Bahkan, ia mengusulkan adanya aktivitas sederhana di sekolah agar kunjungan siswa tidak sekadar untuk mengambil MBG. Ini bisa menciptakan suasana interaktif dan edukatif.
Sementara itu, untuk anak-anak yang rumahnya jauh atau sulit datang ke sekolah, distribusi MBG bisa tetap difokuskan pada kelompok prioritas seperti ibu hamil, menyusui, dan balita, yang memang menjadi target penting dalam program ini.
“Ke depan, distribusi MBG harus lebih matang. Bila memungkinkan, pembagian MBG saat libur bisa dilakukan di tempat-tempat umum seperti area rekreasi, sehingga anak-anak tetap bisa menikmati gizi seimbang,” pungkasnya.
Ia berharap ini dapat dilakukan dengan perencanaan yang matang dan sinergi lintas sektor untuk mendukung program unggulan Presiden Prabowo ini.
Dengan sosialisasi mekanisme yang jelas dan strategi distribusi yang inovatif, diharapkan program MBG dapat terus berjalan optimal, memastikan bahwa kebutuhan gizi anak-anak Indonesia tidak ikut libur seiring dengan berakhirnya tahun ajaran.
Ini adalah langkah krusial dalam mewujudkan generasi penerus yang sehat dan cerdas.
(*/eki)
