Kapolres Yapen: Pengungsian Warga di Kaonda Disrik Windesi Settingan ULMWP

AKBP Herzoni Saragih
Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Herzoni Saragih. (f/arsyad manan)

Yapen, Mjnews.id – Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Herzoni Saragih membantah pernyataan dari Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) terkait aksi intimidasi dan pengerusakan rumah warga di kampung Kaonda oleh aparat gabungan, beberapa waktu lalu.

Menurutnya informasi yang disampaikan pihak ULMWP melalui media sosial hanyalah sensasional yang mencari perhatian publik dan mengorbankan masyarakat.

ADVERTISEMENT

1672718317 zd2LclJzIi3V8sEfHHWPFagJbbGo8jsG

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kita sudah tahu apa tujuan dari kelompok itu. Mereka selalu membuat isu-isu tidak benar untuk mencari perhatian,” terangnya.

Dirinya pun membeberkan aksi pengungsi puluhan warga di Kampung Kaonda hanyalah settingan ULMWP.

Baca Juga  Anak Buah Tewas, Komandan Kompi Brimob Wamena Dipecat

“Kami sudah lakukan kroscek langsung, ternyata warga tersebut diancam oleh pihak KKB untuk membuat stegmen mengungsi dan menjadi korban penyisiran aparat gabungan,” tegasnya.

Kapolres menambahkan dirinya dan forkopimda telah bertemu secara langsung dengan warga tersebut dan memberikan bantuan sembako jelang Natal. Bahkan warga korban intimidasi KKB itu, kini telah kembali kerumahnya masing-masing sejak Minggu kemarin (11/12/2022).

“Masyarakat sudah kembali dan masyarakat juga menyampaikan terima kasih atas kedatangan kami aparat di Kampung Kaonda,” terangnya.

Sementara itu Ketua Jemaat Messias Kaonda, Hermanus Rumaseue menyampaikan permohonan maaf atas statementnya yang viral terkait aksi pengungsian beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Apel Terakhir AKBP Piter di Polres Kebumen: Jangan Sakiti Masyarakat!

Kata Hermanus, video pengungsian dan statement itu karena dirinya dipaksa dan diancam oleh KKB.

“Saya minta maaf, video viral itu tidak benar. Statement saya terkait penyisiran, aksi penganiayaan, pengerusakan rumah itu semua tidak benar. Saya dipaksa untuk mengadu domba masyarakat dengan aparat karena saya diancam,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya warga kampung Kaonda Distrik Windesi dikabarkan mengungsi ke dalam hutan akibat penyisiran aparat gabungan pada 2 Desember 2022 lalu.

(asm)