Setuju Batas Usia Capres Dihapus, Rian Ernest PSI: Demokrasi Adalah Partisipasi Bukan Limitasi
×

Adsense

Adsense Mobile

Setuju Batas Usia Capres Dihapus, Rian Ernest PSI: Demokrasi Adalah Partisipasi Bukan Limitasi

Rabu, 26 Oktober 2022 | 20.30 WIB Last Updated 2022-10-26T13:31:58Z

Advertisement

Advertisement

Rian Ernest PSI
Rian Ernest PSI dalam diskusi dengan tajuk "Muda Memimpin Menuju 2024 Bincang Ulang Presidential Treshold dan Batas Minimal Usia Capres-Cawapres". 

Jakarta, Mjnews.id - Sejumlah pemuda menggelar diskusi dengan tajuk "Muda Memimpin Menuju 2024 Bincang Ulang Presidential Treshold dan Batas Minimal Usia Capres-Cawapres". 

Diskusi tersebut digelar pada Rabu, 26 Oktober 2022, di Kopitok Kemang, Jakarta Selatan. 

Diskusi tersebut dihadiri oleh Pengamat Politik Refly Harun, Politisi PSI Rian Ernest, Vlogger Muda Cania Citta, dan politisi kocak Arief Poyuono. 

Menurut Dinno Ardiansyah CEO Centenialz, diskusi ini dalam rangka memfasilitasi keresahan kaum muda yang selama ini merasa hanya dijadikan vote getter oleh para politisi tua yang established. 

"Selama ini, kata muda dan milenial dijadikan jargon dan komoditas, tapi keberpihakan sejatinya, jauh panggang dari api. Katanya kita pro anak muda, tapi yang boleh jadi pemimpin, harus usia 40 dulu. Apakah ini bukan hipokrit?", tandasnya. 

Mantan Presiden BEM Trisaksi tersebut juga menyampaikan bahwa ambang batas 20 persen dan batas minimal usia presiden itu anti progresifitas. "Itu jelas nggak pro kaum muda, dan menutup ruang para puteri bangsa muda yang potensial untuk manggung sebagai pemimpin negeri", terangnya. 

Senada dengan hal tersebut, Politisi PSI Rian Ernest mengatakan bahwa baik soal Presidential Treshold dan Batas Usia Minimal Presiden itu seperti pagar. "Kita pernah berjuang menggugat keduanya. Tapi MK selalu bilang ini Open Legal Policy, dilempar lagi bolanya ke DPR", terangnya. 

Padahal, ia mengatakan bahwa kita semua yang datang dengan semangat alternatif, pasti nggak setuju dengan pembatasan semacam ini. Karena inti dari demokrasi adalah partisipasi, bukan limitasi. "Kita percaya suara rakyat suara Tuhan. Vox Populi Vox Dei. Tapi berapa banyak suara rakyat terbakar gara gara aturan pembatasan", tandasnya. 

Lalu, ditanya soal pembatasan usia capres dan cawapres, ia sepakat perlu ditinjau ulang. "Seseorang bisa melakukan perbuatan hukum kan dari usia 21 yaaa. Lalu, kita perlu melihat pertimbangan psikis juga. Jadi yaa kira kira di usia 25 atau 27 cocok laaah", jawabnya.

(eki)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan

Adsense

×
Berita Terbaru Update