Pakai Masker jadi Budaya Baru di Masyarakat Usai Pandemi Covid-19
×

Adsense

Adsense Mobile

Pakai Masker jadi Budaya Baru di Masyarakat Usai Pandemi Covid-19

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 01.00 WIB Last Updated 2022-10-22T04:39:04Z

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Ilustrasi.

Oleh: Najmil Latifah

Mjnews.id - Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan Cina, pada Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID-19).

COVID-19 disebabkan oleh SARS-COV2 yang termasuk dalam keluarga besar coronavirus yang sama dengan penyebab SARS pada tahun 2003, hanya berbeda jenis virusnya. Gejalanya mirip dengan SARS, namun angka kematian SARS (9,6%) lebih tinggi dibanding COVID-19 (kurang dari 5%), walaupun jumlah kasus COVID-19 jauh lebih banyak dibanding SARS. COVID-19 juga memiliki penyebaran yang lebih luas dan cepat ke beberapa negara dibanding SARS.

Seperti penyakit pernapasan lainnya, COVID-19 dapat menyebabkan gejala ringan termasuk pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Sekitar 80% kasus dapat pulih tanpa perlu perawatan khusus. Sekitar 1 dari setiap 6 orang mungkin akan menderita sakit yang parah, seperti disertai pneumonia atau kesulitan bernafas, yang biasanya muncul secara bertahap.

Walaupun angka kematian penyakit ini masih rendah (sekitar 3%), namun bagi orang yang berusia lanjut, dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung), mereka biasanya lebih rentan untuk menjadi sakit parah.

Seseorang dapat terinfeksi dari penderita COVID-19. Penyakit ini dapat menyebar melalui tetesan kecil (droplet) dari hidung atau mulut pada saat batuk atau bersin. Droplet tersebut kemudian jatuh pada benda di sekitarnya. Kemudian jika ada orang lain menyentuh benda yang sudah terkontaminasi dengan droplet tersebut, lalu orang itu menyentuh mata, hidung atau mulut (segitiga wajah), maka orang itu dapat terinfeksi COVID-19. Atau bisa juga seseorang terinfeksi COVID-19 ketika tanpa sengaja menghirup droplet dari penderita. Inilah sebabnya mengapa kita penting untuk menjaga jarak hingga kurang lebih satu meter dari orang yang sakit.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan virus ini adalah Menjaga kesehatan dan kebugaran agar stamina tubuh tetap prima dan sistem imunitas / kekebalan tubuh meningkat. Adapun himbauan dari pemerintah sebagai kunci utama memutus mata rantai persebaran virus Covid-19 adalah menerapkan 3M: Mencuci tangan dengan benar secara teratur menggunakan air dan sabun atau hand-rub berbasis alkohol, mencuci tangan sampai bersih selain dapat membunuh virus yang mungkin ada di tangan kita, tindakan ini juga merupakan salah satu tindakan yang mudah dan murah.

Sekitar 98% penyebaran penyakit bersumber dari tangan. Karena itu, menjaga kebersihan tangan adalah hal yang sangat penting. Menjaga jarak (hindari kontak dengan orang lain atau bepergian ke tempat umum). Menggunakan masker dengan benar hingga menutupi mulut dan hidung ketika Anda sakit atau saat berada di tempat umum.

Namun setelah berlalu atau berkurangnya wabah pandemic covid-19 ini, banyak aturan yang diperlakukan saat masa pandemic menjadi kebiasaan saat kondisi dunia kembali berjalan secara normal. Seperti pada aturan dalam menggunakan masker. 

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bebas masker yang  telah berlaku sejak Rabu 18/5/2022 lalu meski masih menekankan masyarakat yang masuk kategori rentan dan lanjut usia dan memiliki komorbid disarankan untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas baik di dalam atau luar ruangan. Namun pada kenyataannya banyak masyarakat yang masih menggunakan masker saat berpergian keluar rumah bahkan saat bekerja di dalam ruangan dan enggan untuk melepaskan masker.

Kondisi tersebut menjadi lumrah dan wajar didalam lingkungan masyarakat karena penerimaan dan penyesuaian oleh masyarakat itu sendiri. Salah satu alasan masyarakat enggan untuk melepaskan masker saat berpergian adalah karena kebiasaan, bahkan ada yang menggunakan masker agar lebih percaya diri saja. Hingga pada akhirnya hal tersebutlah yang menjadi kebudayaan baru bagi masyarakat dalam menggunakan masker.

Penulis, Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas Padang

(***)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan

Adsense

×
Berita Terbaru Update