Misteri Obat Sirup yang Diduga Menyebabkan Gagal Ginjal

Obat sirup
Obat sirup. (f/ist)

Pada 2 bulan belakangan ini, banyak masyarakat Indonesia terutama khalangan anak-anak yang berumur 6 bulan hingga 18 tahun mengalami penyakit gagal ginjal. Hingga 21 Oktober 2022, Menteri kesehatan mengkonfirmasi sudah 241 anak Indonesia idap gagal ginjal misterius, 133 korban meninggal dunia.

Oleh: Yoga Saputra

ADVERTISEMENT

1672718317 zd2LclJzIi3V8sEfHHWPFagJbbGo8jsG

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mjnews.id -Tentu saja hal tersebut membuat para orang tua khawatir terhadap hal tersebut akan terjadi kepada anak-anak mereka. Namun Kemenkes meinta untuk orang tua untuk tetap tenang dan selalu waspada dan selalu mengawasi anak-anak mereka.

“Orang tua harus lebih berhati-hati, pantau terus kesehatan anak-anak kita, jika anak mengalami keluhan yang mengarah konsultasi ke tenaga kesehatan jangan ditunda atau mencari pengobatan sendiri,” ujar Pit. Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan dr. Yanti Herman, MH. Kes.

Baca Juga  RSUD HAMS Kisaran Study Banding ke RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang

Kasus gagal ginjal ini disebabkan oleh mengkonsumsi beberapa jenis obat cair atau yang biasa kita kenal dengan sirup. Hal ini terjadi karena adanya campuran cemaran EG dan DEG diatas batas aman pada beberapa jenis sirup. Eg dan DEG adalah satu cemaran yang biasa ditemukan pada bahan baku pembuatan sirup.

BPOM mengatakan bahwa temuan lima produk yang tercemar etilen glikol dan itu belum dapat menyimpulkan bahwa penggunaan lima sirup tersebut memiliki hubungan dengan kejadian gagal ginjal akut.

Menurut BPOM selain penggunaan obat, masih terdapat beberapa faktor peningkatan risiko penyebab kejadian gagal ginjal ini yaitu seperti infeksi virus, bakteri Leptospira, dan multisystem inflammatory syndromr in children (MISC) atau sindrom peradangan multisystem dampak dari kasus COVID-19 kemarin.

Baca Juga  Puan Dorong Cuti Melahirkan 6 Bulan, Mental-Fisik Ibu-Anak Akan Terjaga

Untuk menimalisir terjadinya gagal ginjal ini, ada beberapa pemerintah kota yang mengambil tidakan. Seperti Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi akan menyiapkan surat edaran tentang penjualan obat sirup demam anak. Begitu juga dengan pemerintahan Kabupaten Gorontalo.

Namun di lain sisi, keputusan seperti itu memiliki dampak lain, seperti anak-anak penderita penyakit kronis yang harus minum obat secara rutin dalam bentuk sirup akan kesulitan untuk mendapatkannya.

Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas Padang

(***)