Bicarakan Kerukunan dan Masjid, Gus Hilmy Sampaikan Beberapa Evaluasi

MUI Yogyakarta adakan seminar dan lokakarya
MUI DIY melalui Komisi Ukhuwah dan Kerukunan, menyelenggarakan seminar dan lokakarya di Gedung Perwakilan DPD RI Yogyakarta. (f/dpd)

YOGYAKARTA, Mjnews.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) D.I. Yogyakarta menilai bahwa kerukunan umat harus terus-menerus dijaga. Diibaratkan kecantikan yang tidak hanya sekali dipoles, melainkan harus terus-menerus dijaga agar kecantikan tetap awet. Oleh sebab itu, MUI DIY melalui Komisi Ukhuwah dan Kerukunan, menyelenggarakan seminar dan lokakarya dengan tema “Memayu Hayuning Sasama dalam Menjaga Harmoni Umat Berbasis Masjid”.

“Kita di sini membicarakan tentang kerukunan, memayu hayuning sasama. Hayu itu tidak dilakukan dalam sekali waktu, melainkan dilaksanakan terus-menerus. Hayu itu keadaan yang menyenangkan, penuh bahagia, cantik, dan lain sebagainya. Yang cantik dijaga dengan cara terus-menerus mempercantik. Demikian pula dengan rukun, tidak bisa hanya sekali diusahakan, tetapi harus diupayakan terus-menerus, diawasi, dan dirawat,” kata ketua MUI DIY Prof. Dr. Machasin, M.A. menjelaskan tema seminar pagi itu di Aula Gedung Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Provinsi D.I. Yogyakarta pada Sabtu (17/12/2022).

Merespon tema tersebut, selaku pembicara, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. menyinggung tentang pengelolaan masjid di masyarakat kita. Menurutnya, perlu adanya beberapa evaluasi. Dalam hal ini, Kementerian Agama diminta untuk memberikan edukasi yang cukup.

“Thaharah harus menjadi fokus utama. Kita meminta Kementerian Agama tidak hanya fokus pada arah kiblat, tetapi juga diperhatikan kesucian dan kebersihan masjid. Masih ada masyarakat kita yang semangat membangun masjid, tetapi tidak memperhatikan tentang kesuciannya. Demikian juga masjid-masjid di rest area-rest area tol. Kita membutuhkan perhatian dan pengawasan Kementerian Agama dalam menjamin pelaksanaan ibadah,” kata anggota Komite I DPD RI tersebut.

Evaluasi lainnya, menurut pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut adalah terkait kenyamanan. Gus Hilmy mendorong agar bangunan masjid mempertimbangkan sirkulasi udara sehingga tidak mengandalkan AC. Ia mengusulkan konsep go green, sebagaimana ditunjukkan oleh arsitek masa lalu ketika membuat Masjid Demak atau masjid-masjid Kagungan Dalem Keraton Ngayogyakarta, yang tetap adem meski tanpa AC. Semestinya arsitek modern bisa lebih canggih.

Baca Juga  Senator Emma Yohanna Ikut Aksi Peduli Pelajar Daerah Bencana Gempa

“Selanjutnya adalah kita membutuhkan masjid yang ramah. Ramah untuk anak, perempuan, orang tua, dan juga penyandang disabilitas. Mereka kita hitung sebagai jamaah tetapi kita sering tidak memenuhi hak-hak mereka. Maka perlu dipertimbangkan untuk akses dan fasilitasnya, baik pintu masuk, tempat wudhu, kamar mandi, maupun lainnya,” ujar pria yang juga Ketua Komisi Ukhuwah dan Kerukunan MUI DIY dan anggota MUI Pusat tersebut.