Peran Ganda Kelenteng See Hin Kiong Padang dan Berbagai Persepsi Masyarakat Terhadapnya
×

Adsense

Adsense Mobile

Peran Ganda Kelenteng See Hin Kiong Padang dan Berbagai Persepsi Masyarakat Terhadapnya

Kamis, 20 Oktober 2022 | 03.00 WIB Last Updated 2022-10-20T02:34:33Z

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Kelenteng See Hin Kiong Padang
Kelenteng See Hin Kiong Padang. (f/ist)

Oleh: Arya Raudha Suri

Mjnews.id - Padang adalah kota terbesar yang berada di Sumatra Barat dan sekaligus menjadi ibukota dari Provinsi Sumatra Barat. Sebagai kota seni dan budaya, tentunya Padang memiliki beranekaragam jenis dan bentuk masyarakat. Selain dengan mayoritas agama Islam, bahkan salah satu wilayah di kota Padang dijadikan tempat tinggal khusus bagi mereka yang beragama Konghucu. Tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan Klenteng See Hin Kiong.

Klenteng ini berlokasi di Jalan Klenteng No. 312, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang. Klenteng ini adalah klenteng pertama sekaligus tertua di kota Padang. Selain tempat ibadah, klenteng ini juga dijadikan tempat wisata bagi mereka yang tertarik dengan corak maupun culture yang dimiliki oleh masyarakat Tiongkok yang tinggal di Kota Padang.

Klenteng See Hien Kiong merupakan bangunan heritage yang memiliki nilai sejarah bagi warga keturunan Tiongkok di Padang. Sejak didirikan pada tahun 2013, Klenteng See Hien Kiong menjadi tempat wisata bagi mereka yang tertarik akan negeri tirai bamboo yang ada di ranah Minang. Hal ini tentu mengundang pro dan kontra di masyarakat. Apalagi Klenteng yang bernilai sebagai tempat ibadah dijadikan tempat yang dapat dikunjungi masyarakat umum. Masyarakat keturunan Tiongkok tentu memiliki pandangan tersendiri terhadap tempat ibadah mereka yang dijadikan sebagai tempat untuk wisata.

Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi secara langsung seperti wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Penelitian ini dikembangkan melalui beberapa landasan teori yaitu asimilasi, objek wisata, daya tarik, wisatawan, dan wisata religi. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat dampak sosial budaya yang dilihat dari sudut pandang pengurus klenteng dan masyarakat sekitar.

Dampak sosial yang ada berupa lapangan kerja, mata pencaharian, dan interaksi yang terjalin di masyarakat. Selain dampak sosial, dampak ekonomi yang muncul akibat adanya pabrik rokok dapat berupa peningkatan atau penurunan pendapatan rumah tangga di setiap masyarakat.

Menurut antropologi, persepsi yaitu memandang manusia sebagai sesuatu yang kompleks. Maka, antropologi melihat manusia dari banyak aspek, mencakup fisik, emosi, sosial, hingga kebudayaan. Secara etimologi, persepsi berasal dari bahasa inggris yaitu “perception” yang artinya tanggapan. Melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungan. Hubungan ini dilakukan lewat indranya, yaitu indra pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman. Berdasarkan hal tersebut, persepsi individu terhadap dunia sekitarnya berbeda satu sama lainnya. 
Berdasarkan penjelasan beberapa ahli disimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu proses yang dilalui atau dialami oleh masyarakat individu dalam memberikan makna terhadap sesuatu hal atau suatu fenomena yang ditimbulkan oleh rangsangan dari indra atau “panca indra” individu tersebut. Persepsi akan berlanjut dengan reaksi terhadap makna yang diinterpretasikan dari persepsi tersebut. Sedangkan secara umum Persepsi yaitu sekumpulan tindakan mental yang mengatur impulsimpul sensorik menjadi suatu pola bermakna.

Di beberapa daerah, kelenteng dipersepsikan sebagai istilah tokong. Istilah ini diambil dari bunyi suara lonceng yang dibunyikan pada saat menyelenggarakan upacara. Kelenteng adalah istilah “generic” untuk tempat ibadah yang bernuansa arsitektur Tionghoa, dan sebutan ini hanya dikenal di pulau Jawa, 

Objek Wisata adalah segala sesuatu yang ada di suatu daerah tujuan wisata yang mana itu merupakan daya tarik agar orang-orang ingin dating dan berkunjung ke tempat atau daerah tersebut. Objek dan daya tarik wisata menurut Undang-undang Nomor 10 tentang Kepariwisataan yaitu daya tarik wisata adalah semua sesuatu yang mempunyai keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa suatu keanekaragaman kekayaan alam. Daya tarik adalah faktor utama yang memikat wisatawan untuk mengadakan perjalanan untuk mengunjungi suatu tempat, baik itu tempat primer yang menjadi tujuan utamanya ataupun tujuan sekunder yang dikunjungi dalam suatu perjalanan primer karena keinginannya untuk merasakan dan menikmati daya tarik tujuan tersebut.

Dengan masuknya pendatang etnis Tionghoa ke kota Padang tentunya mengakibatkan pembangunan klenteng. Pada waktu itu suku Tjiang dan Tjoan Tjioe datang untuk berdagang di kota Padang. Lalu didirikan klenteng Kwan Im pada tahun 1891 lalu akibat keteledoran pendeta Sae Kong terjadi kebakaran sehingga beberapa pihak bermufakat untuk membangun kembali klenteng Kwan Im yang sampai saat ini bernama See Hin Kiong. Lalu pada tahun 2009 terjadi gempa yang merobohkan klenteng tersebut.

“Memang dulu terjadi gempa di klenteng yang lama dan tidak bisa digunakan lagi untuk beribadah, setelah itu pada 2010 dibangun lagi klenteng yang baru dengan nama yang sama dan pada tahun 2013 diresmikannya klenteng baru ini,” ucap Lo Kem Hong atau biasa dipanggil Ahong sebagai penjaga klenteng.

Secara detailnya klenteng ini diresmikan pada 30 Maret 2013 dengan nama yang saa yakni klenteng See Hin Kiong. Klenteng ini memiliki dominasi warna merah sehingga membuat wisatawan tertarik untuk berkunjung.

Bentuk-bentuk ibadah yang dilakukan umat Konghucu sebagai berikut :
  1. Ibadah Er Shi Sheng An / Ji Si Siang An ibadah ini dilaksanakan oleh umat Khonghucu untuk memanjatkan puji syukur atas keselamatan dan berkah yang telah diterima selama 1 tahun.Ibadah ini adalah prosesi menghantarkan Dewa Dapur Zao Jun ke surga untuk melaporkan tugasnya selama setahun di bumi kepada Tian.
  2. Ibadah Zhu Xi Ibadah ini merupakan ibadah wajib yang dilaksanakan oleh umat Khonghucu dan dimaknai sebagai doa di ujung tahun atau doa penutup tahun.Ibadah ini dilakukan di depan meja abu leluhur masing-masing keluarga, sebagai wujud laku bakti pada para leluhur, sebagaimana yang menjadi inti ajaran Khonghucu.
  3. Ibadah di pagi hari Di pagi hari, umat Khonghucu melaksanakan ibadah kepada Tuhan untuk berjanji hidup lebih baik di tahun berjalan. Kemudian setelahnya memberikan selamat dan memohon restu kepada orangtua atau yang dituakan, serta sampai dua pekan berikutnya saling bersilaturahmi memberikan ucapan selamat serta saling mendoakan kebahagiaan dan kesejahteraan di tahun yang baru.
  4. Ibadah besar ke Hadirat Tian, Jing Tian Gong/Keng Thi Kong Ibadah ini dilaksanakan umat Khonghucu pada puncak malam antara pukul 23:00-01:00 WIB untuk memohon agar hidup lurus sepanjang tahun. Ibadah ini dilakukan di depan pintu rumah menghadap langit lepas dengan menggunakan altar yang terbuat dari meja tinggi berikut sesaji, berupa Sam-Poo (teh, bunga, air jernih), Tee-Liau (teh dan manisan 3 macam), Mi Swa, Ngo Koo (lima macam buah), sepasang Tebu, dan tidak lupa beberapa peralatan seperti Hio-Lo (tempat dupa), Swan-Loo (tempat dupa ratus-bubuk), Bun-Loo (tempat menyempurnakan surat doa) dan lilin besar.

Klenteng sebagai tempat ibadah multifungsi dijadikan sebagai tempat wisata bagi para pengunjung di mana hal tersebut meninmbulkan dampak dan persepsi masing-masing. Lo Kem Hong atau biasa dipanggil Ahong adalah salah satu dari penjaga dan petugas kebersihan klenteng yang berumur 62 tahun. Beliau adalah seorang keturunan Chinese dengan suku Lo. Pak Ahong sudah tinggal di Kampung Pondok selama 15 tahun dan sudah bekerja di klenteng tersebut selama 2,5 tahun.

Pak Ahong menjelaskan bahwa ia tidak merasakan dampak sosial budaya maupun ekonomi yang terjadi padanya sejak ia bekerja di sana. Hal ini dikarenakan oleh tidak adanya pemungutan biaya untuk wisatawan yang ingin berkunjung atau berfoto di Klenteng See Hin Kiong. Tidak ada parkir khusus untuk mereka yang berwisatawan. Yang diperbolehkan parkir di kawasan klenteng adalah mereka yang memiliki tujuan beribadah atau sembahyang.

Larangan Memasuki Klenteng Selain kebijakan di atas, terdapat beberapa kebijakan untuk wisatawan yang datang ke klenteng tersebut, seperti adanya beberapa sudut yang dibolehkan dan tidak dibolehkan dengan pembatas berupa rantai merah yang diletakkan sebagai tanda batas supaya wisatawan dapat membedakan mana bagian klenteng yang boleh dimasuki atau tidak. Untuk mereka yang ingin masuk dalam klenteng namun tidak dengan tujuan beribadah, harus memiliki surat izin dari pengurus untuk diperbolehkan masuk ke dalam klenteng.

Kebanyakan wisatawan yang datang adalah mereka yang berpendidikan dan memiliki jiwa toleransi yang tinggi, serta kebanyakan wisatawan berasal dari luar kota Padang, sehingga tidak akan mengganggu masyarakat yang sembahyang di dalam klenteng.

Ketika pandemi pun bagi wisatawan dan mereka yang bersembahyang haurs menaati protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan yang telah disediakan oleh pihak klenteng, dan mengatur jarak. Namun pada hari-hari biasa hal tersebut tidak harus dilaksanakan atau dibatasi.

Menurut pemaparan pak Ahong tidak ada perubahan yang signifikan dari dulu hingga sekarang. Perubahan yang terjadipun ialah dari pemerintah untuk masyarakat Tionghoa yang beribadah.

Dan untuk arsitektur bangunan, tidak ada yang ditambah demi kepentingan wisata. Meskipun masyarakat yang datang berwisata selalu tertib tetapi diterapkannya kebijakan lainnya seperti jam buka klenteng See Hin Kiong dari jam 08.00 – 18.00 WIB setiap hari harus dipatuhi oleh para wisatawan.

Persepsi selanjutnya diungkapkan oleh Bapak Kosasi yang berumur 62 tahun, yang bekerja sebagai Ketua 3 HBT di Kota Padang. Beliau merupakan seorang keturunan Chinese yang lahir dan besar di Kota Padang. Selanjutnya ada bapak Dadang, umurnya 65 tahun, juga merupakan keturunan Chinese yang lahir dan besar di Kota Padang, ia menjabat sebagai managemen di HBT Kota Padang.

Kedua informan tersebut menjelaskan bahwasannya tidak ada perubahan atau dampak sosial budaya pada masyarakat sekitar Klenteng akibat dibukanya sebagai salah satu objek wisata. Hal ini dikarenakan wisatawan hanya dapat memasuki Klenteng sebatas garis yang telah ditentukan.

Beliau mengatakan bahwasannya menjadikan Klenteng sebagai destinasi, sehingga dapat menggalakkan pariwisata yang ada di Kota Padang. Masyarakat sekitar sangat menerima kedatangan turis, baik wisatawan lokal ataupun mancanegara, dengan syarat wisatawan mematuhi aturan yang sudah ditetapkan oleh masyarakat sekitar. 
Beliau mengatakan wisatawan yang datang di saat ini masih terbilang sedikit, dikarenakan pada saat pandemik segala kegiatan di luar ruangan dibatasi, alhasil tidak ada pengunjung atau wisatawan yang mampir di klenteng.

Dalam penelitian di lapangan mendapatkan data dari narasumber yang bekerja sebagai juru parkir di sepanjang jalan di depan klenteng Shee Hin Kiong Salah satu narasumber yang kami tanya bernama Bapak Indra, yang berumur 54 tahun, yang memulai kerja di bulan Februari 2022, beliau mempunyai lahan seluas 200 meter yang dikelola bersama-sama dengan rekan-rekannya, awalnya Bapak Indra hanya menggantikan almarhum Abangnya, sistem pemarkiran memiliki di sini memiliki dua shift kerja yakni pagi sampai sore dan sore hingga malam Pak Indra lebih memilih shift pada pagi hingga sore karena banyak pengunjung atau orang yang ingin berkunjung di sepanjang klenteng.

Dalam proses wawancara itu, beliau mengatakan bahwa tidak terlalu berdampak pada penghasilannya terhadap pengunjung dan wisatawan ke klenteng ini beliau lebih mendapatkan hasil dari para pekerja kantoran yang ingin berbelanja di pasar sekitar tersebut daripada pengunjung atau wisatawan yang ingin mengunjungi kelenteng apalagi di saat zaman pandemi kemarin, beliau tidak ada mendapatkan untung dari hasil parkir dari para pengunjung yang ingin mengunjungi kelenteng.

Namun di saat bulan puasa, beliau mengatakan lebih banyak mendapatkan hasil parkir karena di sekitar area tersebut banyak tempat makan bagi non Islam karena penduduk di sana lebih banyak orang keturunan Chinese.

Pak Indra mematok kan tarif parkir kepada pengendara sepeda motor Rp2.000 dan mobil Rp4.000 dan pengendara mobil truk atau mobil kampas beliau memberikan karcis hasil parkir tersebut Bapak Indra menyetorkan hasilnya kepada Dinas Perhubungan Kota Padang.

Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitaran Klenteng
Sebagian besar masyarakat di sana berdominan bermata pencaharian sebagai Pedagang atau Berdagang. Dominan masyarakat disana menjadikan sasaran mata pencaharian sebagai Penjual berbagai macam bentuk makanan mulai dari makanan berat seperti nasi hingga makanan manis seperti kue-kuean. Selain itu masyarakat di sana juga mendapatkan hasil pencarian dari berjualan di Pasar yang berada di lingkungan Klenteng itu sendiri.

Menurut pedagang sekitar ada beberapa dampak yang terjadi bagi perubahan sosial ekonomi yang mereka rasakan diantaranya yaitu pada saat pandemi atau covid19 karena di saat itu rata-rata penjualan menurun drastis karena tidak adanya pelanggan yang berkunjung untuk melakukan ibadah di Klenteng tersebut. Dan rata-rata dari hasil penjualan pedagang tersebut kebanyakan konsumen yang berbelanja merupakan masyarakat yang berada di lingkungan sekitar melainkan bukan wisatawan. Data ini kami dapatkan dari salah satu Pedagang Kue yang bertepatan di samping Klenteng itu sendiri.

Penulis, Mahasiswa Jurusan Antropologi Sosial Universitas Andalas Padang

(***)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan

Adsense

×
Berita Terbaru Update