bonjol. Salah satunya adalah museum Tuanku Imam Bonjol.

Saat pertama tiba, pengunjung akan disambut patung Tuanku Imam Bonjol yang sedang menunggang kuda dengan posisi kaki kiri kuda mengangkat ke atas. Museum ini terdiri dari dua lantai. Di lantai satu, pengunjung akan disuguhi perpustakaan bernuansa vintage, kaca-kaca berisi pakaian adat khas Minangkabau dan pakaian zaman Belanda, serta melihat relief pahlawan Tuanku Imam Bonjol dalam peperangan. Beranjak ke lantai dua, benda-benda yang dipamerkan pun tak kalah menarik. Ada lukisan-lukisan besar zaman peperangan, senjata perang seperti pedang dan meriam, sampai peralatan dapur yang dipakai kaum wanita pada zaman itu sebagai logistik perang.

Tempat wisata lain yang dikunjungi mahasiswa KKN Koto Kaciak adalah wisata ikan banyak di Jorong Batu Hampar, salah satu jorong di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Bonjol. Di sana, pengunjung bisa memberi makan ikan-ikan menggunakan pelet ataupun jagung yang dijual di kedai seharga dua ribu rupiah. Airnya yang hijau jernih serta ikannya yang banyak dan besar menjadi daya tarik tersendiri tempat wisata ini.

Sayang, perhatian pemerintah dan masyarakat setempat terbilang minim. Banyak sampah berserakan. Akses menuju sungai terbilang terjal karena bebatuan rusak akibat banjir besar. Andai saja pemerintah setempat, niniak mamak, dan masyarakat sekitar peduli pada tempat wisata alami ini, akan berjalan lurus dengan peningkatan pengunjung.

Sarapan seharga tiga sampai lima ribu rupiah? Untuk di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya agak mustahil ditemukan. Tapi di Nagari Koto Kaciak harga makanan sangat terjangkau.

Terakhir, tak lupa sunset Koto Kaciak yang selalu cantik untuk dilewatkan setiap senja. Dengan latar bukit barisan dan gunung tak jadi, Koto Kaciak menjadi nagari yang menarik untuk disinggahi.

Sumber: Witriani

(***)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan



×
Berita Terbaru Update