Sastri Andiko Lepas Pacu Itik di Nagari Sungai Kamuyang

Sastri Andiko Lepas Pacu Itiak di Nagari Sungai Kamuyang
Sastri Andiko Lepas Pacu Itiak di Nagari Sungai Kamuyang. (f/yusra akbar)

Luhak, Mjnews.id – Puluhan ekor itik terbang lurus di atas udara. Lalu mendarat pada tempat yang disebut sebagai garis mati pacu itik. Tua-muda, pria dan wanita, bersorak menyaksikannya. Mereka riang bukan kepalang. Sayup-sayup, terdengar, seorang lelaki berteriak memakai toa pengeras suara.

Lomba tersebut bertempat di gelanggang Rogeh Nagari Sungai Kamuyang, Kecamatan Luhak, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Sabtu (08/10/2022).

ADVERTISEMENT

1672718317 zd2LclJzIi3V8sEfHHWPFagJbbGo8jsG

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sastri Andiko Datuak Putiah kepada wartawan mengatakan, pacu itik ini adalah merupakan tradisi yang sudah ada di Luak Limopuluah (sebutan lain untuk Payakumbuh dan Limapuluh Kota).

Baca Juga  Admar Anwar Sandang Gelar Datuak Tan Panghulu Suku Piliang Pagaruyung

“Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu,” kata Sastri Andiko yang juga didampingi oleh Wali Nagari Sungai Kamuyang, lIsral serta Ketua Gelanggang Rogeh Alfuadi.

Dikatakan Sastri Andiko,sisi lain yang menarik dari tradisi pacu itiak di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota adalah kearifan para pemilik itik pacuan. Menurut Sastri, hampir seluruh pemilik itik pacuan, mengerti dengan  ciri-ciri itik yang jago terbang.

Biasanya, itik jago terbang itu punya gigi berjumlah ganjil. Kalau tidak 5, bisa 7 atau 9 buah. Kemudian, itik jago terbang punya warna kaki yang sama dengan warna paruhnya. Selain itu, bisa pula dilihat dari sisiak muko (sirip di kaki depan itik).

Baca Juga  IPKH Jabodetabek Salurkan Bantuan Kepada Korban Kebakaran di Tanjung Pati

“Kalau sisiak muko itik pecah, biasanya itik tersebut pandai terbang. Prediksi ini jarang meleset,” ujar politisi Demokrat  itu.

Sastri Andiko juga menyebut, pacu itiak ini tidak sekedar hiburan yang asyik ditonton. Tapi merupakan tradisi kaya filosofi. Dari sayap itik pacuan, tersimpan nilai kejujuran. Dari penontonnya, terpancar kesederhanaan. Dari peternak itik, terkandung disiplin, ketekunan, dan kebersihan,” tutupnya.

(Yud)