Forum R20: Inisiatif Ketua Umum PBNU agar Agama Lebih Proaktif Atasi Persoalan Dunia
×

Adsense

Adsense Mobile

Forum R20: Inisiatif Ketua Umum PBNU agar Agama Lebih Proaktif Atasi Persoalan Dunia

Selasa, 18 Oktober 2022 | 10.00 WIB Last Updated 2022-10-18T10:17:15Z

Advertisement

Advertisement

Savic Ali
Savic Ali. (f/nu)

JAKARTA, Mjnews.id - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Savic Ali, menegaskan bahwa Forum Agama G20 atau Religion of Twenty (R20) memperluas peran PBNU dalam mengatasi problem dan konflik di tingkat global.

Savic Ali menjelaskan NU sejak didirikan memang memiliki visi internasional. Sebagaimana Indonesia dalam Proklamasi Kemerdekaan-nya menegaskan visi membentuk perdamaian dunia, NU juga memiliki visi ke arah sana. Dalam konteks geopolitik global, pendirian NU bukan semata reaksi atas kekuasaan Ibnu Saud di Hijaz.

 Menurut Ketua Umum PBNU, K.H. Yahya Cholil Staquf, NU sebetulnya lahir karena kekosongan peran politik dan keagamaan akibat runtuhnya Turki Utsmani.

“Selama ini umum diyakini pendirian NU karena penguasaan Ibnu Saud atas Haramain (Makkah dan Madinah). Gus Yahya menarik benang merah historis lebih jauh bahwa pendirian NU berkaitan dengan keruntuhan Turki Utsmani, bukan hanya karena perubahan di Haramain. Sebab, runtuhnya Turki Utsmani menciptakan kevakuman politik dan keagamaan,” kata Savic seperti dalam siaran persnya di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa 18 Oktober 2022.

Ketika Turki Utsmani runtuh, negara-negara di Timur Tengah mendirikan kerajaan. Indonesia tidak mendirikan kerajaan serupa dengan berdasar agama, tetapi memilih mendirikan negara baru bersama warga lain sehingga lahir negara berbentuk republik.

Perjuangan internasional itu terus dimainkan oleh NU melalui proses panjang penuh dinamika. Pada era Reformasi, NU di masa kepemimpinan K.H. Hasyim Muzadi (1999-2010) menggelar International Conference of Islamic Scholar (ICIS). Sementara di periode kepemimpinan K.H. Said Aqil Siroj (2010-2021), NU menggelar International Summit of the Moderate Islamic Leaders (ISOMIL).

PBNU juga mengundang tokoh-tokoh agama dan politik Afganistan pada 2011. Bahkan, tokoh-tokoh NU juga diundang ke sana untuk mendorong perdamaian di negeri tersebut. “Itu bagian dari ikhtiar PBNU untuk ikut berperan paling tidak di negara-negara mayoritas Muslim. Buat apa kita mengklaim diri organisasi Muslim terbesar di dunia, tetapi tidak menciptakan perdamaian di negara Muslim?” ujar Savic.

Di era Gus Yahya ini, kata Savic, jangkauan upaya mewujudkan peradamaian itu diperluas; tidak hanya kepada Muslim, tetapi juga dengan pemeluk agama lain. Gus Yahya telah melakukan komunikasi dengan para pemuka agama dunia sejak lama.

“Forum R20 diinisiasi Gus Yahya agar agama dan pemimpin agama lebih proaktif membantu persoalan dunia; mulai dari konflik antar-pemeluk agama, penyalahgunaan politik identitas, rasialisme, dan persoalan lain. Harus kita akui, agama ikut berperan dalam sejumlah konflik di berbagai belahan dunia,” katanya.

Sebab harus diakui, ada kelompok Islam yang membenarkan aksi teror. Di India dan Myanmar, Muslim dipersekusi kelompok mayoritas Hindu dan Buddha. Di Amerika Serikat juga muncul sejumlah persekusi yang berbasis ras. Sementara di Eropa juga terdapat Islamofobia. Di sejumlah tempat, ada politik identitas agama untuk membenci yang lain.

“Makanya, R20 mengajak pemimpin agama dan negara benar-benar berpikir bagaimana agama berperan aktif untuk memecah problem yang menghantui dunia,” tuturnya.

Karena itu, Gus Yahya menginisiasi R20 untuk memperkuat kerja-kerja sebelumnya ketika menjadi Katib ‘Aam PBNU. Ia telah lama membangun hubungan agama dan politik dunia. “Ini momentum NU, sebagai organisasi keagamaan dengan jumlah anggota terbesar, agar bisa meningkatkan peran internasionalnya, bisa meningkatkan kehadirannya dalam konteks mengatasi persoalan dunia,” lanjut Savic.

Langkah Gus Yahya ini, kata Savic, merupakan upaya untuk menghidupkan kembali apa yang sudah dirintis oleh Ketua Umum PBNU 1984-1999, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sebab, diakui atau tidak, peran NU di tingkat global belum begitu konkret.

R20 adalah permulaan dari forum-forum berikutnya yang mengikuti presidensi G20. Di India pada 2022, di Brazil pada 2023, di Afrika Selatan pada 2024, dan seterusnya. Penyelenggaraan ini, Savic menegaskan, dilandasi semangat untuk mendorong perdamaian dan menciptakan peradaban baru yang lebih baik.

Undangan kepada kelompok-kelompok sayap kanan memang mesti dilayangkan. Sebab, siapapun yang punya masalah dengan Muslim harus diundang dan diajak bicara; baik Cina, India, Amerika Serikat, maupun negara-negara Eropa.

“Jika dialog tidak dibuka, maka tidak ada kemajuan. Yang ada konflik terus. Kita butuh percakapan itu sehingga bisa saling menyadari perspektif masing-masing,” pungkas Savic.

Dialog yang Jujur dan Terus Terang
Sementara itu, secara terpisah, Gus Yahya menyampaikan bahwa R20 didesain agar para tokoh agama berbicara secara jujur mengenai problem masing-masing agama. Sebab, menurutnya, klaim masing-masing agama sebagai agama yang damai dan mendorong harmoni masih memerlukan bukti. Dalam kenyataannya, ada masalah besar dan mendasar terkait hubungan antaragama.

“Tidak ada jalan keluar dari masalah itu, selain agama dan para pemimpinnya harus berdialog secara jujur tanpa menutup-nutupi, terus terang, dan langsung menohok kepada sumber masalah,” kata Gus Yahya, Selasa (18/10/2022).

Melalui dialog yang terus terang, solusi bagi penyelesaian konflik akan semakin jelas. Setelah itu, barulah agama-agama bisa merumuskan kontribusi bagi perdamaian dunia.

“Dengan dialog yang jujur dan terus terang itu, kita harapkan kita jadi tahu apa masalah yang nyata dan tahu bagaimana menyelesaikannya. Terbuka kesempatan bagi agama untuk juga secara nyata berkontribusi di dalam mencari jalan keluar dari berbagai permasalahan dunia,” pungkasnya.

(***)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan

Adsense

×
Berita Terbaru Update