BeritaNasional

KPAI Apresasi 4 Menteri Kolaborasi Majukan Perlindungan Anak Indonesia

75
Jasra Putra
Jasra Putra. (f/ist)

“Saya kira ini langkah yang sangat ditunggu kita semua, setiap orang tua, setiap anak yang membutuhkan akses layanan kesehatan jiwa. Kita sangat optimis menyambut generasi emas Indonesia, kalau seperti ini,” tegas Jasra.

KPAI juga apresiasi launching program KICAU Kemendikdasmen dalam rangka mengembalikan lagu-lagu anak yang sesuai dengan usia, pemahaman dan tumbuh-kembangnya.

ADVERTISEMENT

“Saya kira semua program para Menteri dalam rangka menghadirkan lingkungan tumbuh kembang anak yang lebih layak. Agar jiwa mereka tidak digerogoti Industri Candu seperti sekarang. Karena apapun yang akan disampaikan negara dalam memajukan perlindungan anak, akan patah ketika Industri Candu masuk ke diri anak melalui keluarga, sekolah dan lingkungan,” kata Jasra Putra.

Revolusi Pemikiran dalam Memahami Jiwa di Mata Anak-anak

Dunia pendidikan kita sebenarnya sedang menghadapi situasi yang tidak biasa, terutama dalam mengenal jiwa anak. Karena ini jadi hambatan terbesar anak dalam mendapatkan pendidikan di saat ini.

Dunia sedang menghadapi fenomena invisible disabilitas, dengan banyaknya fenomena anak mengalami gangguan perilaku yang tersembunyi, sehingga terjadi gangguan emosi, telat bicara, slowrener, dan lain-lain.

Gizi Fisik berkembang sangat pesat, tetapi dampaknya menggerogoti jiwa anak anak kita. Dimana gizi jiwa terus tidak terpenuhi dan merosot jauh. Akibatnya modal kesehatan anak sangat rapuh. Sehingga program dari 4 Kementerian yang bekerjasama dengan masyarakat tersebut berharap bertindak segera dan cepat untuk menangani.

Karena selama ini, anak terlanjur terpapar bahwa isu atau soal kesehatan jiwa diidentikkan dengan orang gila, sehingga ada cara pandang yang salah. Soal memahami permasalahan jiwa. Dipanggil guru BK adalah sebuah kutukan, sehingga prasyarat mengenal jiwa adalah sesuatu yang indah jadi hilang.

Diksi dan narasi yang menuju kesehatan jiwa, sudah terlanjur dinarasikan negatif dalam berbagai problematika hidup anak,. Ini yang harus diperbaiki.

Jadi prasyarat sebelum mengenal kenapa gangguan jiwa tidak populer di perkenalkan. Lebih mengajarkan lebih awal dengan trauma jiwa dengan menstigma manusia dengan sebutan sebutan tadi ketika menghadapi masalah jiwa.

“Sehingga anak anak justru akibat itu menjauhi layanan kejiwaan. Tidak mengenal layanan kejiwaan, tidak terbiasa. Akibat takut terstigma dan mendapatkan tekanan ketika mengakses layanan,” kata Jasra.

Exit mobile version