Mjnews.id – Malam yang seharusnya penuh sorak-sorai di Desa Sumberagung, Kabupaten Blitar, berubah menjadi malam penuh kekecewaan. Acara hiburan rakyat yang digelar warga setempat terpaksa dihentikan pihak kepolisian tepat pukul 23.00 WIB, Sabtu malam (9/8), meski jalannya acara belum tuntas dan masih ada 12 peserta yang menunggu giliran tampil.
Suasana semula berjalan lancar dan meriah. Warga dari berbagai RT memenuhi lokasi acara, membawa dukungan untuk perwakilan mereka yang akan tampil. Namun, kegembiraan itu buyar seketika saat petugas kepolisian hadir dan meminta kegiatan segera dihentikan.
Menurut keterangan, pembubaran ini dilakukan karena izin acara yang dikeluarkan hanya berlaku hingga pukul 23.00 WIB. Warga sebenarnya sudah berharap dan berencana agar acara berlangsung hingga pukul 01.00 WIB, mengingat jumlah peserta yang cukup banyak.
Kepala Desa Sumberagung menyampaikan kekecewaannya atas kejadian tersebut. “Jam 11 belum selesai. Polres hadir, akhirnya dihentikan. Masyarakat Sumberagung sangat kecewa, apalagi yang belum berangkat,” ujarnya.
Yang membuat situasi semakin memanas, acara ini didanai dari hasil urunan warga di setiap RT. Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk kebersamaan dan kebanggaan desa. “Kami sudah iuran, persiapan lama, latihan, tapi malam ini dipotong begitu saja,” ungkap salah seorang warga dengan nada kesal.
Sebelum dihentikan, sempat terjadi upaya negosiasi antara pihak panitia dan kepolisian. Panitia meminta kelonggaran waktu agar acara bisa dilanjutkan setidaknya sampai seluruh peserta tampil. Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah. “Ada nego supaya dilanjut, tapi jawabannya tidak boleh,” jelas Kepala Desa.
Warga yang belum sempat tampil, terutama 12 peserta terakhir, mengaku kecewa berat. Banyak yang sudah mempersiapkan penampilan mereka selama berminggu-minggu, bahkan ada yang mendatangkan dukungan keluarga dari luar daerah.
Kekecewaan ini meninggalkan pertanyaan besar di benak warga: apakah aturan izin harus benar-benar dijalankan tanpa toleransi, ataukah aparat seharusnya memberikan kelonggaran demi menghargai jerih payah dan partisipasi masyarakat. Bagi warga Sumberagung, malam itu akan selalu diingat sebagai momen ketika semangat gotong royong mereka terhenti di tengah jalan, bukan karena kekurangan dukungan, melainkan karena batas waktu yang tak bisa dinegosiasi.
Sampai berita ini ditayangkan belom ada respon dari pihak kepolisian, meskipun sudah dihubungi melalui saluran Whatsapp beberapa kali. (*)
