BeritaNasional

KPAI Apresasi 4 Menteri Kolaborasi Majukan Perlindungan Anak Indonesia

75
Jasra Putra
Jasra Putra. (f/ist)

Seharusnya jiwa itu sesuatu yang sangat indah dari dalam dirinya, yang harusnya di jaga dengan mengakses layanan yang benar dan tepat. Justru tidak terjadi. Malah menjadi self harm, anxiety, gangguan emosional, gangguan tidak terkoneksi dengan diri sendiri.

Isu kesehatan jiwa sangat tidak populer atau sangat tidak disukai anak. Ketika diperkenalkan. Ketika terjadi permasalahan jiwa justru pressure lingkungan seperti hidup telah selesai. Orang tua kebingungan, lingkungan kebingungan. Sehingga harus ada revolusi dalam melihat soal isu isu kejiwaan di tengah masyarakat.

ADVERTISEMENT

Kita tidak berharap generasi anak-anak kita dimasa depan ketika sudah siap melahirkan generasi selanjutnya. Justru dengan modal kesehatan jiwa yang rapuh, dan tentunya juga akan melahirkan generasi yang lebih rapuh, menjadi fenomena invisible disabilitas seperti sekarang.

Sehingga keluarga di Indonesia dalam mengantisipasi, menghadapi fenomena yang sudah terjadi, butuh mendapat dukungan yang sangat luas. Masyarakat, orang tua, anak bersama Pemerintah perlu dibiasakan mengenal mitigasi layanan kejiwaan. Mengenalkan budaya baru dengan merawat dan mengenal jiwa itu sangat indah, dan memberi ruang rutin dalam mengasah jiwa dan memberikan akses layanan kesehatan jiwa yang layak. Sebagaimana mandat Undang-Undang Pendidikan dan Layanan Psikologi.

Kita juga membutuhkan program lanjutan dari implementasi Undang Undang Kesehatan Jiwa, Undang Undang Perlindungan Data Pribadi termasuk kebijakan anak di tanah digital yang sedang disiapkan. Yang semuanya berhubungan dalam membangun mitigasi layanan kejiwaan yang layak indah dan sehat.

Sekali lagi jiwa itu sangat indah. Tapi terlanjur sejak dini ditanamkan dengan pemahaman yang salah, sehingga menjaga kesehatan jiwa bukan menjadi kebutuhan penting. Ketika terjadi permasalahan, tidak mau mendekat pada layanan yang tepat, justru direbut Industri Candu yang menyebabkan anak-anak seperti sekarang. Yang berarti tanpa sadar kita membayang bayangi anak untuk trauma, takut mengenal jiwanya sendiri.

“Sehingga ketika terserang jiwa, larinya tidak menuju sehat jiwa, akibat stigma sedari kecil pada layanan layanan kejiwaan dengan identik gila atau hidup sudah selesai. Padahal bukan itu,” pungkas Jasra Putra.

(*)

Exit mobile version