Urgensi Pentingnya Pemahaman Kesehatan Mental bagi Masyarakat
×

Adsense

Adsense Mobile

Urgensi Pentingnya Pemahaman Kesehatan Mental bagi Masyarakat

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 12.00 WIB Last Updated 2022-10-22T05:34:16Z

Advertisement

Advertisement

Ilustrasi Kesehatan Mental
Ilustrasi.

Oleh: Salsabila Humaira Andissa

Mjnews.id - Pada awal bulan Oktober 2022 ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan sebuah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh salah seorang mahasiswa dari salah satu universitas ternama di Indonesia. Diketahui korban berinisial TSR, berusia 18 tahun yang merupakan mahasiswa FISIPOL di Universitas Gadjah Mada. Korban ditemukan meninggal dunia setelah nekat melompat dari lantai 11 salah satu hotel di Sleman, Yogyakarta.

Berdasarkan hasil olah TKP oleh Pihak Kepolisian. Korban diduga menderita gangguan psikologi, setelah ditemukan sebuah surat keterangan psikolog dari rumah sakit. Sebelum melakukan bunuh diri, TGS dikenal sebagai anak yang ceria dan aktif dalam berorganisasi, sehingga kabar kematiannya sangat mengejutkan.

Kasus ini bahkan sempat viral beberapa waktu lalu, namun sayangnya masih banyak masyarakat Indonesia yang menyepelekan kasus bunuh diri ini. Beberapa komentar menyatakan ketidakpedulian dan berbalik menyalahkan korban akan kurangnya rasa bersyukur. Seseorang yang memiliki beban mental yang berat tidak seharusnya harus di Justifikasi. Karena seseorang dengan permasalahan dalam dirinya, membutuhkan rangkulan dari orang sekitarnya.

Kasus tersebut menyadarkan kita bahwa gangguan psikologi atau kesehatan mental merupakan hal yang tidak bisa dianggap sepele. Di indonesia sendiri kesadaran akan pentingnya kesehatan mental masih terbilang rendah. Gangguan mental dapat menyerang siapapun tanpa pandang umur. Korban diketahui menderita gangguan mental depresi. Depresi merupakan kondisi dimana suasana hati dan pikiran seseorang mengalami peningkatan atau penurunan secara drastis yang memberikan dampak negatif bagi orang yang depresi.

Menurut data Statistik Potensi Desa Indonesia tercatat pada tahun 2021 lalu telah terjadi 5.787 korban bunuh diri maupun percobaan bunuh diri. Sedangkan pada 2020 lalu, Kepolisian Republik Indonesia melaporkan 671 kasus yang merupakan kematian akibat bunuh diri. Tentunya ini merupakan data yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini masih banyak menjadikan bunuh diri sebagai pelarian dari segala permasalahan yang ia alami semasa hidup. Dan tidak jarang kasus bunuh diri tersebut terjadi pada seseorang yang masih memiliki usia yang cukup muda, yaitu remaja.

Para Remaja akan memasuki sebuah fase dimana ia berusaha untuk mencari jati dirinya. Tentu saja usia remaja adalah usia yang sangat rentan dengan dampak negatif yang dialami dalam lingkungannya. Seperti tuntutan yang orang tua, tekanan akademik, takut, sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan yang tentunya akan menimbulkan rasa lelah berkepanjangan.

Namun banyak remaja saat ini lebih memilih diam dan tidak bercerita apa yang ia alami kepada orang lain, membuat remaja terdorong untuk mengakhiri kehidupannya.

Don’t Judge The Book by cover. Apa yang terlihat di luar terkadang akan berbeda dengan apa yang dirasakan individu tersebut.

Bukan hal yang mudah mendeteksi masalah kesehatan mental pada seseorang. Seseorang dengan permasalahan mental cenderung menyembunyikan dirinya dan memasang topeng seolah baik-baik saja. Karena takut akan penilaian orang lain terhadap permasalahan yang ia alami karena masyarakat pun kerap menyepelekan ciri-ciri seseorang yang membutuhkan kesehatan mental yang baik. Seseorang yang memiliki beban mental yang berat merasa mereka tidak memiliki seseorang yang dapat dijadikan tempat untuk berkeluh kesah.

Mental Health bukanlah sekedar omong kosong belaka. Karena pada saat ini dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat akan memberikan kemudahan bersosialisasi dan tentunya para remaja sebagai kelompok usia yang dominan dalam masyarakat digital saat ini tentunya berpengaruh besar bagi para remaja itu sendiri. Karena para remaja saat ini banyak menghabiskan kehidupannya di dunia maya.

Tentunya di media sosial yang di dalamnya terdapat kemudahan akses dari seluruh manusia di Dunia akan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia harapkan layaknya kehidupan sosial di dunia nyata seperti halnya perundungan (Cyber Bullying), komentar yang tidak mendukung, komentar yang merendahkan sehingga ia berusaha untuk menunjukan keadaan yang baik-baik saja di media sosial dengan tujuan mendapatkan pengakuan atau validasi dan atensi dari pengguna media sosial lainnya. Dimana kemungkinan ia tidak mendapatkan hal tersebut di kehidupan sosial yang nyata.

Menurut divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia pada tahun 2021 lalu, mencoba memetakan keresahan mental pada remaja transisi usia 16-24 tahun dimana 95 persen menyatakan mereka pernah mengalami gejala kecemasan (anxiety) dan 88 persen menyatakan mengalami gejala depresi dan 94 persen responden menyatakan tidak tahu cara mengatasi stres yang mereka alami. Dari data tersebut bisa kita simpulkan bahwa para remaja membutuhkan edukasi yang lebih dalam mengatasi permasalahan mental berikut.

Edukasi tentang kesehatan mental seharusnya didapatkan dari orang-orang yang ahli di bidangnya misalnya psikolog dan psikiater, namun masih melekatnya stigma negatif di masyarakat Indonesia yang menganggap orang yang depresi dengan permasalahannya adalah orang gila dan berobat psikolog adalah hal yang memalukan membuat para remaja takut atau bahkan tidak memiliki tempat untuk mengadu.

Tentunya Kesehatan mental berbeda dengan kesehatan fisik yang dapat diobati dengan berolahraga dan pola hidup yang baik. Dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mengobati gangguan mental yang dimiliki seseorang. Terdapat beberapa gejala umum yang memicu gangguan kesehatan mental seperti stress berkepanjangan, mengalami peristiwa traumatis, kekerasan atau pelecehan, genetik atau keturunan.

Sangat penting menanamkan kesadaran pentingnya kesehatan mental pada masyarakat Indonesia. Tingginya kasus bunuh diri dimana kasus tersebut dialami oleh orang memiliki latar belakang permasalahan mental yang enggan untuk menceritakan orang lain. Seharusnya menjadi pelajaran bagi masyarakat agar lebih peduli terhadap permasalahan kesehatan mental.

Urgensi pentingnya kesehatan mental saat ini harus digalakkan karena seseorang yang mengalami permasalahan kesehatan mental perlu untuk dirangkul bukan dijustifikasi. Karena mereka akan semakin terbuka jika mereka berada di tempat yang memberikan dukungan yang positif.

Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas, Limau Manis, Kota Padang.

(***)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan

Adsense

×
Berita Terbaru Update