Tiga Negara Jadi Penyumbang Terbesar Surplus Neraca Perdagangan Oktober 2022, Ini Dia
×

Adsense

Adsense Mobile

Tiga Negara Jadi Penyumbang Terbesar Surplus Neraca Perdagangan Oktober 2022, Ini Dia

Kamis, 17 November 2022 | 18.00 WIB Last Updated 2022-11-17T12:12:10Z

Advertisement

Advertisement

Zulkifli Hasan
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan. (f/kemendag)

Jakarta, Mjnews.id - Tiga negara mitra dagang menjadi penyumbang terbesar surplus perdagangan Oktober 2022, yaitu India, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan Amerika Serikat (AS). Negara mitra dagang ini membuat Indonesia masih mencatatkan kinerja ekspor positif serta menorehkan surplus neraca perdagangan di tengah perlambatan ekonomi global dan ancaman resesi global. Hal ini terlihat dari neraca perdagangan Oktober 2022 yang surplus USD 5,67 miliar. Surplus Oktober 2022 pun menjadi capaian surplus bulanan berturut-turut ke-30 sejak Mei 2020.

“Surplus perdagangan Oktober 2022 disumbang surplus perdagangan nonmigas USD 7,66 miliar dan defisit perdagangan migas USD 1,99 miliar. Surplus ini menjadi capaian surplus bulanan ke-30 secara berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Kamis (17/11/2022).

Mendag Zulkifli Hasan melanjutkan, kinerja positif pada Oktober 2022 tersebut didorong oleh surplus dengan beberapa negara mitra dagang. India menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai surplus USD 1,61 miliar, diikuti RRT dengan surplus sebesar USD 1,20 miliar, dan AS dengan nilai surplus USD 1,15 miliar.

Sementara itu, jika melihat secara kumulatif, neraca perdagangan Januari–Oktober 2022 pun mencatatkan surplus USD 45,52 miliar. Surplus perdagangan Januari–Oktober 2022 ini ditopang surplus nonmigas sebesar USD 66,41 miliar serta defisit migas sebesar USD 20,89 miliar. Mendag Zulkifli Hasan menyebut, surplus perdagangan Januari–Oktober 2022 telah melampaui kinerja perdagangan dua tahun belakangan.

“Surplus perdagangan Januari–Oktober 2022 telah melampaui capaian sepanjang tahun 2021 yang sebesar USD 35,42 miliar dan dua kali lipat capaian sepanjang tahun 2020 yang sebesar USD 21,62 miliar. Kondisi ini merupakan hal yang menggembirakan bagi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi dan ancaman resesi ekonomi global. Kita harap surplus perdagangan Indonesia tahun ini dapat berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal bidang ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Mendag Zulkifli Hasan.

Ekspor Oktober 2022 Masih Menunjukkan Kenaikan
Jika menilik dari sisi ekspor, nilai total ekspor Indonesia pada Oktober 2022 mencapai USD 24,81 miliar. Nilai tersebut meningkat 0,13 persen dibanding September 2022 (MoM) dan tumbuh 12,30 persen dibanding Oktober 2021 (YoY). Ekspor Oktober 222 didorong peningkatan ekspor migas sebesar 4,93 persen MoM, sementara ekspor nonmigas turun 0,14 persen MoM.

Mendag Zulkifli Hasan menegaskan, ekspor Indonesia pada Oktober 2022 masih meningkat bahkan saat kinerja ekspor beberapa negara mitra turun. Berdasarkan Trading Economics, beberapa negara mitra dagang Indonesia yang kinerja ekspornya melemah pada Oktober 2022 antara lain RRT (turun 7,56 persen MoM), Brasil (turun 5,70 persen MoM), Korea Selatan (turun 8,64 persen MoM), Pakistan (turun 7,12 persen MoM), dan Turki (turun 5,84 persen MoM).

Beberapa produk utama ekspor nonmigas Indonesia dengan kenaikan tertinggi pada Oktober 2022 dibanding September 2022 (MoM) adalah bahan kimia anorganik (HS 28) yang naik 35,72 persen, lemak dan minyak nabati (HS 15) naik 14,38 persen, besi dan baja (HS 72) naik 7,79 persen, bahan bakar mineral (HS 27) naik 5,59 persen, serta ikan dan udang (HS 03) naik 4,93 persen. Peningkatan ekspor produk-produk tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan permintaan di pasar tujuan ekspor Indonesia.

Di sisi lain, beberapa produk utama ekspor nonmigas yang berkontraksi pada Oktober 2022 dibanding September 2022 (MoM) antara lain bijih, terak, dan abu logam (HS 26) yang turun 38,57 persen; pulp dari kayu (HS 47) turun 20,58 persen; serat stapel buatan (HS 55) turun 14,64 persen; kayu dan barang dari kayu (HS 44) turun 14,53 persen; serta timah dan barang daripadanya (HS 80) turun 10,39 persen. Penurunan ekspor nonmigas Indonesia diakibatkan melandainya harga beberapa komoditas unggulan Indonesia seperti bijih besi, tembaga, dan timah. Penurunan ekspor nonmigas juga diakibatkan adanya penurunan permintaan beberapa produk manufaktur asal Indonesia seperti mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85), kendaraan dan bagiannya (HS 87), berbagai produk kimia (HS 38), alas kaki (HS 64), serta mesin dan peralatan mekanis (HS 84).

Mendag Zulkifli Hasan menyampaikan, RRT, India, dan AS menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia pada Oktober 2022 dengan total nilai ekspor ketiganya mencapai USD 10,44 miliar dan kontribusi sebesar 44,52 persen terhadap ekspor nonmigas nasional. Beberapa pasar utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia yang tumbuh tertinggi pada Oktober 2022 (MoM) adalah Pakistan dengan kenaikan 83,66 persen, Myanmar (67,69 persen), Spanyol (43,68 persen), Turki (42,52 persen), dan Mesir (40,55 persen).

“Ditinjau dari kawasan, pertumbuhan ekspor nonmigas terbesar terjadi ke kawasan Afrika Timur yang tumbuh 39,45 persen, Afrika Selatan 37,68 persen, dan Afrika Utara 36,76 persen MoM. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara berkembang di Benua Afrika masih potensial untuk dijadikan negara tujuan diversifikasi ekspor nonmigas Indonesia ke depannya,” kata Mendag.

Secara kumulatif, total ekspor selama periode Januari–Oktober 2022 tercatat mencapai USD 244,14 miliar atau meningkat 30,97 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (YoY). Peningkatan ekspor tersebut ditopang oleh penguatan ekspor sektor nonmigas yang naik 30,61 persen (YoY) menjadi USD 230,62 miliar dan ekspor sektor migas yang naik 37,40 persen (YoY) menjadi sebesar 13,52 miliar.

Impor Oktober 2022 Melemah Dibanding September 2022
Total impor Indonesia bulan Oktober 2022 mencapai USD 19,14 miliar. Nilai ini relatif melemah 3,40 persen dibanding Agustus 2022 (MoM), namun meningkat 17,44 persen bila dibandingkan Oktober 2021 (YoY). “Penurunan kinerja impor pada Oktober 2022 dipicu menurunnya impor nonmigas sebesar 3,73 persen (MoM) dan menurunnya impor migas sebesar 1,81 persen (MoM),” jelas Mendag.

Mendag Zulkifli Hasan mengungkapkan, jika berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong dan barang modal melandai masing-masing sebesar 3,99 persen dan 7,22 persen MoM. Penurunan impor bahan baku/penolong dan barang modal di Oktober ini juga tecermin dari penurunan Standard and Poor’s (S&P) Global Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor industri manufaktur di Indonesia pada Oktober 2022 di level 51,8 atau turun dari September 2022 di level 53,7. Di sisi lain, impor barang konsumsi justru meningkat 10,13 persen (MoM) pada Oktober 2022. Kenaikan impor barang konsumsi ini menandai pulihnya ekonomi dalam negeri dan membaiknya permintaan domestik sebagaimana tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2022 sebesar 120,3 yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 117,2.

“Penurunan impor bahan baku dan barang modal pada dua bulan terakhir ini perlu diwaspadai, mengingat impor bahan baku/penolong dan barang modal mempengaruhi aktivitas industri, gerak ekonomi, dan investasi di masa depan,” ujar Mendag.

Beberapa bahan baku/penolong yang impornya turun adalah bahan bakar mineral, logam mulia dan perhiasan/permata, gula dan kembang gula, serta ampas/sisa industri makanan. Sedangkan beberapa komoditas barang modal yang berkontraksi terdalam adalah laptop, alat berat, barang-barang lain pada kelompok mesin dan peralatan mekanis (HS 84), serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85). Di sisi lain, barang konsumsi yang impornya meningkat signifikan antara lain vaksin, bawang putih, bahan bakar kendaraan bermesin diesel, minyak medium lainnya dan olahannya, tali pengaman bukan untuk keperluan industri, serta buah-buahan seperti anggur, kelengkeng, dan apel.

Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia didominasi komoditas dari RRT, Jepang, dan Korea Selatan dengan total pangsa 48,03 persen dari total impor nonmigas Oktober 2022. Negara asal impor dengan penurunan impor nonmigas terdalam pada Oktober 2022 adalah Argentina yang turun 37,02 persen, Arab Saudi (turun 33,78 persen), Hongkong (turun 25,75 persen), India (turun 21,02 persen), dan Singapura (turun 17,01 persen MoM).

Lebih lanjut Mendag Zulkifli Hasan menyampaikan, secara kumulatif, total impor periode Januari–Oktober 2022 mencapai USD 198,62 miliar atau naik 27,72 persen dari Januari–Oktober 2021 (YoY). Pertumbuhan impor tersebut dipicu lonjakan impor migas sebesar 79,92 persen dan kenaikan impor nonmigas sebesar 20,40 persen YoY.

(eki)

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Iklan Kiri Kanan

Adsense

×
Berita Terbaru Update