Menjelajah Malamang, Tradisi Maulid Nabi dari Pariaman
×

Adsense

Adsense Mobile

Lazada

Menjelajah Malamang, Tradisi Maulid Nabi dari Pariaman

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 03.00 WIB Last Updated 2022-10-22T04:49:34Z

Advertisement

Advertisement

tradisi malamang
Tradisi malamang. (f/antara)

Oleh: Nabilla Fauziyah Syarip

Mjnews.id - 12 Rabi’ul Awal 1444 H jatuh pada bulan Oktober 2022 ini, tepatnya pada tanggal 7 Oktober 2022 lalu. Dalam memperingati Maulid Nabi, banyak tradisi yang dilaksanakan berdasarkan adat dan daerah masing-masing.

Di Pariaman, terdapat beberapa tradisi salah satunya yaitu Malamang. Tradisi ini banyak digunakan di acara-acara keagamaan seperti menjelang Ramadhan, Isra’ Mi’raj, hingga Maulid Nabi. Malamang dalam Bahasa Indonesia berarti membuat lemang.

Setiap tahun di tiap daerah Sumatera Barat khususnya di Pariaman pasti mengadakan tradisi ini. Tidak lengkap rasanya jika tradisi ini tidak dilaksanakan, karena tradisi ini merupakan kebiasaan nenek moyang yang berawal dari Syekh Burhanuddin. 

Syekh Burhanuddin merupakan seorang pembawa ajaran Islam dari Pariaman di Minangkabau yang melakukan perjalanan ke daerah pesisir untuk menyampaikan agama Islam dengan cara silaturrahim. Dalam perjalan beliau, masyarakat sering memberikan makanan yang masih diragukan kehalalannya. Maka, beliau menyarankan agar masyarakat mencari bambu, mengisinya dengan ketan dan santan yang dilapisi oleh daun pisang muda, lalu dipanggang.

Lemang yang dibuat juga bermacam-macam, ada yang menggunakan ketan putih biasa, ketan hitam hingga ditambah dengan pisang. Hidangan ini yang akhirnya disebut ‘Lemang’ yang kegiatan pembuatannya disebut ‘Malamang’ dalam bahasa Minang.

Tradisi ini sangat luas cakupan nilainya. Syekh Burhanuddin menyarankan lemang menjadi simbol makanan yang dihidangkan di silaturrahim. Tidak hanya tentang makna silaturrahim, tradisi ini merupakan simbol kebersamaan dan kerjasama. Karena proses pembuatannya pun memerlukan orang banyak di luar ruangan. Dalam proses pembuatannya inilah terjalin ikatan saling gotong royong. Malamang sambil bersholawat bersama dilakukan dari pagi hingga malam hari yang selanjutnya dilaksanakan makan bajamba.

Makan bajamba sendiri adalah makan bersama-sama dalam satu ruangan. Hidangan pun bermacam-macam mulai dari nasi dan lauk-pauknya, lemang yang sudah dibuat, buah-buahan dan lain-lain.

Pada acara Maulid Nabi atau menjelang Ramadan, kegiatan biasa dilakukan di teras masjid atau di dalam masjid. Sekaligus nantinya terdapat ceramah mengenai peringatan keagamaan yang sedang berlangsung.

Dengan adanya kegiatan Malamang ini, diharapkan masyarakat Sumatera Barat tetap melestarikan tradisi ini. Karena tentu akan menimbulkan semangat yang tak pernah pudar untuk menjalankan ibadah dan senantiasa termotivasi untuk selalu mengingat dan mencintai Nabi Muhamamad Shallallahu Alaihi Wasallam. Karena Nabi pun mencintai hubungan antar ummatnya selalu baik.

Yang paling penting dari tradisi ini adalah bagaimana setiap umat Muslim di Sumatera Barat agar senantiasa meneladani Rasulullah serta mengintropeksi diri masing-masing sejauh mana amalan yang sudah dilakukan, bagaimana hubungan manusia dengan manusia lainnya (Hablumminannas).

Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas Padang

(***)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan

Adsense

×
Berita Terbaru Update