3 Anthem Klub, PSIM Yogya, PSS Sleman dan Persis Solo Menggema di Stadion Mandala Krida
×

Adsense

Adsense Mobile

3 Anthem Klub, PSIM Yogya, PSS Sleman dan Persis Solo Menggema di Stadion Mandala Krida

Rabu, 05 Oktober 2022 | 08.36 WIB Last Updated 2022-10-05T01:36:28Z

Advertisement

Advertisement

Yogyakarta, MJNews.id - Pendukung klub sepak bola di DIY- Jateng menyalakan lilin sebagai simbol duka atas korban tragedi Kanjuruhan di Stadion Mandala Krida, Selasa (4/10/2022) malam. 

Tiga anthem klub yakni Aku Yakin Dengan Kamu (PSIM), Satu Jiwa (Persis Solo) dan Sampai Kau Bisa (PSS) juga dinyanyikan secara bergantian oleh ribuan suporter di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Selasa (4/10/2022) malam.

Ini menjadi momen yang sangat langka, menjadi sebuah hari yang bersejarah, sebab pendukung klub yang selama beberapa dekade dikenal memiliki rivalitas panas di dalam maupun luar lapangan bisa berbaur menjadi satu.

Ya, tragedi di Stadion Kanjuruhan yang menewaskan ratusan suporter Arema FC menjadi momentum refleksi suporter DIY- Jawa Tengah mengubur dalam dendam masa lalu, menyudahi permusuhan dan mulai merajut perdamaian.

Tanpa mengesampingkan tragedi Kanjuruhan yang begitu menyayat hati, mereka tegas menyuarakan tuntutannya kepada pihak berwajib, untuk mengusut tuntas Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan jiwa.

Presiden Brajamusti, Muslich Burhanuddin bersama Ketua The Maident, Budi Santoso berharap momen bertemunya elemen suporter DIY - Jateng dalam acara salat gaib serta doa bersama tersebut menjadi tonggak perdamaian suporter.

"Kita suporter yang hadir malam ini akan menghentikan kebencian yang ada di hati kita. Kita hanya akan mewariskan sukacita pada anak cucu kita. Insya Allah dengan ikhlas atas kejadian telah lalu tidak akan lagi terjadi khususnya di DIY dan sekitarnya. Kita bersatu dan sepakat," ujar Thole, sapaan akrab Muslich Burhanuddin.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa mewarisi perdamaian untuk generasi berikutnya adalah hal baik yang harus diupayakan saat ini.

"Memutus rantai rivalitas (destruktif) bisa dimulai dari diri kita sendiri mulai saat ini agar generasi setelah kita bisa menikmati sepakbola penuh suka cita," ujar dia.

Sebelumnya, presiden Pasoepati, Maryadi 'Gondrong' menyambut positif rekonsiliasi antara suporter di wilayah DIY - Jateng.

"Tanpa sedikitpun mengesampingkan tragedi di Kanjuruhan, ini menjadi hal positif ke depan. Rivalitas yang cukup lama antara Solo dan Jogja, ini akan kita bangun kembali untuk hal-hal yang positif," kata Maryadi Gondrong.

Maryadi menyebut rivalitas seharusnya hanya terjadi di 90 menit atau dalam pertandingan saja.

"Harapan kita seperti itu, agar tidak ada korban-korban yang berjatuhan. Kita bikin bahwa suporter ini jangan identik dengan brutalitas tapi identik dengan kreativitas," ucapnya.

"Terpenting kisah ini nantinya tidak hanya sebatas pertemuan ini saja. Kami harap pengurus dari DPP juga dapat mensosialisasikan hingga ke akar rumput," kata Maryadi.

dari informasi yang di kumpulkan awak media di lapangan ada sekitar belasan kelompok yang hadir dari DIY-Jateng dan beberapa daerah lainnya, semisal CNF, Paserbumi, Slemania, BCS, Jakmania, Viking, Bonek, Ultras Garuda, La Grande, Sriwijaya, Maczman, Smeck Aremania, Suporter Persipura, Suporter Magelang hingga Pasoepati, dan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir penyintas Tragedi Kanjuruhan, seorang Aremania, Alfan. Pemuda yang tengah menempuh pendidikan di Yogyakarta ini mengungkapkan kesedihannya di hadapan semua suporter.

"Kami sangat terpukul, berduka apa yang terjadi di Malang. Saya di sini salah satu korban dari puluhan ribu di Kanjuruhan, saya bersyukur bisa kembali ke sini untuk menempuh pendidikan," kata Alfan.

"Saya berterimakasih, kumpul di sini untuk berdoa. Kami mencari keadilan buat saudara kita di Malang, tidak ada sepak bola seharga nyawa. Sepak bola hiburan bukan pembantaian," pungkas dia.

(Dana)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan

Adsense

×
Berita Terbaru Update