PWI Bukittinggi dan Pemprov Sumbar Gelar Seminar Hari Nasional Bela Negara

Seminar Hari Nasional Bela Negara
PWI Bukittinggi dan Pemprov Sumbar Gelar Seminar Hari Nasional Bela Negara

BUKITTINGGI, Mjnews.id – Sebanyak 200 orang majelis guru sejarah dan pelajar se Sumatera Barat (Sumbar) mengikuti seminar Nasional Hari Bela Negara dalam rangka memperingati PDRI dengan tema “Menolak Lupa Peran Bukittinggi dalam Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)”.

Seminar ini difasilitasi oleh Pemprov Sumbar dilaksanakan di Gedung Istana Bung Hatta pada Minggu 18 Desember 2022.

ADVERTISEMENT

1672718317 zd2LclJzIi3V8sEfHHWPFagJbbGo8jsG

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam seminar hadir Gubernur Sumatra Barat yang diwakili Kepala Dinas Kesbangpol Sumbar, Jefrinal Arifin, Sekda Bukittinggi Martiaswanto, PLT ketua PWI Sumatra Barat yang juga Wakil Sekjen PWI pusat Suprapto, dan ketua PWI Kota Bukittinggi H. Anasrul serta ketua pelaksana seminar Yusrizal Karana.

Baca Juga  Terkena Mesin Rumput, Ular Pyton 3 Meter Ditemukan Warga Garegeh Bukittinggi

Seminar ini menghadirkan Ahli Sejarah kondang Dr. Anhar Gonggong, Prof. Dr. Phil Gusti Asnan dengan Moderator Drs. H.M. Khudri, M.Pd dan diikuti sebanyak 200 lebih guru sejarah se-Sumatra Barat.
Ketua pelaksana Yusrizal Karana dalam sambutannya mengatakan, Peserta sebanyak 220 Peserta. Yaitu Guru sejarah dan siswa SMA se-Sumatra Barat.

“Tujuan dilaksanakan seminar ini mengingatkan kita khususnya kaum milenial bagaimana peran Bukittinggi Dalam Pemerintahan Darurat Republik Indonesia” jelas ketua pelaksana.

Sementara Gubernur dalam sambutannya yang dibacakan Jefrinal Arifin menyampaikan semangat bela negara dalam menjawab tantangan global membawa kita untuk selalu menjaga Pancasila sebagai ideologi negara, menjaga tetap tegak dan utuhnya NKRI memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, dan meningkatkan ketahanan budaya. “Hari Bela Negara lahir dari sejarahnya PDRI,” jelasnya.

Baca Juga  Wako Bukittinggi Kesal Lihat Tumpukan Tanah Sisa Galian Drainase Ditumpuk di Depan Pertokoan

Selanjutnya ahli sejarah Dr. Anhar Gonggong menyampaikan Ibukota Republik Indonesia (RI) yaitu Yogyakarta, 19 Desember 1948 diserang bombardir oleh pesawat-pesawat tempur kolonialis Belanda. Para pemimpin, termasuk Presiden Republik Ir. Soekarno dan Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta ditangkap di istana.