Kepada awak media, Presiden Mahasiswa Universitas Fort de Kock, Najmi dan didampingi Pemuda Bukittinggi, Taufik menyampaikan aksi demo yang dilakukan guna menyampaikan tuntutan kepada Anggota DPRD terhadap sengketa tanah yang terjadi di Universitas Fort De Kock.
“Kami meminta sertifikat tanah yang tidak ada jalan tengahnya antara Pemerintah Kota dengan Yayasan, di mana dari segi hukum Yayasan Universitas Fort de Kock sudah menang, namun tidak ada itikad baik untuk menyerahkan sertifikat tersebut,” jelas Najmi.
Selanjutnya Taufik menambahkan tuntutan selanjutnya mengenai salah seorang anggota DPRD kota Bukittinggi yang berkata kasar di media sosial yang juga telah dilakukan aksi demo 24 Agustus 2024 lalu, namun di sini belum ada tindakan tegas yang diberikan DPRD kepada yang bersangkutan.
“Kami meminta sanksi tegas untuk Zulkhairahmi dan permintaan maaf secara langsung tanpa ada perantara,” ujar Taufik.
Menanggapi aksi demo tersebut, Sekretaris DPRD Bukittinggi, Melwizardi menyampaikan sejumlah anggota Dewan di DPRD Bukittinggi sedang tidak berada di tempat, karena sedang mengurus persyaratan sebelum dilantik secara definitif.
Untuk pertemuan selanjutnya, Melwizardi akan memfasilitasi Mahasiswa dengan menghadirkan Ketua dan anggota DPRD Bukittinggi periode 2024- 2029, dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama.
Aksi demo mahasiswa di bawah pengawalan ketat aparat Kepolisian dari Polresta Bukittinggi tersebut awalnya berlangsung tertib, sontak ricuh setelah segerombolan pemuda melakukan penyerangan.
Waka Polresta Bukittinggi, AKBP Apri Wibowo mengatakan, penyerangan yang dilakukan sejumlah pemuda tak dikenal itu masih dalam penyidikan.
“Meski aksi penyerangan yang dilakukan sekelompok orang tak dikenal itu tidak menelan korban, namun petugas Polresta Bukittinggi, kini tengah mendalami motif penyerangan tersebut,” ujar AKBP Apri Wibowo
(Aii)
